Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Permintaan Dari Leona



Di dalam sebuah kamar apartemen di prefektur Yokohama, terlihat seorang wanita cantik tengah tertidur pulas di atas pembaringannya. Tangannya memeluk tubuh suaminya yang masih terduduk di sampingnya.


Sang suami terlihat masih menyibukkan dirinya dengan sebuah laptop di hadapannya. Hingga setelah beberapa saat, dia mulai mematikan laptopnya karena sudah merasa lelah, dan dia berniat untuk melanjutkan pekerjaannya esok lagi.


Pria tampan itu meletakkan laptopnya di atas meja di samping pembaringannya. Dia mulai menatap lekat istri cantiknya. Meskipun sudah memiliki dua putri dan satu putra yang sangat manis dan menggemaskan, wanita yang tak lain adalah Ayaneru itu masih saja terlihat cantik dan muda.


Tak peduli apa yang terjadi. Walaupun langit runtuh, aku akan berjanji padamu bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Bahkan ketika aku jatuh terpuruk dan berada di titik terendahku. Hingga membuatku terlihat seperti seseorang yang sangat tak berguna untukmu dan untuk semuanya, kamu masih saja selalu ada untukku, tampa bergetar dan tanpa ragu sedikitpun untuk meninggalkan aku.


Kamu selalu menatapku dengan tatapan yang tak tergoyahkan. Dan kamu selalu ada disampingku di saat aku terpuruk sampai akhir. Kamu selalu memegang tanganku dan bersama denganku. Memberikan support untukku agar lekas sembuh.


Aku mungkin telah menjadi orang yang terburuk yang tak pernah melakukan apapun untukmu, Neru. Tapi aku berjanji, aku tak akan membuatmu menangis lagi. Malam ini, dalam kedua mata dan senyum mu, aku bisa melihat semua rasa sakit yang kamu coba sembunyikan dariku. Aku tau, jikq sebenarnya kamu lelah. Maafkan aku karena telah menjadi sangat tidak berguna untukmu.


Kamu dan aku akan selalu bersama. Itu adalah yang selalu kamu katakan padaku. Terima kasih ... terima kasih karena sudah selalu menerima segala keadaanku Neru.


Aku berjanji, semua akan baik baik saja. Dan aku harus bisa segera pulih kembali! Aku tidak akan meninggalkanmu dan tidak peduli apa yang orang katakan, aku disini untuk melindungimu agar kamu dan aku bisa selalu bersama.


Neru, jangan pernah lepas tanganku


aku tidak akan mengatakan pernah mengatakan selamat tinggal untukmu, walaupun pun dunia ini berakhir. Dan jangan pernah kamu mengucapkannya padamu.


Sama seperti yang lain, aku yakin jika cinta kita akan mengubah dan membutuhkan sedikit waktu. Tapi tolong jangan pernah bersedih lagi. Aku harap aku akan menjadi orang yang paling kamu percaya seperti suami, teman dekat dan seseorang yang bisa menjadi sandaran untukmu. Aku berjanji padamu aku akan tetap disini, Sayang.


Terkadang saat aku menutup mataku ketika malam, kesepian datang. Aku terkadang takut ketika nafasmu tak akan lagi mengenaiku dan tak akan aku rasakan.


Di dunia ini tak ada yang bisa menggantikanmu, Neru. Karena kamu adalah satu satunya wanita yang aku inginkan, dan aku akan selalu berada disini untukmu, Sayang. Hanya kamu dan aku selamanya dan selamanya.


Reo mengusap lembut sisi samping wajah Ayaneru, dan mengecup keningnya, dimana Ayaneru sudah terlelap saking lelahnya hari ini untuk merawat suami serta anak-anaknya.


Meskipun sudah ada beberapa baby sitter dan beberapa asisten rumah tangga yang selalu melakukan pekerjaannya dengan baik, namun tetap saja Ayaneru juga selalu saja menyibukkan dirinya untuk melakukan beberapa pekerjaan rumah dan juga menjaga anak-anaknya.


Karena saat ini, Ayaneru sudah benar-benar berhenti bekerja di kantor dan hanya fokus untuk di rumah saja.


Tak butuh waktu yang lama, Reo juga sudah tertidur begitu saja sambil memeluk sang istri.


