
"Sayang, kamu sudah kembali ..." Ayaneru menyambut suaminya yang baru pulang dengan hangat dan mulai mendorong kursi roda Reo memasuki kamar hotelnya.
Sementara Gavin, setelah mengantarkan Reo dia segera berpamitan untuk pergi ke kantor kepolisian sesuai dengan perintah dari Reo.
"Hhm. Aku membawakan makanan kesukanmu, Sayang. Makanlah selagi masih hangat." ucap Reo memberikan sebuah bingkisan yang memiliki aroma begitu manis dan gurih. Sangat menggoda saliva.
"Hhm. Terima kasih. Tapi aku akan memakannya bersamamu!" sahut Ayaneru berbinar dan meletakkan bingkisan itu di atas meja.
Setelah itu wanita cantik itu kembali menghampiri Reo dan mulai membantu Reo untuk berganti pakaian. Dengan pelan dan hati-hati Ayaneru melepaskan jas dan dasi Reo. Lalu melepaskan kemeja dan mulai menggantinya dengan pakaian tidurnya.
Namun sebelum mereka tidur, Ayaneru mendorong kursi roda itu di dekat sofa untuk mengajak Reo makan bersama. Ayaneru membuka bingkisan makanan itu dan malah berusaha untuk menyuapi Reo.
Namun Reo segera menahannya dengan tangannya, "Sayang, aku membelikan yakitori ini untukmu. Mengapa kamu malah mau menyuapiku? Makanlah ... tempat dimana aku membeli yakitori ini adalah rekomendasi dari Jion. Kata Jion yakitori ini sangat lezat."
"Hmm? Benarkah itu?" tanya Ayaneru penuh binar.
"Hmm. Tentu saja. Dia begitu menyukai kuliner. Jadi dia akan sangat memahami dimana makanan-makanan enak berada." sahut Reo seadanya.
"Hhm. Kalau begitu ayo kita makan bersama, Sayang! Aku tidak akan memakannya, jika kamu tidak mau menemaniku makan!" tandas Ayaneru pelan namun penuh dengan penekanan.
Reo menarik sudut-sudut bibirnya dan tersenyum hangat menatap istri yang sangat disayanginya.
"Baiklah. Aku akan menemanimu makan, Istriku ..." jawabnya dengan hangat dan lembut.
Bahkan tatapannya begitu teduh dan membuat Ayaneru terbuai selama beberapa saat. Namun Ayaneru segera membuyarkan angannya dan melanjutkan menyuapi Reo dengan setusuk yakitori itu.
Ayaneru juga memakan untuk dirinya sendiri, dan kembali menyuapi Reo lagi. Begitulah seterusnya hingga satu porsi yakitori itu bersih tanpa sisa hanya dalam beberapa menit saja.
"Bagaimana? Apa itu enak?" tanya Reo penasaran.
"Hhm. Ini lezat sekali ..."
"Ya! Ini yakitori paling enak yang pernah aku makan. Karena kamu yang menyuapinya untukku." ucap Reo dengan tawa kecil.
"Ahaha ... apaan sih? Yang seperti itu tidak akan berpengaruh!" jawab Ayaneru dengan tawa kecil.
"Dan sepertinya anak kita juga menyukainya lo, Sayang. Lihatlah ... kamu sama sekali tidak mual seperti biasanya. Bahkan kamu begitu lahap memakannya."
"Eh? Iya juga ya? Ternyata si kecil menyukainya ..." Ayaneru tertawa kecil dan mulai mengusap perutnya yang sudah semakin membesar.
Reo juga mengusapnya dengan lembut. Rasanya bahagia sekali karena saat ini masih diberikan sebuah kesempatan untuk membersamai Ayaneru disaat hamil. Meskipun saat ini Reo merasa jika dirinya kurang berguna dan kurang bisa diandalkan karena cacat.
"Sayang, tidur yuk!" ajak Ayaneru.
"Hhm ..." Reo mengangguk pelan disertai dengan dengan senyuma manisnya.
Ayaneru kembali mendorong kursi roda itu menuju ke pembaringan. Lalu dia membantu Reo untuk berdiri dan berpindah ke pembaringan. Dengan begitu sabar Ayaneru melakukan semua itu.
Disaat Reo sudah berhasil duduk di tepian pembaringan, Ayaneru mulai menganggakat kaki Reo satu persatu menaikkannya di atas pembaringan. Wanita cantik itu juga membantu Reo untuk bisa berbaring.
Namun Reo malah membuka tangan kirinya dan meminta sang istri untuk tidur dengan bantalan lengannya yang masih sehat dan kuat.
"Kemarilah, Putri tidurku..." ucap Reo menantikan sang istri untuk tidur di sebelahnya.
