Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
VIP Klien



Meeting room, F Group, 10 Am.


Reo terlihat sudah duduk di salah satu kursi empuk dan memeriksa beberapa berkas yang sudah disiapkan Gavin untuknya. Di sebelahnya sudah ada Gavin dan Jion yang akan mendampinginya. Karena saat ini mereka akan melakukan sebuah pertemuan dengan VIP klien yang baru beberapa waktu ini terikat dengan F Froup.


Tok ... tok ... tok ...


CEKLEKK ...


Pintu ruangan rapat itu mulai terbuka setelah diketuk beberapa kali oleh seseorang. Kini seorang pria yang sudah berpakaian rapi dengan setelan jasnya melenggang memasuki ruangan rapat ini. Di belakangnya sudah ada seorang pria berkacamata yang kemungkinan adalah asisten pribadinya.


Dan betapa terkejutnya Reo ketika melihat siapa VIP klien itu. Reo sungguh tidak menyangka jika mereka akan dipertemukan dalam hal pekerjaan seperti ini.


"Selamat pagi, Mr. Rei!" sapa VIP klien itu dengan ramah.


"Apa yang sedang kamu lakukan di tempat ini?! Aku sedang ingin menemui klienku! Jadi tolong mengertilah ..." ucap Reo menatap pria itu dengan sepasang mata yang memicing.


"Apa yang sedang aku lakukan disini? Tentu saja untuk menemuimu, Mr. Rei." ucap pria itu dengan senyum ramahmya.


"Apa? Jangan bilang kamu adalah ..." ucap Reo terpotong.


"Sepertinya memang seperti itu, Tuan. Aku adalah perwakilan dari Snow Fashions, VIP klien dari Fukushi Group." jawab pria itu kembali. "Dan mulai hari ini aku akan berada di F Group untuk memantau segala proses produksi, untuk memastikan barang-barang yang kalian produksi untuk kami benar-benar sesuai dengan permintaan kami." imbuh pria itu kembali dengan ramah seperti biasanya.


Bagaimana mungkin ini bisa terjadi seperti ini? Mengapa bisa sangat kebetulan seperti ini? Atau apakah dia sengaja melakukan semua ini? Tapi untuk apa? Atau apakah aku yang sudah berlebihan? Lin Chen ... sepertinya aku harus lebih ekstra mengawasimu. Karena aku merasa ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan ...


Batin Reo masih menatap Lin Chen dengan penuh selidik.


"Baiklah. Silakan duduk, Tuan Lin Chen! Anak buahku akan segera mempersiapkan sebuah ruangan khusus untukmu." ucap Reo mulai bersikap ramah, meskipun hanya sebuah formalitas saja.


Karena sebenarnya Reo masih sangat mencurigai Lin Chen.


"Baik, Mr. Rei. Terima kasih ..."


Mereka berdua mulai membahas sesuatu yang menyangkut tentang pekerjaan mereka dan kerjasama di antara mereka. Memang sangat terlihat jika Lin Chen sudah cukup berpengalaman dan terampil. Namun hal ini tetap saja tak mengurangi kewaspadaan Reo terhadapnya.


...🍁🍁🍁...


"Asyikkl!! Aku bakalan punya adek sebentar lagi!! Horee!!" Leona berjingkrak senang karena sudah mengetahui jika mamanya sedang mengandung saat ini.


Leona bahkan mengelus-elus dan mencium perut Ayaneru dengan gemasnya.


"Jadi adek bayinya di dalam perut mama terus ya? Apa tidak bosan, Ma? Apa tidak sesak, Ma? Lalu kapan dia akan keluar dan bisa bermain dengan kami, Ma? Apa tidak bisa sekarang saja dikeluarkan, Ma? Aku tidak sabar ingin bermain dengannya, Ma!" kicau Leona dengan lucunya dan mah membuat Ayaneru tertawa kecil.


"Leona, janin itu memiliki masa pertumbuhan ketika di dalam rahim. Dia akan segera melihat dunia jika waktunya sudah tiba. Jadi tidak bisa keluar sekarang, atau akan sangat tidak baik jika semua itu terjadi." sahut Leon menjelaskan.


