Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Pilihan Ayaneru ...



Sinar mentari mulai menyingsing, cahayanya begitu hangat menyinari dunia dan seisinya. Udara pagi ini juga terasa begitu segar, dengan langit biru yang cerah berhiaskan dengan awan putih.


Seperti biasanya, Ayaneru selalu bangun pagi untuk menyiapkan segala keperluan suaminya. Dan semenjak Reo mengalami kecelakaan yang membuatnya lumpuh, Ayaneru malah semakin rajin dan bersemangat untuk berbakti kepada sang suami.


Wanita cantik itu tak pernah merasa lelah, bahkan disaat kehamilannya yang sudah mencapai trimester ketiga ini. Rasa lelah seakan tak pernah dirasakan olehnya lagi. Yang selalu dia ingat adalah untuk selalu patuh dan berbakti kepada suaminya.


Dan dia juga selalu berharap agar suaminya bisa segera pulih kembali. Agar bisa menjalani hari-harinya dengan lebih leluasa seperti sedia kala.


Ayaneru juga selalu membantu Reo untuk mandi di setiap harinya, meskipun sebenarnya berulang kali Reo melarangnya, karena Reo sendiri juga tak ingin merepotkan atau menjadi beban untuk sang istri.


"Padahal aku bisa melakukannya sendiri, Sayang. Kamu sedang hamil besar. Dan ini akan menyulitkanmu. Keluarlah ... aku akan melakukannya sendiri." ucap Reo yang masih saja selalu mengusir dan menolak untuk dimandikan oleh Ayaneru.


"Selagi aku masih bisa melakukannya, maka aku akan melakukannya." ucap Ayaneru kekeh.


Kini Ayaneru mengambil dan menuangkan sampo di atas tangannya dan memakaian di rambut Reo yang sudah basah.


"Maaf ya, jika aku selalu merepotkanmu. Dan maaf aku malah menjadi beban untukmu." ucap Reo lirih dan sedikit mendongakkan kepalanya karena saat ini Ayaneru sedang mencuci rambut Reo.


"Apa yang sedang kamu katakan, Sayang? Jangan pernah berpikir sedikitpun jika kamu adalah beban untukku. Aku sama sekali tak pernah merasa direpotkan. Dan aku sama sekali tak pernah berpikir seperti itu. Karena masih bisa berada di dekatmu saja aku sudah sangat beruntung." ucap Ayaneru dengan jujur dan mulai menyiram rambut Reo dengan air.


"Hhm. Terima kasih, Sayang. Kamu adalah istri terbaik!"


"Tidak kok, aku masih banyak kekurangan. Hehe ..."


"Neru ..."


"Hhm?"


"Bagaimana jika aku tidak akan bisa sembuh dan pulih kembali? Bagaimana jika selamanya aku cacat seperti ini?"


"Ssttt, jangan berbicara seperti itu ... kamu harus selalu berpikiran positif! Kamu pasti akan segera pulih kembali! Dan kamu harus tetap semangat untuk selalu menjalani terapi dan minum obat dengan teratur." tandas Ayaneru dengan tegas, namun masih saja terdengar lembut.


"Aku serius, Neru. Jika aku memang tidak akan bisa sembuh lagi, maka aku tidak akan mengekangmu lagi. Aku akan membebaskanmu. Kamu juga harus melanjutkan hidupmu. Karena aku tak bisa lagi menjadi suami yang baik untukmu. Aku bahkan tak bisa lagi memberikan nafkah batin untukmu ..." ucap Reo lirih.


Bahkan suaranya terdengar samar-samar karena tertutup oleh gemericik air di dalam kamar mandi ini.


Ayaneru sama sekali tidak menjawab Reo. Namun wanita cantik itu hanya fokus untuk memandikan Reo saja. Cukup lama Reo menunggu jawaban dari Ayaneru, namun dia tak mendapatkannya juga. Dan hal ini cukup membuat Reo bingung.


Hingga akhirnya Ayaneru mulai membawa Reo untuk kembali ke kamar dengan menggunakan kursi roda setelah ritual mandi itu selesai. Setelah itu Ayaneru memakaikan pakaian bersih dan harum untuk Reo.


Dia berperilaku dengan biasa-biasa saja tanpa memperlihatkan ekspresi apapun, kecuali wajah ceria dan berbinar. Karena Ayaneru tak memasukkan ke dalam hatinya ucapan terakhir Reo yang sebenarnya jika dipikirkan akan membuatnya bersedih.


