
Setelah puas mendapatkan sarapan spesialnya, Reo meminta untuk segera diantar ke bawah bersama sang istri. Dan rupanya di ruang makan sudah ada Leon dan Leona yang duduk manis di bangkunya sambil menikmati sarapan paginya.
"Leona, Leona. Kalian makanlah yang banyak ya! Dan jangan nakal saat di rumah dan di sekolah. Hari ini papa dan mama harus pergi ke suatu tempat dulu." ucap Reo yang memang sudah berencana untuk mengantarkan sang istri untuk pergi ke dokter kandungan pagi ini.
"Loh? Papa dan mama tidak sarapan dulu?" tanya Leona keheranan dan memandangi kedua orang tuanya bingung.
"Ahh soal itu papa sudah sarapan dan sudah sangat kenyang. Karena mama kalian memberikan sarapan spesialnya pagi ini ..." jawab Reo dengan tawa kecil dan mendongak menatap Ayaneru yang masih berada di belakangnya memegang pegangan kursi rodanya.
Ayaneru cukup terkejut mendengarkan jawaban ngelantur suaminya. Namun wajahnya seketika merona begitu saja karena merasa malu.
"Ihh ... mama kok gitu sih?! Masa hanya memberikannya untuk papa saja? Padahal kami kan juga mau sarapan spesial itu, Ma!" ucap Leona menggerutu dan seketika murung dengan mengerucutkan bibir mungilnya beberapa senti ke depan.
"Ahhh ... it-itu sebenarnya ..." ucap Ayaneru kebingungan harus menjawabnya seperti apa.
Sementara Reo terlihat sedang mengulum senyum dan menutupinya dengan jemarinya. Mengetahui hal ini, Ayaneru segera mencubit pelan lengan Reo karena keusilannya saat di depan anak-anak membuatnya bingung untuk berkata-kata.
"Uhm ... sebenarnya itu hanyalah sebuah kue kemasan yang kebetulan mama kalian beli saat di kantin perusahaan. Dan mama kalian memberikannya untuk papa tadi pagi. Jadi seperti itu, Anak-anak. Papa akan membelikan untuk kalian kue yang lebih besar nanti saat papa pulang dari kantor ya." ucap Reo berkilah untuk menyelesaikan kecurigaan anak-anaknya karena ulahnya sendiri.
"Hhm. Tidak perlu, Pa. Karena saat ini Leona sedang menyukai untuk memakan buah dan sayur kok." sela Leon sambil menikmati kue sandwitch miliknya.
"Oh, ya sudah. Kalau begitu papa nanti papa akan bawakan buah saja. Kalian mau papa bawakan buah apa?" tanya Reo kembali.
"Anggur saja, Pa!" sahut Leona bersemangat sambil memasukkan sesuap daging ke dalam mulutnya.
"Baiklah. Bagaimana denganmu, Leon?" tanya Reo beralih menatap sang putra.
"Samakan saja, Pa! Lagian makanan apapun aku akan selalu menyukainya kok." sahut Leon santai.
"Hhm. Baiklah. Kalau begitu kami berangkat dulu. Kalian jangan nakal saat di rumah dan di sekolahan ya!" ucap Reo kembali.
"Okey, Papa!" sahut Leon dan Leona bersamaan.
...🍁🍁🍁...
Setelah melakukan kontrol di sebuah rumah sakit, Reo dan Ayaneru segera menuju ke F Group. Sesampainya di kantor F Group, tiba-tiba saja Reo sudah dikejutkan oleh sebuah berita yang sedang ditampilkan oleh media.
Dan saat itu Ayaneru sedang membuatkan kopi untuk Reo di ruangan sebelah. Sehingga Ayaneru belum melihat berita besar tentangnya yang mungkin sudah tersebar luas di seluruh Jepang ini.
Dimana di dalam berita itu terlihat Ayaneru sedang berada dalam gendongan seorang pria yang tak lain adalah Lin Chen. Lin Chen membawa Ayaneru meninggalkan F Group dengan menaiki mobil pribadinya.
