Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Tamu Tak Diundang



Seorang pria berambut pirang dengan penampilannya yang begitu rapi terlihat sedang terduduk di dalam ruangan kunjungan di kantor kepolisian. Tatapannya begitu tajam dengan aura membunuh yang sangat kental.


Sementara di hadapannya sudah terduduk seorang wanita cantik dengan pakaian tahanannya yang hanya bersekat sebuah meja berukuran kecil saja. Tatapan wanita itu begitu memelas seakan sedang berharap belas kasihan dari pria itu.


"Jay Yeol ..." wanita itu memberanikan dirinya untuk meraih salah satu tangan pria bernama Jay Yeol itu. "Aku mohon ... percayalah padaku dan jangan tinggalkan aku, Jay." imbuhnya lirih.


"Jangan banyak berharap!" tandas Jay dengan sangat tegas.


"Jay ... aku mohon padamu. Hanya kamu yang bisa membantuku saat ini. Kak Jun Ze bahkan sudah tak bisa membantuku. Reo membatasi semuanya! Aku bahkan tak bisa bertemu dengan sembarangan orang ... aku mohon padamu, Jay Yeol! Aku tidak mau berada di penjara lebih lama lagi. Hiks ..."


Rengek Maria mulai menangis, dan berharap Jay Yeol akan membantunya kali ini.


Namun di luar dugaan, Jay Yeol malah melepaskan tangan Maria dan menatapnya dingin.


"Mengapa kamu bisa sejahat itu, Maria? Mengapa kamu menyebarluaskan sebuah skandal yang menjadi kelemahan wanita itu? Dan mengapa kamu tega menculik putra dari wanita itu saat di Paris?" tanya Jay Yeol dengan sepasang mata yang mulai memicing menatap Maria, wanita yang sebenarnya cukup disukainya.


"Jay ... itu ... it-itu karena ..."


"Karena apa? Karena kamu ingin menjatuhkan dan menyingkirkan wanita itu dari Reo mantan kekasihmu? Dan sebenarnya kamu masih mengharapkan Reo? Apa seperti itu, Maria? Hah??!!" timpal Jay Yeol seakan memojokkan dan menuduh Maria.


"Jj-Jay ... aku mohon dengarkan aku dulu, Jay ... ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan ..."


"Lalu seperti apa?! Jangan berpikir jika aku ini bodoh dan dengan mudah bisa kau bohongi, Maria! Mulai sekarang kita putus! Dan tak ada hubungan apa-apa lagi diantara kita!" ucap Jay Yeol menadaskan dan segera bangkit dari duduknya.


"Jay Yeol! Tunggu ..." Maria masih saja berusaha untuk meraih lengan pria yang baru 1 bulan dipacarinya itu untuk menahannya.


Namun Jay Yeol segera menghempaskan tangan Maria dengan sangat kasar.


"Aku bisa berbuat lebih kejam melebihi Reo jika kamu mau melihat sisi lain dari diriku, Maria! Aku bisa membuat kau kehilangan nyawamu detik ini juga jika kau mau!! Jangan menahanku atau aku akan memperlihatkannya padamu saat ini juga!" tandas Jay Yeol dengan aura yang begitu kelam.


Nyali Maria seketika menjadi ciut saat mendapatkan tatapan membunuh dari Jay Yeol. Hingga akhirnya Maria mulai melepaskan lengan Jay Yeol.


Pria tampan yang juga memiliki aura kelam.itu kini mulai melenggang meninggalkam tempat ini. Seketika Maria terduduk lemas dan merasa dunianya menjadi hancur seketika.


Disaat bersamaan Maria kehilangan pekerjaannya, Reo, orang-orang yang selama ini selalu ada untuknya. Bahkan sang manager saja kini juga tak pernah menemuinya, karena Reo sudah mewanti-wanti Jun Ze sebelumnya untuk tidak turun tangan dalam masalah kali ini, atau jika tidak, Reo akan menutup jalan rezeki Jun Ze dan memblokir nama Jun Ze di dunia entertaiment juga.


Tentu saja Jun Ze sangat takut akan ancaman dari Reo, terlebih saat Jun Ze sudah mengetahui siapa Reo yang sebenarnya. Sang raja dari segala raja dalam dunia bisnis Fashions yang tak pernah terkalahkan sebelumnya.