Wanita mana yang tidak akan bersedih jika suaminya meminta dirinya untuk pergi meninggalkannya disaat sang suami sedang rapuh dan tidak berdaya. Istri yang baik sudah pasti malah menemaninya di segala suka dan duka.


"Neru ... mengapa kamu diam saja?" Reo mulai membuka perbincangan kembali disaat Ayaneru duduk bersimpuh di hadapannya dan mulai memakaikan kancing kemeja Reo.


"Aku harus menjawab apa, Sayang? Mau kamu memintanya puluhan kali atau ratusan kali hingga ribuan kali, aku tetap akan pada pilihan dan keputusanku sendiri. Dan keputusanku tak akan pernah berubah sampai kapanpun. Aku akan tetap akan bertahan dan selalu bersamamu sebagai istrimu."


Ucap Ayuaneru menghiasi wajah ayunya yang kini pipinya sudah menjadi chubby dengan senyuman indahnya. Padahal sebenarnya dia masih cukup terpukul jika mengingat ucapan Reo.


Reo tertegun selama beberapa saat ketika dia mendengarkan jawaban dari sang istri. Ada rasa bahagia dan terharu karena sang istri akan menerima bagaimanpun keadaannya. Namun tentunya juga ada rasa sedih karena merasa tak berguna dan tak bisa diandalkan lagi.


Reo masih saja menatap lekat sang istri penuh kekalutan, sementara Ayaneru yang baru saja menyelesaikan mengancingkan kancing kedua dari atas, beralih menatap Reo dengan senyum tipis.


Ayaneru meraih kedua belah jemari hangat yang berukuran hampir dua kali lipat dari jemarinya itu dan mengusapkan pada kedua pipinya lembut.


"Jika kamu masih bicara omong kosong lagi, maka aku akan marah padamu!" ancam Ayaneru yang kali ini memasang wajah serius.


Reo tersenyum tipis dan berakhir tertawa kecil sembari menggerakkan jemarinya mengusap wajah Ayaneru gemas.


"Baiklah. Aku akan usahakan untuk tidak mengatakannya lagi."


"Apa?! Berarti masih ada kemungkinan kamu mengatakannya dong, Sayang? Apa kamu benar-benar ingin membuatku marah?" tanya Ayaneru tak percaya.


"Aku tidak mengatakan hal seperti itu. Namun mau seperti apapun kamu, kamu masih saja terlihat selalu cantik. Kau marah, cemberut, tersenyum, tertawa atau menangis ... kamu tetaplah cantik. Bahkan disaat kamu sedang tertidur saja kamu sangat cantik." ucap Reo masih dengan tawa kecilnya.


"Ughh ... pagi buta seperti ini sudah saja menggombal!" Ayaneru menggerutu dan berpura-pura kesal dengan wajah yang sudah merona, padahal dia merasa senang disaat suaminya menggoda dirinya.


"Aku tidak sedang menggombal, Sayang. Semua yang aku katakan adalah jujur. Dan semua itu nyata." sahut Reo masih saja tertawa kecil.


"Hhm. Ya sudah terserah saja deh asal kamu bahagia." jawab Ayaneru pasrah dan mulai memakaikan jas hitam untuk Reo.


"Kebahagianku adalah sederhana. Yaitu dengan melihatmu tersenyum, dan tertawa bahagia. Hanya itu ..." ucap Reo yang sudah berhenti tertawa dan berubah menjadi serius.


"Duh ... manisnya mulut suamiku ... lama-lama aku benar-benar akan melayang!" timpal Ayaneru tersenyum tipis dan memicingkan sepasang matanya menatap Reo.


"Oh ya? Manis ya? Kalau begitu apa mau merasakannya sekarang? Kemarilah ..." ucap Reo sengaja malah menjurus ke hal lain.


"Ti-tidak seperti itu yang aku maksud ..."


"Kamu yang kemari apa aku yang ke situ?" ucap Reo memberikan kedua pilihan yang sebenarnya pasti hanya ada satu pilihan pasti yang akan dipilih oleh Ayaneru. Karena pilihan ini adalah jebakan sekaligus ancaman.


"Ehh? Tu-tunggu! Baiklah aku yang akan mendekat!" ucap Ayaneru dengan cepat karena mengkhawatirkan Reo.


Hingga akhirnya Ayaneru yang masih duduk di hadapan Reo sedikit mendongak dan mendekati wajah Reo.