
Reo tertawa kecil dan menatap gemas Ayaneru yang masih terbaring di dalam cengkeramannya.
"Benarkah itu? Lalu bagaimana denganmu, Neru? Kamu juga akan ditendang olehnya juga. Kerena kamu pernah mencampakkan dia dan malah menghabiskan malam panas bersamaku saat itu." ucap Reo tersenyum licik menatap Ayaneru.
Dan sepertinya Reo masih ingin bermain-main dengan Ayaneru, karena Reo merasa sedikit kesal saat Ayaneru mengatakan jika dirinya sudah mati karena sebuah kecelakaan.
"Cihh!! Apa maumu sebenarnya, Reo?!! Mengapa kamu melakukan semua ini padaku?!" ucap Ayaneru merasa sangat kesal akan sikap Reo.
Selama beberapa saat Reo hanya terdiam menatap lekat sepasang mata indah bak green sapphire diamond itu.
"Menikahlah denganku, Neru!" ucap Reo tiba-tiba dan masih saja menatap lekat sepasang manik-manik indah milik Ayaneru.
DEGH ...
Jantung Ayaneru berdegup semakin kencang setelah mendengar ucapan dari Reo. Sungguh hal seperti ini tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Ayaneru. Dan tentu saja hal itu membuatnya terkejut bukan main.
"Bagaimana, Neru? Selama 5 tahun ini kita juga masih hidup sendiri-sendiri. Namun rupanya takdir malah mempertemukan kita kembali. Mengapa kita tidak bersama saja? Dan ijinkan aku untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu. Karena aku tak pernah tau, jika selama ini aku memiliki anak." ucap Reo yang semakin membuat Ayaneru semakin sulit untuk menelan salivanya sendiri.
"Itu ... itu tidak mungkin, Reo!" tandas Ayaneru berusaha untuk berkata dengan tegas.
"Kenapa? Mengapa tidak mungkin, Neru?"
"Kita bahkan tak pernah saling dekat sebelumnya. Ditambah lagi, kamu sangat mengenal dekat presdir utama dari Fukushi Group. Semua akan menjadi sangat berantakan. Semua orang akan menggunjingnya. Sudah cukup aku mempermalukan dia di masa lalu. Kini aku tak mau lagi membuatnya semakin kesulitan hanya karena kebodohanku."
Ucap Ayaneru dengan jujur, karena jujur saja sampai saat ini Ayaneru masih saja merasa bersalah kepada mantan pria yang pernah dijodohkan dengan dirinya di masa lalu, yaitu Mr. Rei, presdir utama dari Fukushi Group.
"Kamu memikirkannya? Kamu peduli padanya, Neru?" ucap Reo tersenyum miring seolah tak mempercayai ucapan dari Ayaneru.
"Tentu saja. Hanya karena kebodohanku aku malah merusak semuanya! Dan itu semua adalah karena kamu, Reo!"
Reo mulai mengeraskan rahangnya karena merasa sedikit kesal saat Ayaneru malah menyalahkan dirinya. Walaupum semua itu memang sangat benar dan sangat disadari oleh Reo.
"Baiklah!! Aku mengakui, jika akulah yang salah. Maka dari itu, biarkan aku untuk menebus semua kesalahanku saat ini. Aku berjanji aku akan berusaha untuk melindungi dan memberikan kehidupan yang layak untuk kalian. Jangan pikirkan yang lain. Untuk Mr. Rei. Biarkan aku yang menanganinya. Lagipula ... kasihan Leo dan Leona, Neru. Selama ini mereka selalu dibulli oleh teman-temannya karena mereka tak memiliki seorang papa. Jadi ... aku memohon padamu. Jika memang kamu sangat berat untuk menerimaku, setidaknya pikirkan anak-anak kita. Mari kita bersama demi anak-anak kita ..." ucap Reo berusaha untuk meyakinkan Ayaneru.
Ayaneru masih saja membeku selama beberapa saat. Lidahnya menjadi begitu kelu dan tak bisa berkata-kata saat ini. Sungguh ini adalah diluar dari dugaannya!
"Neru ... apa kamu mau memulainya denganku?" tanya Reo lagi karena Ayaneru masih saja terdiam dan hanya menatapnya dengan sepasang mata yang bergetar. "Meskipun aku tak sehebat Mr. Rei, namun aku berjanji akan berusaha untuk membahagiakan kalian. Aku juga berjanji, aku akan segera memperbaiki semuanya juga. Termasuk hubunganmu dengan kedua orang tuamu."
"Tapi, Reo ..."
"Mari lakukan demi anak-anak ..."
