
Hallo selamat siang sahabat Release Me, Love Me. Mana nih tim Reo-Neru ... hehe ...
Jadi disini author ingin memberitahukan sedikit bocoran ya, jika sebenarnya Reo pernah menyukai seorang gadis disaat kecil. Dia tak pernah bisa melupakan gadis kecil itu.
Reo mulai membuka hati untuk gadis lain saat dia duduk di bangku kuliah. Hingga akhirnya Reo mengencani salah satu model cantik bernama Maria. Mereka menjalin ikatan cukup lama, kira-kira 3 tahun. Namun rupanya Maria malah mengkhianatinya.
Kekecewaan itu malah membuat Reo semakin menutup diri kembali. Hingga dia malah mulai mengingat kembali sosok gadis kecil itu. Akhirnya Reo mulai menggerakkan beberapa anak buahnya untuk mencari sosok gadis kecil itu yang rupanya masih tinggal di daerah Yokohama. Sebuah prefektur dimana Reo dan sang gadis kecil bertemu untuk pertama kalinya.
Mengetahui semua itu, Reo segera bertindak cepat untuk segera mendapatkan kembali gadis kecilnya. Dia bahkan menggunakan kekuasaannya serta kekuasaan kedua orang tuanya yang sudah tak diragukan lagi.
Nah, bocorannya sampai disitu dulu ya. Kita simak dulu kisah mereka lagi biar seru. Kalau author bongkar semua disini, nanti kurang seru. Hehe ...
Yuk, check this out ...
Eh, sebelum lanjut author kasih pict mereka berdua dulu ya. Hehe ...
...🍁🍁🍁...
Di tengah-tengah hatinya yang sedang bergejolak, kini Reo mulai membuka sepasang matanya kembali. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah ayu alami yang saat ini terlihat sedikit murung. Dan tentu saja hal ini membuat Reo bingung tak mengerti.
"Neru ..." ucap Reo lirih sambil menyibak anak rambut Ayaneru yang menutupi wajah ayunya.
"Re-Reoo ... kamu sudah bangun ..." ucap Ayaneru sedikit terperanjat karena terkejut.
"Hhm. Ada apa? Kamu melamun dan tak menyadari jika aku sudah terbangun." tanya Reo lirih.
"Ti-tidak. Tidak ada apa-apa kok." ucap Ayaneru sangat terlihat jika dia sedang menyembunyikan sesuatu. "Apa kamu sudah merasa lebih baik? Demammu sudah turun. Syukurlah ... aku akan mandi dan segera menyiapkan sarapan." imbuh Ayaneru mulai duduk dan berniat untuk meninggalkan kamarnya.
"Tidak perlu memasak, Sayang. Mandi dan bersiaplah saja. Kita akan makan di luar saja dan segera fitting baju pernikahan." ucap Reo dengan cepat.
Ayaneru menghentikan langkah kakinya. Kata pernikahan dari Reo membuatnya kembali teringat dengan ucapan beberapa saat yang lalu, saat Reo mengigau dan mengatakan akan menikahi gadis kecilnya yang selalu dipanggilnya dengan putri tidur.
Dan hal ini membuat Ayaneru mulai murung kembali dan tak memiliki kepercayaan diri lagi untuk tetap melanjutkan pernikahannya bersama dengan Reo.
"Apakah ... apakah ... kita harus tetap melanjutkan pernikahan ini?" tanya Ayaneru dengan suara yang sedikit bergetar.
Dadanya menjadi begitu sesak dan nyeri kembali. Padahal selama ini niatnya menerima lamaran dari Reo adalah bukan karena sebuah rasa cinta, melainkan hanya untuk membuat kedua anak kembarnya bahagia.
"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Reo tak mengerti. "Apa kamu tidak ingin menikah denganku?"
Ayaneru memejamkan sepasang matanya dan menggigit bibir bawahnya.
"Sayang ... sebenarnya ada apa? Apa ada masalah?" kali ini Reo sudah duduk dan masih memandangi punggung Ayaneru.
"Tidak ada kok. Aku akan mandi di kamar mandi luar. Kamu juga segera mandilah dulu." ucap Ayaneru mulai melenggang beberapa langkah.
GREPP ...
Reo yang sudah turun dari pembaringan kini menahan lengan Ayaneru.
"Neru! Kamu adalah wanita yang tak bisa berbohong dengan baik. Semua kebohongan akan sangat buruk saat kamu yang melakukannya." ucap Reo datar. "Katakan padaku ... ada apa?"