Disaat Maria mengalami keterpurukannya, di tempat yang berbeda Jun Ze juga sedang merenungi semua hal yang telah terjadi saat ini yang menimpa model besarnya.


"Maria ... maafkan aku. Aku tak bisa berbuat apa-apasaat ini." gumamnya lirih dan tak tau harus berbuat apa.


Sebuah mobil sport berwarna merah menyala mulai berhenti tepat di depan sebuah mini apartement. Seorang pengemudi berwajah sedikit kebulean mulai membuka kaca samping kemudinya untuk menatap gedung yang terbilang cukup kecil itu.


Sebuah kaca mata dengan lensa hitam juga masih bertengger manis pada tulang hidungnya yang mancung dan selalu membuat iri semua orang karena bentuknya yang sangat sempurna.


Setelah memastikan jika lokasi ini sudah sesuai dengan alamat yang telah diberikan oleh seseorang, kini pria itu mulai turun dari mobil mewahnya.


Dengan langkah lebarnya yang begitu gagah, kini dia mulai memasuki halaman dari mini apartemen kelas menengah itu dan memasuki sebuah elevator untuk mencapai sebuah kamar.


Sementara itu ...


Di dalam sebuah kontrakan apartemem, terlihat Ayaneru sedang menikmati sebuah puding spesial bersama Leon dan Leona. Puding itu adalah buatan dari Reo, dan baru saja diantarkan oleh Gavin beberapa saat yang lalu.


"Puding ini enak sekali, Ma! Manisnya pas dan dan tidak bikin eneg! Dan puding ini adalah puding terenak yang pernah aku makan!!" ucap Leona bersemangat dan terus saja memasukkan puding lembut dan manis itu pada mulut mungilnya.


"Hhm. Mama sangat setuju, Sayang. Puding ini manis dan lembut sekali. Bahkan mama juga merasa jika ini adalah puding paling enak yang pernah mama makan. Hehe ..." sahut Ayaneru yang juga begitu menikmati puding itu.


"Ma, apa benar jika papa Reo yang membuat puding ini? Papa tidak membelinya di toko kue kan?" tanya Leon seakan mencurigai Reo.


"Hhm. Iya, Sayang. Papa Reo sangat pandai memasak. Bahkan saat itu dia juga memasak beberapa makanan yang juga sangat enak." ucap Ayaneru dengan jujur.


"Apa?! Keren sekali!" seru Leon hampir tak percaya.


"Asiikk ... bisa dong memasak untukku nanti. Hehe ..." seru Leona tersenyum lebar.


"Ahaha ... tentu saja bisa, Sayang. Tapi kalau papa Reo tidak sedang sibuk ya. Karena papa kalian adalah orang yang sangat sibuk dan memiliki banyak pekerjaan. Jadi seperti biasanya, mama yang akan memasak untuk kalian." jawab Ayaneru.


"Okay deh, Ma. Ma! Kapan mama fitting baju pernikahan? Ada juga kan pakaian untukku dan juga kak Leon?" tanya Leona bersemangat.


"Hhm. Papa kalian juga memesankan pakaian untuk kalian berdua juga kok. Ada jas untuk Leon dan gaun untuk Leona. Kalian pasti manis sekali. Ughh ... rasanya tidak sabar sekali ingin melihat kalian memakainya." celutuk Ayaneru gemas membayangkan kedua anak kembarnya dengan pakaian itu.


"Aku juga tidak sabar ingin segera melihat mama mengenakan gaun pengantin. Pasti cantik sekali ..." ucap Leon yang sebenarnya juga mulai tak sabar untuk menyambut hari pernikahan itu.


Wajah putih Ayaneru seketika terlihat merona mendengar ucapan dari Leon, namun belum sempat Ayaneru menjawabnya lagi, tiba-tiba sajq mulai terdengar suara bel rumah, menandakan jika saat ini sedang ada tamu yang berada di luar rumah.


"Mama akan melihat siapa yang datang." ucap Ayaneru bangkit dari tempat duduknya dan mulai bergegas untuk melihat tamunya kali ini.


CEKLEKK ...


Terlihat seorang pria berambut pirang dengan setelan jas super rapi sudah berdiri membelakangi Ayaneru.