"Jadi kapan dong kak kita bisa bertemu dan bermain dengan adik bayi?" tanya Leona lagi.


Darimana putra kecilnya begitu memahami semua itu? Mungkin seperti itulah kata hati Ayaneru saat ini.


"Benar begitu kan, Ma?" tanya Leon beralih menatap sang mama. "Sebenarnya aku hanya sedikit mengetahuinya dari buku kehamilan mama saat kita di London." imbuh Leon meringis.


"Hhm? Itu benar sekali, Sayang. Mama minta kalian untuk selalu mendoakan untuk adek kalian ya. Agar adek kalian selalu sehat dan bisa lahir dengan lancar." ucap Ayanery mengusap lembut kedua kepala buah hatinya.


"Hhm. Iya, Ma! Kami akan selalu mendoakan mama dan adek! Benar begitu kan, Kak Leon?" sahut Leona berbinar melirik Leon.


"Hhm. Iya ..."


"Jika adek kalian sudah hadir nanti, kalian juga harus menyayanginya dengan baik ya, Sayang ..."


"Hhm. Tentu saja, Ma! Aku akan mengajaknya untuk bermain boneka barbie bersama!" sahut Leona.


"Tidak boleh! Jika adeknya cowok, maka kakak akan mengajaknya untuk bermain di dunia digital dan bermain catur!" sahut Leon dengan cepat.


"Ihh ... aku maunya adek cewek, Kak!" seru Leona mengerucutkan bibir mungilnya beberapa senti ke depan.


"Jangan, Leona! Cowok saja adeknya ya, Ma! Jika kakak memiliki adek cewek yang sama cerewetnya sama sepeti kamu bisa pusing kakak!" ucap Leon.


Perdebatan Leon dan Leona sungguh sangat lucu membuat Ayaneru tersenyum sendiri karena gemas.


"Adek cewek maupun cowok tidak masalah, Sayang. Asalkan sehat. Dan kita juga harus selalu bersyukur." ucapnAyaneru menengahi perdebatan kedua buah hatinya.


"Hufftt ... okay deh, Ma." sahut Leona dan Leon pasrah.


"Papa pulang ..." tiba--tiba saja mulai terdengar suara seorang pria yang sudah sangat dinantikan oleh Leon dan Leona. Terutama Leona!


Leona segera melompat dari sofa panjang itu dan bergegas untuk menyambut seseorang yang baru datang itu.


"Papa!!!" Leona berlari ke arah papanya dan segera melempar dirinya ke dalam pelukan sang papa.


Sedangkan Reo sudah duduk bersimpuh untuk mengimbangi Leona dan memeluk tubuh mungil itu.


"Bagaimana hari ini di rumah bersama mama dan kak Leon? Leona tidak nakal dan menyusahkan mama bukan?" tanya Reo menggoda putri kecilnya.


"Tidak dong, Pa!! Aku hanya meminta sama mama agar adeknya cepat lahir saja kok, agar aku bisa segera bisa bermain bersama dengannya adek saja kok, Pa! Tapi kata kak Leon itu tida bisa. Dan aku hafus menunggu selama 40 minggu. Huft ..."ucap Leona mengadu.


Untuk beberapa saat Reo jug dibuat melongo oleh ucapan putri kecilnya. Dan sebenarnya Reo cukup kebingungan harus menjawab apa saat ini. Karena jika Reo sampai mengatakan jika ucapan Leon adalah benar, maka sudah bisa dipastikan jika Leona akan mengambek padanya. Dan menurnya itu adalah situasi yang sangat berbahaya.


"Uhm ... begini, Leona sayang. Sebenarnya papa, mama, dan kak Leon juga sudah tidak sabar untuk menantikan adek kecil hadir di antara kita. Namun saat ini adek kecil sedang menikmati dan asyik bermain di dalam. Dan kita tidak bisa memaksanya untuk adek kecil agar segera keluar, Sayang. Jadi intinya kita harus menunggunya." ucap Reo mengusap lembut kepala Leona, berharap anak gadisnya tidak akan mengambek karena jawaban darinya.