...🍁🍁🍁...


Akhir-akhir ini Reo selalu saja menolak jika Ayaneru bersikeras untuk mengantarkan Reo untuk melakukan terapi pada tubuhnya yang mengalami kelumpuhan.


Reo lebih suka pergi sendiri dan diantarkan oleh Gavin saja. Karena Reo tak ingin merepotkan Ayaneru, terlebih saat ini dia masih harus selalu bersama dengan Anya.


"Mama! Mama!!" Leona berlarian menghampiri Ayaneru yang sedang berada ruang tengah sambil menidurkan Anya dalam gendongannya.


Sementara Leon berjalan santai mengikuti Leona dan memilih duduk di sebuah kursi tunggal sambil menikmati sebuah apel merahnya yang terlihat segar.


"Sssttt ... pelankan suaramu, Leona sayang. Adik kecil Anya baru saja tertidur." ucap Ayaneru lirih dan kembali merapikan kancing kemeja bagian atasnya.


Mendengar ucapan dari sang mama, Leona malah meringis lebar dan memperlihatkan deretan gigi susunya yang rapi dan putih.


"Ada apa, Sayang? Apa ada sesuatu? Apa kamu sedang menginginkan sesuatu?" tanya Ayaneru sangat memahami Leona, putri kecilnya yang suka berdrama dan sering bersikap super manis jika sedang menginginkan sesuatu.


"Hhm. Begini, Ma. Sebenarnya aku ingin sekali mengunjungi suatu tempat, Ma ..." ucap Leona menautkan kedua jemarinya di belakang tubuh mungilnya dengan memasang wajah imut.


"Katakan saja kepada mama, Sayang. Kamu ingin berkunjung kemana? Nagoya? Kyoto? Osaka? Tokyo Disney Land? Taman bermain? Atau kemana? Katakan saja kepada mama." ucap Ayaneru mengusap lembut kepala putri kecilnya dan tersenyum hangat.


"Uhm ... itu, Ma. Sebenarnya aku ingin sekalu mengunjungi ..." ucap Leona terlihat mulai ragu-ragu kembali untuk mengatakannya kepada sang mama.


"Katakan saja kepada mama. Jika sedang papa libur nanti, kita akan mengunjunginya bersama." ucap Ayaneru penuh binar.


"Apa mama dan papa benar-benar akan menemaniku berkunjung ke tempat itu, Ma?" tanya Leona mendongak menatap Ayaneru penuh harap.


"Tentu saja, Leona sayang! Jika kami bisa dan memiliki waktu senggang, maka kami akan menemani kalian deh." jawab Ayaneru kembali tersenyum hangat. "Katakan saja kepada mama. Jangan takut ..."


"Uhm ... itu, Ma ... aku ingin sekali melihat ..." ucap Leona kembali terpotong.


"Dia ingin melihat negeri dongeng Swiss, Ma!" potong Leon datar.


"Swiss?" Ayaneru tercengang dan membeku seketika setelah mendengarkan ucalan dari putra kecilnya.


Dia sangat tidak menyangka jika keinginan putrinya saat ini sangatlah fantastis! Leona mengangguk pelan dan masih menatap Ayaneru penuh harap.


"Tap-tapi ... mengapa tiba-tiba saja kamu ingin pergi kesana, Sayang?" tanya Ayaneru sangat ingin tau.


"Swiss sangat indah, Ma. Swiss seperti negeri dongeng. Aku ingin sekali pergi kesana dan melihatnya, Ma." jawab Leona masih saja memasang wajah memelas, berharap keinginannya kali ini akan dikabulkan.


"Tap-tapi ... itu sangat jauh, Sayang. Ditambah lagi saat ini kamu juga sudah sekolah, dan Anya juga masih terlalu kecil. Papa kalian juga masih harus rutin check up dan melakukan terapi. Papa kalian masih belum diijinkan untuk meninggalkan Jepang untuk sementara waktu ini." ucap Ayaneru berharap Leona akan mengerti tentang kondisinya keluarganya saat ini.


"Kita akan pergi ke Swiss!!" tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria dewasa yang begitu jernih dan maskulin, namun tegas dan masih saja mempesona.