Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Sang Pelaku



Seorang pria terlihat sedang berkutat di depan laptopnya untuk mengerjakan beberapa pekerjaannya. Sesekali pria itu juga meneguk kopinya yang sudah dia buat beberapa saat yang lalu.


DRTT ...


Ponsel yang masih tergeletak di atas meja kerjanya tiba-tiba saja bergetar. Setelah melihat nama si pemanggil, kini pria berpenampilan super necis itu mulai menggeser tombol hijau, sementara dia mendengarkannya selalu single earpieces


"Halo, Ma. Ada apa?" ucapnya menyapa sang penelpon yang rupanya adalah mamanya.


"Hari ini pulanglah lebih cepat ke apartemenmu! Mama dan papa menunggumu disini! Malam ini kita akan berkunjung ke rumah besar Ryusei untuk meluruskan semuanya dan untuk melamar kembali putri mereka." ucap seorang wanita paruh baya dari seberang line.


"Apa?! Malam ini? Mengapa terburu-buru sekali, Ma?! Aku bahkan belum membeli cincin ataupun hadia lainnya lagi untuk mereka." ucap Reo begitu terkejut.


"Kamu tidak perlu mencemaskan mengenai hal itu, Reo. Mama sudah menyiapkan semuanya. Hubungi Nery dan minta dia juya bersiap untuk nanti malam! Ya sudah, mama akan memeriksa kembali hadiah-hadiah itu terlebih dulu! Sampai jumpa nanti, Sayang! Bye ..." ucap Nami mulai mengakhiri panggilan itu begitu saja.


"Huft ... mama tidak sabaran sekali." celutuk Reo menghela nafas beberapa saat, lalu mengeluarkannya perlahan.


Kini Reo mulai menghubungi Ayaneru, agar wanita yang akan segera dinikahinya itu juga bisa mempersiapkan dirinya untuk nanti malam.


Tak butuh waktu lama untuk menunggu, kini panggilan itu segera diangkat oleh Ayaneru.


"Hallo. Ada apa, Reo?" tanya Ayaneru dari seberang line.


"Neru, papa dan mamaku akan berkunjung ke rumah keluarga besar Ryusei nanti malam untuk meluruskan semua masalah yang telah terjadi selama ini. Dan juga ... untuk melamarmu ..." ucap Reo sedikit memijit keningnya.


"Ap-apa? Mengapa begitu mendadak? Ak-aku ... bahkan belum mempersiapkan apapun. Dan sebenarnya ... hubunganku dengan kedua orang tuaku sedang tidak baik saat ini, Reo." ucap Ayameru dengan jujur, nada bicaranya juga terdengar penuh dengan kepedihan.


"Jangan khawatir, Neru. Kamu tak perlu memikirkan apapun. Kamu hanya perlu mempersiapkan diri saja, nanti aku akan menjemputmu dan kita akan berangkat bersama. Hhm ... oh iya, aku juga akan mengirimkan anak buahku untuk membantumu bersiap dan pergi ke salon. Dia akan segera datang. Bersiaplah ..." ucap Reo yang rupanya juga begitu detail dan teliti saat mempersiapkan segala sesuatu, meskipun semua ini adalah dadakan.


"Uhm ... baik ..." jawab Ayaneru dengan patuh.


"Baiklah. Sampai jumpa lagi nanti malam, Calon istriku ..." ucap Reo dengan manis dan segera mengakhiri panggilan itu.


Bisa dipastikan, jika wajah Ayaneru saat ini sudah menjadi begitu merah karena panggilan baru itu. Meskipun Reo tak mengucapkan di hadapan Ayaneru, namun wanita itu cukup merasa dibuat malu.


Tok ... tok ... tokk ...


Masih dengan wajah yang terukir dengan senyuman tipis, Reo mulai mempersilakan tamunya untuk memasuki ruangannya.


"Masuk!" titahnya dengan wajah yang masih berbinar.


Rupanya tamu itu adalah Gavin yang datang dengan membaea beberapa berkas. Gavin mulai membungkukkan badannya menghapa Reo.


"Tuan Reo, akun yang menyebarkan berita itu adalah akun palsu. Namun aku sudah berhasil mendapatkan akun utama dia. Dan alamat IP juga sudah berhasil aku dapatkan. Ini adalah data diri dari sang pelaku, Tuan." ucap Gavin


Ucap Gavin melaporkan sambil menyerahkan sebuah berkas untuk Reo. Reo segera menerima dan memeriksa berkas itu.


