Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Jangan Menangis



Setelah beberapa saat, akhirnya seorang dokter yang masih memakai masker medis keluar dari ruangan ICU diikuti oleh beberapa tenaga medis di belakangnya.


Ayaneru segera bangkit dari duduknya lalu menghampiri dokter itu karena sudah tak sabar untuk mengetahui kondisi dari Reo.


"Dokter, bagaimana kondisi suami saya, Dok?" tanya Ayaneru tak sabaran.


"Mari ke ruangan saya, Nyonya. Karena ada yang ingin saya sampaikan kepada nyonya." ucap dokter pria itu mulai melepaskan masker medisnya.


"Baik, Dokter. Kara, tolong tetap disini sampai Jion dan pengawal datang!" ucap Ayaneru beralih menatap Kara.


"Hhm. Tenang saja. Kamu pergilah." sahut Kara.


Ayaneru dan dokter itu mulai menuju ke sebuah ruangan, dan mereka mulai duduk saling berhadapan hanya bersekat sebuah meja kecil saja.


"Oprasi sudah berhasil dilakukan, Nyonya. Tapi ada kerusakan saraf motorik yang dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan motorik derajat berat, hingga menyebabkan kelumpuhan total motorik." ucap sang dokter dengan berat.


"Ap-apa, Dok? Suamiku mengalami kelumpuhan?" tanya Ayaneru seakan tak percaya saat mendengarkan semua itu.


Suaranya begitu bergetar dan dadanya terasa begitu sesak dan sakit karena mendengarkan kondisi suaminya yang menjadi lumpuh.


"Benar sekali, Nyonya. Kondisi kehilangan kemampuan motorik tuan Reo untuk menggerakkan salah satu otot tubuh atau lebih ini belum diketahui untuk sementara waktu atau secara permanen. Namun semoga saja dengan terapi semua bisa pulih kembali." ucap sang dokter lagi.


"Tuan Reo mengalami Paraplegia yaitu suatu kelumpuhan, dimana hilangnya kemampuan untuk menggerakkan anggota tubuh bagian bawah. Hal ini menyebabkan tuan Reo tidak bisa menggerakkan otot-otot pada kedua tungkai kaki, dan terkadang panggul serta beberapa anggota tubuh bagian bawah lainnya." dokter itu menjelaskan lagi.


Seementara Ayaneru tak bisa berkata-kata lagi. Lidahnya terasa begitu kelu dan tubuhnya seakan menjadi lemas tak berdaya setelah mendengar penjelasan dari sang dokter.


"Ba-bagaimana ini bisa terjadi, Dok?" tanya Ayaneru setelah sekian menit Ayaneru terdiam.


"Kelumpuhan ini terjadi akibat trauma yang terjadi dari kecelakaan tersebut. Yaitu trauma pada tulang belakang, sehingga menyebabkan gangguan saraf dan menyebabkan kelumpuhan, Nyonya." sahut sang dokter lagi.


"Apakah tidak ada cara untuk memulihkannya kembali, Dok?" tanya Ayaneru penuh harap.


"Perlu dilakukan latihan pada anggota gerak yang mengalami kelumpuhan oleh bagian fisioterapi. Latihan perlu disesuaikan dengan kondisi kelumpuhan yang dialami. Karena penyembuhan atau pemulihan fungsi saraf tergantung dari derajat kerusakannya, Nyonya. Sistem saraf dapat dirangsang dengan beberapa cara antara lain latihan-latihan fisik yang sesuai dengan fungsi saraf tersebut. Mulai dari bagian pinggang sampai kakinya tidak berfungsi. Itu dikarenakan tuan Reo mengalami luka dalam bagian pinggang belakang."


"Selain obat dan terapi, tuan Reo juga harus beistirahat yang cukup. Selalalu latih bagian tubuh yang lemas secara perlahan. Kelola stress dengan bijak. Rawat luka luar secara teratur juga. Dan lalukan kontrol secara rutin." ucap pria dengan jas alamamater putih itu lagi.


Setelah beberapa saat berada di ruangan dokter, kini Ayaneru mulai mendatangi ruangan rawat Reo yang rupanya sudah dipindahkan di ruangan rawat VVIP.


