
Tok ... tok ... tok ...
Tiba-tiba saja terdengar ritme teratur yang berasal dari pintu. Hingga membuat Ayaneru sedikit mendorong tubuh Reo dan membuat pagutan bibir itu terhenti dengan nafas yang masih saling berbaur.
"Ada anak-anak diluar ..." ucap Ayaneru lirih.
"Biarkan saja ..." rupanya Reo malah kembali memagut bibir setipis dan semerah cery itu kembali hingga mengabaikan semuanya.
Tok ... tok ... tok ...
"Mama, papa ..." kini terdengar suara Leon yang mengetuk pintu kembali sambil memanggil mereka berdua.
Kali ini pagutan bibir itu mulai berakhir kembali karena Ayaneru sedikit mendorong tubuh Reo, meskipun Reo masih saja mencengkeram kedua tangan Ayaneru.
"Uhm itu ... ada Leon di luar." ucap Ayaneru lirih dan masih dengan wajah merona, namun Ayaneru segera memalingkan wajahnya ke arah pintu. "Ya, Sayang ..." balas Ayaneru sedikit berteriak kepada Leon.
"Kami mau berangkat dulu, Ma. Tante Yora sudah datang untuk menjemput kita." balas Leon berteriak.
"Oh. Sebentar, Sayang ..." Ayaneru sempat menatap Reo kembali dengan tatapan malu. "Aku akan mengantar mereka sebentar ke depan untuk bertemu dengan Yora."
"Hhm. Lakukanlah ..." sahut Reo mengusap lembut kepala Ayaneru dengan sikap manisnya.
"Hhhm." sahut Ayaneru lalu bergegas untuk mendatangi Leon.
CEKLEKK ..
Ayaneru mulai membuka pintu berwarna putih itu dan sudah melihat Leon yang berdiri menunggu dirinya dibalik pintu itu.
"Leon, dimana Leona?" tanya Ayaneru, karena Ayaneru tak melihat sosok Leona.
"Sedang mengambil sesuatu di kamarnya, Ma." jawab Leon seadanya.
"Oh, ya sudah mama akan siapkan bekal makan untuk kalian dulu."
"Tidak perlu, Ma. Aku sudah menyiapkannya kok." jawab Leon tersenyum tipis saat mendongak menatap sang mama.
"Wah? Benarkah itu, Sayang?"
"Iya, Ma. Kebetulan aku bangun pagi. Jadi aku mandi dan menyiapkan bekal makanan yang sudah mama masak semalam."
"Wah. Maaf ya, Sayang. Seharusnya mama yang menyiapkan semua itu. Malah jadi Leon yang menyiapkannya. Maaf ya ..."
"Tidak apa-apa kok, Ma. Lagipula aku hanya tinggal menghangatkannya saja lalu memindahkannya ke dalam wadah bekalku saja kok, Ma." ucap Leon tersenyum hangat menatap Ayaneru.
"Selamat pagi!!!" suara seorang gadis kecil yang terdengar manja dan ceria mulai terdengar beriringan dengan derap langkah riangnya yang semakin mendekati mereka.
"Pagi, Leona sayang." balas Ayaneru membenarkan pita rambut sang putri kecilnya yang sedikit miring.
"Ya sudah kami berangkat dulu ya, Ma. Bibi Yora sudah menunggu kita di depan." ucap Leon.
"Hmm. Ayo mama antar ke depan ..." ucap Ayaneru sambil menggandeng kedua tangan anaknya menuju pintu utama.
Setelah memasukkan beberapa angka pasword pada sebuah kotak berwarna kebiruan di sisi samping pintu, akhirnya pintu itu mulai terbuka.
BIPP ...
"Hallo selamat pagi!!" sapa Yora penuh binar.
"Pagi, Bibi Yora!" balas Leona berjingkrak dan melempar dirinya dalam pelukan Yora yang kini sudah duduk bersimpuh untuk menginmbangi tinggi Leon dan Leona.
"Kalian jangan nakal ya. Nanti papa akan menjemput kalian setelah pulag bekerja." ucap Reo yang kini tiba-tiba saja sudah menyusul dan berdiri di dekat pintu dengan gagahnya.
"Oke, Pa!" sahut Leona dan Leon bersamaan.
"Ya sudah. Aku pergi dulu ya, Neru, tuan Reo ..." ucap Yora berpamitan dan mulai berdiri lalu menggandeng Leon dan Leona untuk meninggalkan apartemennya ini.
