
"Reo ... aku tidak tau apa yang telah terjadi dengan tubuhku ini. Namun tubuh ini rasanya sangat aneh sekali. Apa aku sudah keracunan?" ucap Ayaneru yang juga tak memahami sebenarnya apa yang telah terjadi dengan tubuhnya.
Iya, Neru! Kamu keracunan dupa pembangkit gairah itu! Aku yang bahkan hanya menghirupnya sedikit saja, namun sudah sangat memberikan pengaruh. Apalagi kamu dan para bajingan yang sudah berada di dalam kamar itu cukup lama! Ugghh ingin rasanya aku membunuh mereka!!
Batin Reo malah kembali teringat Aaroon dan Jay Yeol.
"Reo ... bisakah kamu memanggilkan dokter untukku? Aku benar-benar merasakan ada yang aneh dengan tubuhku. Rasanya panas sekali ..." ucap Ayaneru membuyarkan angan Reo, bahkan Ayaneru juga kini sudah mengusap lembut sisi samping wajah Reo.
"Dokter spesialis apapun tak akan ada yang bisa mengobatinya, Sayang." ucap Reo yang sepertinya juga sudah terpengaruh akan dupa pembangkit gairah itu.
"Kenapa?" tanya Ayaneru tak mengerti.
"Karena aku bisa menyembuhkannya, Neru." ucap Reo begitu lirih dan terdengar begitu hangat.
"Kalau begitu tolong aku ... aku tak tahan lagi, Reo ..." pinta Ayaneru penuh harap dengan wajah yang sudah begitu merona.
"Dengan senang hati, Neru. Tapi berjanjilah kamu tak akan marah padaku setelah kamu sadar nanti ..."
"Tentu saja! Aku bahkan sangat sadar saat ini." ucap Ayaneru dengan polosnya dan masih belum menyadari sesuatu jika dirinya sudah terpengaruh dari dupa pembangkit gairah itu.
Reo tersenyum hangat selama beberapa saat sebelum akhinya dia mulai mendekati wajah Ayaneru dan mengecup lembut bibir Ayaneru. Tidak seperti biasanya, Ayaneru tidak melawan atau berusaha untuk menghentikan Reo sama sekali.
Bahkan Ayaneru juga membalas kecupan demi kecupan hangat itu, seakan mereka berdua telah terbakar oleh api asmara hingga tak ada lagi yang bisa menghentikan mereka saat ini. Hingga akhirnya kejadian 5 tahun yang lalu kini telah terjadi lagi.
...🍁🍁🍁...
Sinar mentari mulai menyinari dunia dengan cahaya hangatnya. Menjadikan musim semi kali ini menjadi begitu hangat dan indah. Kicauan burung-burung yang menari-nari di udara seakan juga bisa merasakan kehangatan dunia saat ini.
Di dalam sebuah kamar apartemen mewah dan bergengsi di prefektur Yokohama, terlihat seorang wanita sedang tertidur dengan mengenakan lengan kuat dari sang pria sebagai bantalan kepalanya.
Beberapa pakaian mereka masih berserakan di atas lantai. Sedangkan pasangan itu masih tertidur pulas bersama dengan sebuah selimut lembut putih yang menutupi tubuh polos mereka.
Namun setelah beberapa saat, perlahan wanita itu mulai membuka sepasang matanya dan mengerjapkannya beberapa kali. Dan betapa terkejutnya saat dia melihat ada seorang pria yang masih tidur di hadapannya dengan posisi miring dan menghadap dirinya. Bahkan salah satu tangan kekarnya juga memeluk tubuh rampingnya.
Setelah mengingat-ingat kembali dengan baik, kini wajah wanita yang tak lain adalah Ayaneru itu, kini mulai merona. Bahkan Ayaneru juga mulai mengintip tubuhnya sendiri yang berada di balik selimut tebal nan lembut itu.
Sepasang mata kehijauannya mulai membulat sempurna karena melihat dirinya sedang tak memakai sehelai benangpun saat ini. Bahkan Ayaneru juga masih merasakan ada sesuatu pada bagian intimnya. Seperti sebuah cairan yang begitu lengket.
Oh tidak! Mengapa semua ini bisa terjadi lagi?! Ditambah lagi aku yang pertama memulainya. Bagaimana ini? Reo pasti akan benar-benar mengira jika aku adalah wanita gampangan ...
Batin Ayaneru mulai gelisah. Namun kegelisahannya kembali hilang saat dia kembali menatap wajah tampan yang begitu meneduhkan itu. Meskipun wajah tampan itu masih terpejam.