Ayaneru mulai memasuki ruangan rawat sang suami. Wajah ayunya terlihat begitu mendung, sedih dan kalut saat ini. Hatinya terasa sangat sesak saat melihat kondisi suaminya saat ini.


Langkah kakinya terasa begitu berat saat semakin mendekati brankar, dimana disana Reo sedang berbaring lemah dan masih tidak sadarkan diri. Beberapa selang dan perban terlihat melilit pada beberapa anggota tubuh Reo dengan rapi. Bahkan Reo juga masih memakai alat bantu pernafasan saat ini.


"Bahkan disaat seperti itu, Reo masih saja berusaha untuk menjaga hadiah ini untukmu. Reo sungguh tulus kepadamu, Neru. Dia benar-benar menyayangimu, Neru." ucap Jion semakin membuat hati Ayaneru menjadi sesak, sangat sakit seperti teriris-iris.


"Reo bahkan lupa untuk melihat sekitarnya. Dan hanya fokus untuk segera mengambil hadia yang terjatuh ini. Namun naas, sebuah mobil.yang sedang melaju kencang malah menabraknya dan melarikan diri begitu saja." ucap Jion lagi


Ayaneru menunduk dan memandangi kotak hadiah berwarna biru navy itu. Perlahan dia membukanya dan melihat sebuah gelang dengan emas putih yang begitu indah dan berkilauan.


Lelehan air mata hangat mulai membasahi pipinya kembali. Rasanya begitu sakit ketika membayangkan suamninya yang mengalami kecelakaan saat itu hingga membuatnya menjadi lumpuh.


"Aku harap, untuk selanjutnya kamu bisa selalu ada untuk dia dan menjaganya dengan tulus." ucap Jion penuh harap.


DRRTT ...


Ponsel Jion bergetar dan dia segera meninggalkan ruangan rawat ini. Sementara Ayaneru mulai duduk di samping brankar untuk menjaga dan menemani suaminya.


Tentu saja aku akan selalu ada untuknya. Dan aku juga akan selalu menjaganya ... aku tidak akan pernah meninggalkannya apapun yang terjadi.


Batin Ayaneru menahan tangisnya dan meraih jemari Reo yang terasa begitu hangat, menandakan masih ada kehidupan disana. Ayaneru menempelkan jemari Reo pada pipinya dan sesekali mengecupnya.


Namun tiba-tiba saja Ayaneru merasakan ada sebuah pergerakan pada jemari itu, hingga akhirnya perlahan Reo juga mulai membuka sepasang matanya.


Jujur saja, Ayaneru merasa sedikit lega karena semua ini. Setidaknya Reo sudah berhasil selamat dari kecelakaan naas dan masih bisa bertahan.


Orang pertama yang dilihatnya saat Reo baru membuka sepasang matanya adalah istrinya yang sangat dia cintai melebihi apapun. Sebuah senyuman tipis mulai terukir menghiasi wajah pucat Reo karena melihat sang istri.


"Sel-lamat ul-lang tahun, Say-yang ..." ucap Reo lirih.


Mendengar ucapan Reo membuat dada Ayaneru menjadi semakin sakit dan sesak. Bahkan lelehan ait mata hangat itu mulai membasahi pipinya lagi saat ini.


Disaat seperti ini saja kamu masih saja bisa mengingat ulang tahunku.


Batin Ayaneru semakin beruraian dengan air mata dan tak bisa berkata-kata selama beberapa saat.


"Say-yang ... ja-ngan menangis ... maafkan aku jika aku pulang terlambat ... maaf ..." ucap Reo kembali sangat lirih dan merasa sangat bersalah.


Reo berusaha untuk mengangkat tangan kirinya dan mulai menyeka air mata sang istri dengan hangat dan lembut.


"Jangan menangis, Sayang ... aku tidak bisa melihatmu bersedih dan menangis seperti ini ..." ucap Reo berharap Ayaneru akan berhenti menangis.


Namun pada akhirnya Ayaneru malah semakin menangis tersedu-sedu selama beberapa saat. Bahkan cukup lama Reo membujuknya agar berhenti menangis, hingga Ayaneru akhirnya mulai berhenti menangis setelah menit ke sekian.