Lagi-lagi Ayaneru hanya terdiam karena masih sangat bingung harus menjawab apa? Dan semua itu sangat dirasakan oleh Reo.
"Baiklah. Aku akan memberikan waktu 1 pekan untukmu. Pikirkan semuanya baik-baik, Neru." ucap Reo mulai mundur dan segera melenggang untuk mengambil sesuatu di dalam laci nakasnya.
Sementara Ayaneru mulai duduk dan mengatur nafasnya kembali.
Huft ... syukurlah pria itu melepaskanku ...
Batin Ayaneru mulai meraih slingbag miliknya dan segera menyusul Reo.
...🍁🍁🍁...
CEKLEKK ...
Ayaneru mulai berjalan mengendap-endap dan sangat berhati-hati, agar tidak membangunkan kedua anak kembarnya yang mungkin saat ini sudah tertidur. Karena saat ini lampu rumah sudah dimatikan dan hanya tersisa lampu redup yang menyala.
"Huft ... untung saja mereka sudah tidur." Ayaneru bergumam penuh dengan kelegaan sambil mengusap pelan dadanya.
KLAPP ...
Namun baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja lampu ruangan mulai menyala kembali dan seketika membuat langkah Ayaneru terhenti seolah seperti seorang pencuri yang sedang kepergok oleh sang tuan rumah saat menjalankan aksinya.
Terlihat dua anak kecil dengan piyama lucu sudah berdiri di dekat saklar lampu. Kedua anak kembar itu terlihat seperti baru saja terbangun dari tidurnya dan terlihat masih sangat mengantuk.
"Mama ... mengapa baru pulang selarut ini? Hoammm ..." ucap Leon sambil menguap lebar dan mengucek-ngucek matanya.
"Bukankah pap ... ehh ... maksudku bukankah paman Reo mengatakan jika malam ini mama tidak pulang karena harus lembur, Ma?" ucap Leona yang juga sudah terlihat sangat mengantuk.
"Emm ... itu ... sebenarnya pekerjaan lembur mama sudah selesai. Jadi mama pulang saja. Hehe ..." ucap Ayaneru berkilah. "Ya sudah, sebaiknya kalian segera tidur saja ya, Sayang. Ini sudah sangat larut. Lagipula besok kita akan sibuk untuk acara ulang tahun kalian."
"Hhhm. Baik, Ma." sahut Leon dan Leona bersamaan dan segera kembali ke dalam kamarnya.
Sementara Ayaneru segera bergegas untuk kembali ke kamarnya dan segera membersihkan diri lalu beristirahat.
BRUGGHH ...
Wanita cantik dan masih muda itu mulai menghempaskan tubuh rampingnya di atas pembaringannya. Bukannya langsung tidur, namun dia kembali teringat dengan ucapan Reo beberapa saat yang lalu. Dan hal itu membuat jantungnya kembali berdegup kencang.
Apalagi saat Ayaneru mulai mengingat ciuman itu kembali. Jemarinya secara tak sadar mulai mengusap bibirnya sendiri.
"Ciuman itu ... sama persis seperti 5 tahun yang lalu. Tangan yang hangat itu ... sama persis dengan saat itu. Bahkan sepasang mata kebiruannya yang sangat indah itu begitu menyihir siapapun." gumam Ayaneru malah terbuai saat membayangkan makhluk indah itu.
Namun setelah tersadar kembali, Ayaneru segera menepis jauh semua pemikiran dan kegamumannya terhadap Reo yang begitu kharismatik itu. Bahkan selama ini tak ada seorang wanita yang bisa meluluhkan hatinya setelah dia berpisah dengan Maria.
"Arggghh untung saja aku tidak terbuai lagi dan dia juga tak melakukan hal lebih padaku! Sadarlah, Neru!! Dia itu menyebalkan!!" gumam Ayaneru merasa kesal sendiri dan menuntup wajah ayunya dengan kedua telapak tanganya.
"Namun ... bagaimana dengan penawarannya itu? Apakah dia ingin menikahiku hanya karena ingin bertanggung jawab atas apa yang pernah dia lakukan padaku di masa lalu? Dan itu artinya dia terpaksa melakukan semua itu bukan? Dan bukan karena dia mencintaiku ..." Ayaneru kembali bermonolong, dan kali ini mulai meraih bantal dan memeluknya.
"Arghh, Neru!! Apa saat ini kamu sedang berharap untuk dicintai pria itu? Sudahlah, Neru!! Sebaiknya kamu tidur saja!! Masih banyal yang akan kamu kerjakan esok!!" tandasnya sendiri sambil menenggelamkan kepalanya di bawah bantal.
...🍁🍁🍁...