Sudah bisa dibayangkan seperti apa komentar-komentar pedas publik tanpa mengetahui kebenaran apa dan bagaimana? Mereka dengan pedas mengkritik hanya karena melihat sekilas saja, tanpa mau mencari tau apa dan bagaimana semua itu terjadi.
"Siapa yang membuat berita bodoh dan tidak masuk akal ini?! Benar-benar kurang kerjaan sekali!! Berani sekali memfitnah istriku!!" geram Reo tanpa sedikitpun merasa kesal dan marah saat melihat Lin Chen menggendong istrinya.
Bukan! Sebenarnya Reo merasa cemburu dan marah ketika ada pria lain yang berani menyentuh istrinya. Namun biar bagaimanapun Lin Chen-lah yang sudah menyelamatkan istrinya hingga membawanya ke rumah sakit saat itu.
Namun tentu saja Reo sangat mempercayai sang istri melebihi apapun! Ayaneru tak akan mungkin mengkhianati dirinya! Karena selama ini Reo sudah cukup memahami karakter sang istri dengan baik.
"Neru tidak boleh melihat berita ini atau ini akan membuatnya semakin terguncang dan merasa terbebani! Apalagi dokter kandungannya baru saja mengatakan jika dia tidak boleh terlalu lelah dan banyak pikiran!" gumam Reo mulai mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Tak membutuhkan waktu yang lama, panggilannya sudah diangkat dari seberang oleh seseorang.
"Ya, Tuan ..." terdengar suara seorang pria dari seberang line dengan nada rendahnya.
"Hapus semua berita yang beredar di media saat ini juga! Lenyapkan dan bersihkan semua tanpa tersisa satupun!! Dan cari tau siapa dalang dari masalah kali ini!!" ucap Reo memberikan titahnya untuk anak buahnya yang tak lain adalah Gavin.
"Baik, Tuan. Akan segera aku lakukan sesuai dengan perintah dari tuan Reo." Gavin menyauti dengan patuh.
Reo segera mengakhiri panggilan itu. Dan Reo juga segera mematikan televisi itu, karena melihat istrinya kini sudah datang kembali dengan secangkir flat white kesukaan Reo.
"Maaf agak lama. Karena jalanku sudah semakin berat dan sulit." ucap Ayaneru memegangi pinggangnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya membawakan secangkir flat white kesukaan Reo.
"Hhm. Tidak masalah kok. Seharusnya kamu tidak perlu lagi untuk melakukan semua ini, Sayang. Kamu pasti kesulitan dan mudah lelah."
"Hehe justru disaat hamil tua seperti ini aku harus lebih banyak bergerak dan beraktifitas. Yahh ... meskipun memang selalu merasa mudah lelah sih. Hehe ..." sahut Ayaneru dengan tawa kecilnya sambil meletakkan secangkir flat white itu di atas meja.
Ayaneru meraih remot TV dan tiba-tiba saja ingin menonton acara TV. Namun Reo dengan cepat segera merebutnya kembali karena merasa cemas dan khawatir jika Gavin belum menyelesaikan tugasnya saat ini.
Dan rentu saja hal ini membuat Ayaneru kebingungan. Mengapa tiba-tiba saja suaminya bersikap aneh dan kekanak-kanakan seperti ini? Hal ini malah membuatnya teringat dengan Leon dan Leona.
"Sayang, ada apa? Mengapa aku tidak boleh menyalakan TV? Padahal aku hanya ingin melihat siaran memasak dari chef kesukaanku saja loh." ucap Ayaneru yamg kini sudah duduk di sofa memanjang.
"Uhm ... kamu nanti nonton siaran ulangnya saja melalui Me-tube ya, Sayang. Karena televisi di ruangan kerjaku saat ini sedang mengalami sedikit gangguan." ucap Reo berusaha untuk memberikan jawaban yang masuk akal, dan dia berharap sang istri akan mempercayainya.
"Tidak! Aku mau nonton sekarang!" tandas Ayaneru serius namun sedikit murung.
Hal ini sungguh bukan seperti diri Ayaneru, atau mungkin ini adalah faktor kehamilan dan keinginan dari sang bayi? Entahlah ... yang jelas ini membuat Reo kebingungan, karena istrinya menginginkan TV itu untuk segera dinyalakan.