Ternyata disaat dia sedang tertidur seperti ini, sama sekali tidak terlihat dingin dan menyebalkan. Malah ... manis dan tampan ... dan ... dia adalah papa dari anak-anakku ... rasanya masih seperti mimpi saja.
Batin Ayaneru tanpa sadar mulai mengusap lembut sisi wajah Reo. Dan tepat disaat itulah Reo mulai membuka sepasang matanya, memperlihatkan sepasang pupil kebirauan yang begitu indah dan mempesona.
Ayaneru dengan cepat menarik kembali tangannya karena merasa malu saat kepergok.
"Se-selamat pagi. Hehe ..." ucap Ayaneru sedikit kacau karena merasa gugup.
Sayang? Lagi-lagi dia memanggilku sayang?
Batin Ayaneru kikuk, karena panggilan itu masih sangat asing diucapkan oleh seorang pria untuk dirinya.
"Uhm. Kalau begitu ... aku akan mandi dulu ... aku juga harus segera pulang. Leon dan Leona pasti merasa sangat cemas karena aku tidak pulang." ucap Ayaneru berusaha untuk duduk dan masih menutupi tubuhnya dengan selimut lembut itu.
"Tidak perlu buru-buru, Sayang. Aku sudah memberikan kabar untuk mereka, jika kamu sedang ada bersama denganku kok."
"Eh benarkah? Dan ... mengapa kamu selalu memanggilku sayang? Itu ... terdengar sedikit aneh."
"Apa salahnya? Cepat atau lambat kita juga akan segera menggunakan panggilan itu. Kemarilah dulu! Aku masih ingin bersama denganmu!" ucap Reo sambil meraih dan menarik lengan Ayaneru dan membuatnya jatuh di atasnya.
BRUUKK ...
"Setiap mengingat saat mereka menyentuh tubuhmu, membuatku merasa sangat marah!" ucap Reo lirih dan sedikit menyibak rambut Ayaneru yang terjatuh hingga menutupi wajahnya.
"Ma-maafkan aku, Reo. Ini adalah salahku karena tidak mendengarkan ucapanmu saat itu. Maaf ..."
"Lain kali aku harap kamu bisa lebih berhati-hati dengan orang yang baru saja kamu kenal! Karena tidak semua orang itu baik seperti yang kamu bayangkan, Neru."
"Hhm. Iya ..."
"Hhm. Mau melakukannya sekali lagi?" tanya Reo tiba-tiba.
"Melakukan apa?"
"Membuatkan adek untuk Leon dan Leona. Mereka sudah cukup besar untuk memiliki seorang adek." ucap Reo menggoda Ayaneru.
"Jangan bercanda, Reo! Huft ... aku akan segera mandi saja!"
"Apa? Melakukannya di kamar mandi? Wah ... sepertinya akan menarik! Kalau begitu ayo lakukan!" ucap Reoberusaha untuk bangun dan berniat untuk menggendong depan Ayaneru.
"Reo! Jangan! Kita bahkan belum memakai baju!" pekik Ayaneru histeris dan mulai memejamkan sepasang matanya karena selimut itu kini sudah terjatuh begitu saja.
"Aku sudah melihat semuanya, Neru. Begitu juga dengan kamu yang juga sudah melihat semua tubuhku. Bahkan kita sudah saling menyatu satu sama lain. Mengapa masih saja malu?" ucap Reo malah semakin menggoda Ayaneru dengan sengaja.
Namun belum sempat mereka meninggalkan pembaringan, tiba-tiba saja ponsel Reo mulai berdering. Terlihat sekilas nama Gavin pada layar benda pipih itu.
"Ciihhh ... benar-benar mau merasakan potong gaji dia!!" geram Reo mulai menurunkan Ayaneru dan segera menyamber kesal benda pipih itu.
Sedangkan Ayaneru mulai beraih selimut itu lagi dan menggunakannya untuk membalut tubuhnya. Dan tentu saja Ayaneru juga tak ingin melewatkan sebuah kesempatan emas ini.
Kini Ayaneru segera melompat dari pembaringan dan melarikan diri dengan membawa selimut itu menuju ke kamar mandi.
Sementara tak ada satupun kain yang tersisa di atas pembaringan yang bisa Reo gunakan untuk menutup tubuhnya. Reo mendengus kesal mulai mencari jubah mandinya sambil mengangkat panggilan dari sang pengganggu itu.