
Reo masih berdiri dengan tegap dan gagah menatap beberapa berandalan bule yang sudah penuh dengan luka memar yang saat ini sedang terduduk di atas lantai itu.
"Siapa bos kalian?" tanya Reo masih dengan sabar.
Tak ada satupun dari mereka yang berani berkata dan menjawab Reo. Mereka semua menunduk karena merasa sangat takut.
"Aku sedang bertanya kepada kalian! Siapa bos kalian?! Siapa yang sudah memerintahkan kalian untuk melakukan semua ini?!" kali ini Reo mulai bertanya dengan suara yang lebih menggelegar.
"Ka-kami melakukannya atas kep-pentingan pribadi. Ka-kami hanya ingin meminta uang tebusan saja, Tuan." ucap salah satu dari mereka mulai membuka suaranya.
"Apa kalian yakin? Tidak ada yang menyuruh kalian?!" tanya Reo kembali.
"Ti-tidak ada, Tuan. Ka-kami hanya penjahat jalanan yang butuh uang. Ddannn ka-kami memang sering melakukan hal seperti ini, Tuan." jawab pria bule itu lagi.
"Jika sampai aku tau kalian berbohong, maka habislah riwayat kalian!!"
"Ka-kami tidak berbohong, Tuan ..."
Reo masih saja menatap tajam para pria bule itu dan terlihat belum puas akan apa yang mereka katakan.
DRTT ...
Ponsel Reo tiba-tiba saja bergetar, setelah memeriksanya rupanya Ayaneru yang menghubunginyaa.
"Gavin! Aku serahkan mereka padamu!" ucap Reo mulai melengang meninggalkan mereka sambil menggeser tombol hijau itu.
"Hallo, Neru. Ada apa? Apa kamu sudah sampai di hotel?"
"Hhm. Aku baru saja sampai. Namun aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit." ucap Ayaneru dari seberang.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit? Apakah kamu atau Leon terluka dan mengalami luka serius?" tanya Reo mulai khawatir kembali.
"Bukan aku atau Leon. Reo, kamu harus segera kembali. Maria mengami kecelakaan dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Beberapa saat yang lalu sebuah mobil tak sengaja menyerempetnya di depan hotel." jelas Ayaneru terdengar sedikit panik.
"Apa kamu yakin jika itu adalah sebuah kecelakaan, Neru?" tanya Reo sedikit curiga, karena selama ini Maria selalu saja berbuat licik hanya demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Tentu saja! Maria benar-benar sedang terluka saat ini, Reo. Bahkan dia baru saja melakukan transfusi darah." ucap Ayaneru sedikit kesal karena mengira jika Reo malah tak mempercayainya.
"Baiklah. Aku akan segera kembali. Kirimkan saja alamatnya kepadaku, Neru!" ucap Reo lebih memilih untuk mengalah saja.
"Baiklah!"
Panggilan itu langsung diakhiri oleh Ayaneru begitu saja.
"Gavin! Aku harus segera kembali! Kamu uruslah mereka dengan benar!! Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal karena sudah berani mengusikku!!" titah Reo menandaskan dengan tegas.
"Baik, Tuan!!" jawab Gavin dengan patuh.
...🍁🍁🍁...
Namun sesampainya di rumah sakit, Reo malah menarik Ayaneru untuk segera keluar dari kamar rawat Maria. Hal itu tentunya sangat membuat Maria merasa kesal.
"Reo! Apa yang sedang kamu lakukan?" Ayaneru mulai menarik tangannya kembali saat mereka sudah berada di luar ruangan rawat itu.
"Dimana Leon dan Leona? Mengapa kamu tidak menemani mereka?" pertanyaan Reo terkesan begitu menyudutkan Ayaneru kali ini.
"Mereka sudah tidur kok di hotel. Ada para pengawalmu yang menjaganya disana." jawab Ayaneru yang sebenarnya juga merasa bersalah karena telah meninggalkan kedua anak kembarnya dan kini malah berada di rumah sakit menjaga Maria.