Rasanya lidah Ayaneru menjadi kelu seketika. Reo memang yang melamar Ayaneru demi kedua buah hatinya, namun mungkin saja sebenarnya hatinya masih hanya untuk putri tidurnya.
Dan hal ini membuat Ayaneru dilema harus bersikap dan bertindak seperti apa. Menikahi seorang pria yang masih mencintai wanita lain, pastinya akan sangat menyakitkan.
"Neru ..."
CEEKKLEKK ...
Tiba-tiba saja pintu kamar Ayaneru mulai terbuka, dan dua orang anak menggemaskan mulai terlihat di daun pintu itu.
"Mama!! Papa!! Selamat pagi!!" seru Leona yang masih mengenakan baju tidurnya dengan motif yang lucu dan menggemaskan.
Dan pakaian tidurnya adalah sama dengan Leon. Mereka berdua terlihat sangat lucu dan manis.
"Pagi, Sayang." ucap Ayaneru mulau tersenyum kembali dan menepis pelan tangan Reo.
Lalu Ayaneru mulai melenggang untuk menyambut kedua buah hatinya.
"Sayang, ayo segera mandi dan bersiap. Hari ini kita akan berjalan-jalan." ucap Ayaneru mulai mengajak Leon dan Leona untuk meninggalkan kamarnya.
Sementara Reo hanya menatap datar kepergian mereka selama beberapa saat. Lalu Reo memutuskan untuk segera mandi dan membersihkan dirinya di dalam kamar Ayaneru.
...🍁🍁🍁...
Reo mulai mengajak calon keluarga kecilnya untuk menikmati sarapan pagi di salah satu restaurant yang berada tak jauh dari butik utama dan tempat produksi F Group di Yokohama.
Ayaneru sudah terlihat ceria kembali saat ini di depan kedua buah hatinya. Bahkan dia terlihat begitu cantik dan mempesona, hingga pria sedingin es itu saja bisa mencair meskipun sangat lambat.
"Leona sayang, makanlah sayuran juga. Sayuran akan sangat bagus untuk pencernaanmu, Sayang ... makanlah sedikitttt saja, Sayang." bujuk rayu Ayaneru agar Leona bisa memakan sedikit saja sayuran itu.
Karena selama ini gadis kecil yang begitu pandai berakting itu sama sekali tidak menyukai makan sayuran jenis apapun. Sangat berbeda dengan Leon yang justru sangat vegetarian.
"Ihhh, Mama! Aku tidak suka makan sayuran hijau itu!" dengan cepat Leona mulai membungkam mulut mungilnya dengan kedua jemarinya serta menatap Ayaneru penuh kewaspadaan.
"Huft ... bagaimana mau hidup sehat jika kamu tidak pernah memakan sayuran, Leona sayang?" ucap Ayaneru murung dan selalu bersedih ketika menghadapi putri kecilnya yang sangat tidak menyukai sayuran.
"Bukankah aku bisa menggantinya dengan buah saja, Ma?" sela Leona nyengir lebar menatap Ayaneru.
"Leona, jangan menyusahkan papa dan mama! Dan cepat makan sayuranmu!" ucap Leon menatap tajam Leona sambil menghentakkan garpunya di atas piringnya.
TRANGG ...
Leona yang melihat sikap dingin dan galak dari Leon seketika terperanjat. Namun gadis kecil itu mulai memainkan dramanya agar dikasihani.
"Hiks ... kak Leon menakut-nakutiku, Papa ... mama ... hiks ... kak Leon seram sekali! Aku takut sekali, Papa ... mama ... hiks ..." Leona mulai menangis dan menatap Leon dengan ekspresi ketakutan.
Dan tentu saja hal ini adalah drama kecil dari ratu drama Leona. Hingga akhirnnya Ayaneru malah menyudutkan Leon.
"Leon, jangan terlalu keras dengan adikmu, Sayang." ucap Ayaneru berusaha untuk menenangkan Leona.
Sedangkan Leona sesekali malah menjulurkan lidahnya kepada Leon disaan Ayaneru dan Reo tak melihatnya.
Ckk ... dasar si ratu drama satu ini!
Geram Leon di dalam hati.
"Hhm. Baiklah. Papa akan pesankan jus yang enak untukmu, Leona. Tunggu sebentar." ucap Reo mulai mengambil langkah agar Leona bisa sedikit saja mau untuk mengkonsumsi sayuran.
"Okee, Papa!! Yang manis dan enak ya!! Hehe ..." sahut Leona tersenyum lebar menatap kepergian papa tersayangnya.