Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Alasan Lin Chen



Di dalam ruangan kunjungan Ayaneru sudah terduduk di salah satu bangku. Sementara di hadapannya sudah ada Lin Chen yang juga sudah terduduk dan menunduk, seakan tak memiliki kepercayaan diri untuk menatap Ayaneru.


Ada rasa bersalah yang begitu besar kepada Ayaneru. Selama ini Ayaneru selalu mempercayai Lin Chen dan sudah menganggapnya layaknya sahabat dan keluarga. Namun rupanya dia malah menghancurkan kepercayaan Ayaneru, entah karena sebuah alasan apa.


"Lin Chen. Aku sangat kecewa padamu ..." ucap Ayaneru lirih. "Aku sungguh sangat tidak menyangka jika kamu sampai tega melakukan semua ini kepadaku. Rasanya ... ini sungguh bukan kamu."


Ayaneru masih sangat tidak menyangka jika Lin Chen bisa melakukan semua ini kepada dirinya. Sahabat yang dia krnal baik saat di bangku sekolah, kini tega untuk mencelakai dirinya dan berkomplot dengan Jay Yeol.


"Neru, maafkan aku. Aku terpaksa melakukan semua ini. Maaf ... aku tidak bermaksud untuk melakukan semua ini. Maafkan aku ... aku sungguh tidak memiliki pilihan lain saat itu, Neru. Aku sangat egois dan hampir saja mencelakaimu. Aku sangat bodoh!" ucap Lin Chen penuh dengan rasa sesal dan tentunya sangat merasa bersalah.


Lin Chen masih menunduk dengan kedua jemari yang masih saling bertaut satu sama lainnya.


"Apa yang sudah Jay Yeol lakukan padamu hingga kamu berubah dan berada di pihaknya?" tanya Ayaneru ingin tau.


Butuh beberapa saat untuk Lin Chen menjawab pertanyaan dari Ayaneru. Pria yang tak memiliki eyelid ini menghela nafas selama beberapa saat lalu mulai melepaskannya perlahan.


"Keluargaku memiliki hutang yang cukup besar kepada perusahaan papa Jay Yeol. Mereka tiba-tiba saja memanggilku dan memberikan penawaran untukku. Uhm ... bukan ... tapi pada awalnya mereka mengatakan jika semua hutang keluargaku harus segera dilunasi dalam waktu satu pekan. Jika kami tidak kami tidak bisa segera melunasinya, maka mereka akan memenjarakan ayahku. " ucap Lin Chen mulai berceritan


"Hutang itu sangat besar, Neru. Jika kami menjual seluruh aset keluarga kami, kami akan tetap saja tak akan bisa melunasi seluruh hutang itu. Ayahku sudah cukup tua, Neru. Aku tidak tega jika melihat ayah dipenjara. Hingga akhirnya mereka menawarkan ini. Aku sungguh bodoh dan aku sangat menyesal, Neru. Dan aku juga tak pernah mengira jika Jay Yeol akan setega ini untuk menculikmu dan berniat untuk mencelakaimu. Maaf, Neru ... aku sungguh bodoh dan egois." imbuh Lin Chen penuh dengan rasa sesal.


Neru menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan terlihat pusing untuk menghadapi Lin Chen. Selama ini Lin Chen selalu baik kepada dirinya, namun kini Lin Chen telah melakukan sesuatu yang sungguh membuatnya kecewa dan kehilangan kepercayaannya kembali kepada dirinya.


"Lin Chen, aku masih sangat kecewa padamu." ucap Ayaneru lirih. Aku bisa memaafkanmu. Tapi hubungan kita kedepannya tak akan pernah sama lagi. Dan aku katakan padamu, Lin Chen ... akan ada solusi yang datang bersama masalah. Aku harap lain kali, kamu bisa berpikir dengan jernih dan tidak mengecewakan orang lain lagi. Karena kepercayaan sangat sulit untuk dibangun, jadi jangamlah kamu dengan mudahmya merusaknya." ucap Ayaneru benar-benar masih saja merasa kecewa.