"Aku datang untuk menjemputmu. Ayo.sekarang kita segera kembali ke hotel! Leon dan Leona sedang membutuhkanmu saat ini. Sebaiknya kamu tetap bersama dengan mereka. Bahkan Leon baru saja terlepas dari bahaya itu, namun kamu malah meninggalkan mereka di hotel begitu saja! Bagaimana jika terjadi sesuatu? Ayo kita kembali!" ucap Reo kekeh dan kali ini benar-benar kesal akan keputusan yang diambil oleh Ayaneru.
"Tapi, Reo ..." sergah Ayaneru yang juga merasa tidak tega jika harus meninggalkan Maria.
"Aku tidak mau mendengarkan penolakan darimu, Neru! Sekarang kita harus segera kembali! Biarkan para pengawal yang menjaga Maria!" ucap Reo masih kekeh dan mulai kembali menggiring Ayaneru untuk meninggalkan rumah sakit dan segera mendatangi parkiran untuk mencari mobilnya.
"Kamu juga harus segera beristirahat, Neru. Jangan sampai kamu sakit ..." ucap Reo lirih disaat mereka sudah berada di dalam mobil dan sedang dalam perjalanan ke hotel bersama.
Ayaneru sama sekali tak menjawab ucapan dari Reo. Wanita cantik yang masih saja sembab kedua matanya itu hanya memilih untuk tetap diam.
"Neru, mengapa kamu hanya diam?" tanya Reo serelah beberapa saat, dan sesekali dia juga melirik Ayaneru yang memadangi sisi luar jendela kaca saja.
"Tak ada gunanya berkata-kata. Ucapanmu selalu saja benar dan tak terbantahkan!" jawab Ayaneru dengam nada malas.
"Sampai kapan kamu mau terus-terusan berpikiran buruk tentangku? Apakah aku terlihat begitu buruk di hadapanmu, Neru?"
Lagi-lagi Ayaneru terdiam selama beberapa saat, karena saat ini Ayaneru sedang tak ingin untuk melakukan sebuah perdebatan. Tubuhnya sudah terasa begitu lelah dan tak bertenaga, bahkan sebenarnya dia sudah sangat mengantuk, karena seharian ini dia hanya fokus menangis dan mencari Leon.
"Terima kasih ..." ucap Ayaneru begitu lirih dan sangat tulus, karena tanpa Reo dia tak akan bisa menyelamatkan Leon hari ini. Meskipun bisa, Ayaneru masih harus berkorban dan memenuhi permintaan dari berandalan penculik Leon itu.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan Leon." imbuh Ayaneru lagi yang masih menatap gedung-gedung megah yang sudah berhiaskan dengan lampu-lampu kekuningan itu.
"Ini sudah kewajibanku! Aku juga minta maaf karena tak bisa menjaga kalian dengan baik, Neru. Aku lengah ... maafkan aku ..." Reo menyauti dengan nada bicara yang sedikit merendah.
Tak ada jawaban lagi, dan rupanya Ayaneru sudah tertidur begitu saja saat mereka dalam perjalanan ke hotel. Reo hanya menatapnya dan tersenyum iba.
Karena tak tega untuk membangunkan Ayaneru, alhirnya kini Reo mulai menggendong depan Ayaneru ketika mereka telah sampai di hotel. Namun bukannya mengantarkannya le kamar Ayaneru, Reo malah membawa wanita itu ke kamarnya.
Leon dan Leona pasti sudah tertidur pulas, aku tak ingin mengganggu istirahat mereka. Jadi sebaiknya malam ini kamu tidur disini, Neru.
Batin Reo mulai melepaskan sepasang sepatu hak tinggi milik Ayaneru. Pandangannya masih menatap nanar Ayaneru, penuh dengan rasa bersalah.
Lagi-lagi aku lengah dan tak bisa menjaga kalian dengan baik. Maafkan aku ...
Batin Reo yang kali ini mulai memberikan selimut untuk Ayaneru.
Reo mulai memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dulu di kamar mandi. Karena pria satu ini cukup metroseksual dan sangat mencintai kebersihan. Dia tak akan nyaman dengan debu dan peluh yang berlama-lama menempel pada tubuhnya.