"Sudah, Tuan. Bahkan aku sudah memerintahkan beberapa orang untuk menangkapnya. Dan saat ini dia sedang berada di dalam ruangan penghakiman milik kita, Tuan." jawab Gavin dengan nada rendah.


"Hhm! Baiklah!!" Reo mulai menutup laptopnya dan segera bergegas untuk mendatangi ruangan yang dimaksud oleh Gavin.


Sebuah ruangan yang juga terletak di dalam gedung F Group, tepatnya di ruangan bawah tanah. Gavin juga segera mengekori tuannya dengan setia.


Setelah beberapa saat dan melewati sebuah tangga khusus yang menghubungkan dengan ruangan bawah tanah, akhirnya Reo mulai memasuki sebuah ruangan yang sudah dijaga oleh beberapa anak buahnya.


CEKLEKK ...


Reo mulai memasuki ruangan itu. Dan rupanya pemuda itu sudah duduk di sebuah kurs. Dan di masing-masing sisinya sudah ada pengawal yang juga selalu menjaganya.


Reo segera menarik kursi tepat di seberang pemuda itu dan segera mendudukinya. Sepasang matanya tajam menatap pemuda itiu. Seolah ingin melenyapkannya begitu saja.


Karena gara-gara perbuatan dari pemuda itu, masa lalu dan luka lama Ayaneru menjadi terbongkar kembali. Dan tentunya hal itu sangat membuat Ayaneru sesak dan sedih.


"Waktumu 5 menit untuk menjelaskan padaku semuanya! Termasuk bosmu!!"ucap Reo menegaskan dan masih menatap tajam pemuda berambut sedikit gondrong itu.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku hanya kurang menyukai Ayaneru yang selalu berpura-pura baik dan polos itu, jadi aku hanya ingin sedikit memberikan pelajaran untuknya, yaitu dengan mengungkapkan masa lalunya saja." ucap pemuda itu dengan lirih.


Reo tersenyum miring mendengarkan ucapan dari pemuda itu. Karena Reo sangat paham jika pemuda itu sedang berbohong.


"Sering untuk menghindari kontak mata secara langsung, berkedip lebih lebih lambat dari biasanya, kamu juga mulai berkeringat tak terkendali di saat sedang cuaca dingin seperti ini karena kecemasan, stres, dan juga ketakutan. Ketika seseorang sedang berbohong, respons tubuh mungkin akan mengkhianati kata-kata serta sikap mereka. Keringat akan muncul karena tekanan stres dan kecemasan."


Tutur Reo masih dengan senyuman liciknya menatap pemuda itu mulai melongo mendengarkan kesimpulan dari Reo. Reo mulai memberikan isyarat melalui jemarinya untuk Gavin yang masih berdiri di belakangnya.


Gavin yang paham akan maksud dari tuannya kini mulai maju 2 langkah dan menatap tajam pemuda itu.


"Sekarang aku akan bertanya sekali lagi kepadamu! Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan semua ini?!" tanya Gavin meninggikan intonasinya satu oktaf.


"Ti-tidak ada, Tuan. Ak-aku melakukannya sesuai dengan keinginanku sendiri." jawab pemuda itu terbata.


Lagi-lagi Reo mulai memberikan isyarat dengan sepasang matanya untuk sang asisten priadinya.


SRRTTT ...


Kini Gavin mulai mengeluarkan sebuah pisau lipat lalu membukanya dan memutar-mutarnya memainkannya dengan begitu lincah. Gavin juga mulai melengang kembali mendekati pemuda itu.


Perlahan Gavin mulai menjambak dan mendongakkan kepala pemuda itu ke atas. Lalu Gavin juga mendekatkan ujung pisau itu di dekat leher pria itu.


"Baiklah jika tetap kekeh dan tidak mau jujur. Sebaiknya aku benar-benar memutuskan urat nadimu sekarang juga." timpal Gavin mulai mendekatkan ujung pisau itu lagi dan sudah sangat dekat.


Pemuda itu masih saja kekeh tak mau berkata jujur. Hingga akhirnya Gavin benar-benar berniat untuk mulai mengukir lukisan pada leher pemuda itu, hingga darah segar mulai mengucur.