"Hhm. Aku tau ... aku tidak akan akan mengulanginya lagi. Terima kasih karena kamu masih peduli dan mengingatkanku, Neru ..."


"Aku harus segera pergi! Semoga kamu baik-baik saja disini. Dan jadikan semua ini sebagai pelajaran berharga untukmu, Lin Chen." ucap Ayaneru mulai bangkit dari tempat duduknya dan bergegas untuk meninggalkan tempat ini.


...🍁🍁🍁...


Sementara itu di sebuah apartemen mewah prefekture Tokyo, terlihat Leona dan Leon yang sedang tengah asyik bermain bersama adik kecilnya.


Sebenarnya hanya Leona yang terlihat begitu bersemangat, tidak seperti Leon yang masih saja terlihat canggung dan hanya memperhatikan kedua adiknya itu.


Batin Leon yang hanya mengamati Leona yang sedang asyik menghibur Anya dengan beberapa mainan dan tingkah lucunya, sehingga terkadang Anya tertawa khas bayi.


"Adik kecil Anya, kamu harus segera tumbuh besar ya! Nanti aku akan mengajakmu bermain boneka deh! Atau kita memainkan sesuatu yang seru bersama!" ucap Leona mengajak adik kecilnya berbincang.


"Kak Leon tidak seru kalau diajak bermain boneka, dia selalu saja sibuk dengan mini computer-nya! Makanya kamu harus segera tumbuh besar ya, Adik kecil Anya!" imbuh Leona lagi sambil mencubit pipi sang adik dengan lembut karena merasa gemas.


Leon yang mendengarkan ucapan Leona hanya menghela nafas malas, lalu pria kecil yang dingin ini membuka mini computer-nya karema merasa bosan.


"Nah kan! Lihat tuh ... kak Leon sudah mulai sibuk dengan benda itu! Jika dia sudah berduaan bersama mini computer kesayangannya, maka dia akan melupakan sekitarnya. Bahkan dia akan menganggap aku tak ada. Huftt ... dia menyebalkan, Adik kecil Anya!" celutuk Leona sesekali melilirik Leon dengan mulut mungilnya yang dikerucutkannya beberapa senti ke depan.


Belum sempat Leon menjawabnya, Leona sudah kembali berkicau membicarakan tentang dirinta kepada adik kecil barunya.


"Tapi meskipun seperti itu, sebenarnya kak Leon itu baik sih. Malah dia yang terbaik dan terkeren. Dia genius dan selalu menyayangiku dan juga sangat menyayangi mama. Hanya saja caranya menunjukkannya tidak secara terang-terangan dan masih saja terlihat dingin. Dan kakak yakin deh, kak Leon pasti juga akan sangat menyayangi kamu, Adik kecil Anya." imbuh Leona sedikit memelankan suaranya, dan terdengar sedang berbisik-bisik.


Leon masih mendengarnya. Seketika wajah putihnya yang mungil tersipu malu, karena mendapatkan pujian dari sang adik. Namun dia malah berpura-pura tidak mendengarkan semua itu dan hanya fokus dengan mini computer kesayangannya.


"Nah sekarang kamu sudah bisa lihat sendiri kan, Adik kecil Anya? Seperti apa kak Leon itu? Meskipun dia terlihat sangat dingin dan cuek di luar, namun sebenarnya dia itu sangat hangat dan penyayang. Ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua saja ya, Adik kecil Anya! Aku memberitahukan semua ini karena kamu adalah adik kesayanganku saat ini. Okay?" bisik Leona lagi di dekat telinga Anya.


Anya hanya tertawa kecil dan memainkan mainan bayinya.


Huffftt ... dasar kedua anak gadis kecil ini! Sebaiknya aku ke kamar saja deh!


Batin Leon menutup kembali mini computer miliknya dan menentengnya.


"Kakak ke kamar dulu! Ada sesuatu yang harus kakak lakukan saat ini." ucap Leon datar dan meninggalkan mereka berdua.


"Hufft ... lihatlah, Adik kecil Anya! Kakak genius kita selalu saja sibuk dengan dunianya sendiri!" Leona menggerutu, namun Leon mengabaikannya dan menuju kamarnya.


...🍁🍁🍁...