"Kita juga berangkat, Sayang?" Reo melingkarkan tangannya tangannya pada pinggang Ayaneru dan membuatnya merona kembali. "Kita sarapan di kantor saja, karena pagi ini aku harus segera tiba di kantor."
"Hhm. Baiklah ..."
...🍁🍁🍁...
Seorang wanita paruh baya mulai memasuki ruangan kerja Reo dengan mengajak seorang gadis cantik dengan penampilannya yang begitu modis dan stylish. Rambut panjangnya yang berwarna keemasan dan sedikit bergelombang dibiarkannya saja terurai dengan indah.
"Reo! Kenalkan! Dia adalah Flo. Dia adalah model baru yang akan menggantikan Ayaneru sebagai model utama di F Group. Kebetulan Flo baru saja kembali dari sekolah modelling-nya di LA, jadi bibi menawarinya untuk bekerja sama dengan kita." ucap wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Lingling.
Sebenarnya Reo cukup terkejut akan ucapan dari Lingling, karena sebelumnya Lingling tidak menginformasikan apapun kepada Reo. Namun Reo tak mau terlalu memikirkannya lagi, asal pekerjaan dan proses produksi di perusahaannya berjalan dengan lancar dan baik, itu saja sudah cukup untuknya.
"Hhm. Aku serahkan saja kepada bibi. Lagipula Ayaneru akan segera berhenti bekerja kok." sahut Reo cuek dan kembali menatap layar laptopnya.
"Salam kenal, Tuan Reo. Mohon kerjasamanya!" gadis cantik bernama Flo itu mulai menyapa Reo, bos barunya. Atau lebih tepatnya partner bisnisnya, karena Flo adalah keponakan dari sahabat Lingling.
"Hhm. Kamu boleh melihat-lihat ruangan pemotreran bersama bibiku dulu." ucap Reo seadanya.
"Justru karena bibi sedang sibuk. Makanya bibi mengantarkan Flo kesini saat ini, Reo. Perintahkan anak buahmu untuk menemaninya atau jika kamu sedang tidak sibuk, maka kamu saja yang menemaninya." ucap Lingling. "Ya sudah. Bibi harus pergi menemui klien dari Niigata. Sampai jumpa, Flo." imbuh Lingling menatap Flo dengan senyum lebar hingga akhirnya Lingling meninggalkan ruang kerja Reo.
Reo menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan akhirnya mulai menghubungi seseorang dengan telpon kantornya. Tak butuh waktu lama, akhirnya panggilan itu sudah diangkat dari seberang.
"Hallo, divisi marketing disini." sahut seorang pria dari seberang line.
"Yuan dimana Kara? Tolong katakan padanya untuk datang ke ruanganku sekarang juga ..." titah Reo.
"Kara sedang tidak berada di tempat, Tuan Reo. Dia sedang mengantarkan berkas untuk Jion." sahut Yuan dari seberang.
"Ya sudah. Perintahkan salah satu anak buahmu untuk datang ke ruanganku sekarang juga!" titah Reo lagi mulai menempatkan gagang itu pada tempatnya lagi sebelum mendengarkan jawaban dari Yuan.
"Tuan Reo. Terima kasih sudah menerimaku di F Group. Jujur ini adalah pertama kalinya aku terjun langsung di dalam dunia modeling di Negeriku sendiri. Meskipun aku sudah terbiasa melakukan praktek saat di kampus dan beberapa perusahaan saat di LA, namun ini membuatku sedikit gugup." ucap Flo menautkan kedua jemarinya ke depan dengan ekspresi sedikit gugup.
"Hhm. Tidak perlu khawatir. Kamu bisa mengenali lingkungan kerja dan para kru perusahaan dulu. Lakukan dengan pelan-pelan saja." jawab Reo seadanya. "Nyonya Lingling sudah memilihmu, itu berarti kamu mampu, layak dan berbakat. Karena pilihannya selama ini sangat tepat dan tidak pernah meleset."
Belum sempat Flo menjawab ucapan dari Reo, tiba-tiba saja mulai terdengar ritme teratur yang berasal dari pintu.
Tok ... tok ... tok ...
"Masuk!" titah Reo.
CEKLEK ..
Pintu ruang kerja Reo kini mulai terbuka. Seorang wanita dengan pakaian formalnya yang begitu rapi dan elegan mulai memasuki ruangan ini.