Dengan penuh binar Ayaneru segera menuruti ucapan Reo dengan patuh dan berbaring dengan menggunakan lengan kiri Reo untuk bantalannya.
Mendengarkan setiap ritme melodi indah dari detak jantung sang suami, menghirup dalam aroma tubuh khas suaminya yang selalu dia rindukan, merasakan setiap hembusan nafas hangat suaminya yang selalu membuatnya nyaman, serta menikmati pelukan hangat sang suami yang seakan dia tak pernah untuk pergi dari dekapannya meskipun hanya satu detik.
Karena semua itu sangatlah membuatnya merasa nyaman dan tenang. Seaka beban hidupnya sirna begitu saja. Dan tak membutuhkan waktu yang lama, mereka sudah tertidur begitu saja dalam kenyamanan masing-masing. Karena sebenarnya Reo juga merasakan hal yang sama seperti yang Ayaneru rasakan.
...🍁🍁🍁...
Keesokan harinya Reo dan Ayaneru hanya menghabiskan waktu bersama di hotel. Karena selama ini mereka sangat jarang bisa menghabiskan waktu berduaan seperti ini. Bahkan saat bulan madu saja mereka tidak hanya berduaan bepergian.
Reo terlihat masih terduduk di atas kursi rodanya dan sedang berada di balkon kamarnya yang menghadap ke Tokyo Skytree, Tokyo Tower dan Rainbow Bridge.
Dan sebenarnya hotel dimana mereka menginap adalah berada tak jauh dari apartemennya. Malah sangat dekat! Andai saja Leon curiga dan melacak keberadaan kedua orang tuanya, maka sudah bisa dipastikan Leon akan segera menemukan mereka berdua.
"Aku membuatkan flat white untukmu. Kebetulan di sini disediakan foam, taburan coklat, dan steamed milk. Lengkap sekali hotel ini. Hehe ... minumlah, Sayang..." ucap Ayaneru yang sudah datang membawakan secangkir kopi kesukaan Reo yang masih hangat.
"Wah. Sudah lama aku tidak meminum flat white. Terima kasih, Sayang." ucap Reo dengan tulus dan mulai menikmati kopi buatan istrinya.
Sedangkan Ayaneru segeran duduk di sebelahnya untuk melihat pemandangan pagi ini di hadapannya.
"Uhm ... apa kamu sudah menemukan pelakunya, Sayang?" tanya Ayaneru yang sebenarnya sudah sangat ingin menanyakan hal ini kepada Reo sejak kemarin malam, namun selalu dia tahan karena khawatir Reo akan kembali bersedih saat mengingat kondisinya yang sekarang ini adalah karena orang itu.
"Sudah. Gavin sudah mengurus sisanya ..." jawab Reo sambil meletakkan kembali secangkir gelas bening yang kini masih berisi setengah dari flat white itu.
"Siapa orang itu?" tanya Ayaneru lagi lirih.
"Jay Yeol ..."
"Jay Yeol?" Ayaneru mengulang kembali ucapan Reo, seakan msih begitu tak percaya jika Jay Yeol masih bisa berniat untuk mencelakai Reo.
"Benar. Dia adalah orang yang sangat berbahaya. Lebih berbahaya dari Maria malah. Karena dia juga sangat licik."
"Hhm. Iya." sahut Ayaneru mulai terlihat murung karena mengingat kebodohannya di masa lalu, yang begitu mudahnya dia mempercayai Jay Yeol yang ingin memperksos*nya bersama Aaronn.
"Kenapa bersedih seperti itu?"
"Hhm? Aku hanya bersedih dan marah karena dia sangat jahat dan tidak bisa berubah. Bahkan dia tega melakukan semua ini padamu. Padahal selama ini kamu tidak pernah mengusik hidupnya. Karena itu adalah salah Maria yang selalu saja berusaha untuk mendekatimu ..."
"Iya, kamu benar. Ya sudah jangan bicarakan dia lagi. Mood-ku seketika memburuk jika membicarakan mereka. Sebaiknya kita membicarakan untuk ... uhm ... mencari nama untuk si kecil."
"Hhm? Baiklah ..."
"Karena Leon dan Leona adalah kamu yang memberikan nama. Maka kali ini aku yang akan memberikan nama ya ..." ucap Reo mulai berninar kembali.
"Baiklah ..." sahut Ayaneru mengiyakan begitu saja dengan senyum lebarnya.
"Aku punya beberapa nama untuk dipilih. Kamu nanti bantu aku untuk memilihnya ya ..."
"Baiklah ... baiklah ..."
Perbincangan mereka terus berlanjut dalam pemilihan nama-nama untuk buah hati mereka yang akan segera hadir diantara mereka.