
Pesta perayaan ulang tahun Nami, sudah berakhir. Reo juga mulai menggendong dan memindahkan Leon yang rupanya malah ketiduran saat bermain catur bersama dengan Shika.
Dan dia juga mulai menjemput Ayaneru sesuai dengan apa yang telah dia ucapkan beberapa saat yang lalu. Hingga akhirnya mereka mulai beristirahat bersama di kamar mereka.
Usai membersihkan tubuhnya, Reo mulai kembali hanya dengan memakai jubah mandinya saja. Dia mulai menghampiri sang istri yang saat ini sedang duduk bersantai di atas pembaringan sambil membuka sebuah sosial medianya. Sesekali Ayaneru juga membalas beberapa pesan yang dikirimkan oleh Kara, Yora dan Lin Chen.
"Sayang, kamu belum mengantuk?" tanya Reo membenarkan posisi duduknya di atas pembaringan.
"Tadi aku sempat ketiduran saat menemani Leona, dan biasanya jika seperti itu tidurku akan sedikit lebih malam." jawab Ayaneru masih menyibukkan dirinya dengan ponselnya, dan kali ini dia sedang memalas pesan dari Lin Chen yang berisi sapaan saja.
"Hhm? Maaf ya jika aku malah membuatmu terbangun. Seharusnya aku menidurkan Leon di kamar lain saja agar tidak membangunkanmu."
"Tidak masalah kok. Jika sampai Leona terbangun, pasti dia akan mencari Leon."
"Begitu ya ..."
"Hhm ..." ucap Ayaneru singkat dan masih saja fokus mengetik sebuah pesan balasan untuk Lin Chen.
SRRTT ...
Karena merasa kesal dan sedikit diacuhkan begitu saja, akhirnya Reo mulai merebut benda pipih itu dari Ayaneru.
"Re-Reo ..."
"Sudah cukup main ponselnya!" ucap Reo memperlihatkan wajah kesal.
"Uhm? Aku hanya membalas beberapa pesan saja kok."
"Pesan? Siapa yang masih mengirimkan pesan untukmu selarut ini?" ucap Reo sambil memeriksa ponsel Ayaneru.
Layar ponsel itu memperlihatkan sesuatu yang cukup membuat Reo merasa kesal.
Terima kasih sudah menemaniku berbincang saat berada di pesta nyonya Nami. Karena aku sungguh merasa canggung karena tidak memiliki banyak kenalan. Terima kasih Neru. Lin Chen.
Pesan yang dikirimkan oleh Lin Chen sukses membuat Reo semakin merasa kesal. Dengan cepat dan full power, Reo segera mematkan ponsel Ayaneru.
Masih berani dia menggoda dan mendekati istriku?!! Apa dia sengaja melakukannya?!!
Batin Reo sangat kesal.
Ada apa dengannya? Tidak mungkin dia sedang cemburu bukan? Ini hanya sebuah pesan biasa, tidak bermaksud lebih. Lagipula Lin Chen kan hanya temanku saja.
Batin Ayaneru sedikit melirik Reo yang saat ini meletakkan ponsel itu di atas nakas.
Reo semakin mendekati istrinya dan kembali menatap lekat Ayaneru. Namun bukan tatapan hangat seperti biasanya yang Reo berikan saat ini, melainkan tatapan dingin dan penuh intimidasi. Dan hal ini membuat Ayaneru menciut dan mengankat kedua bahunya.
"A-ada apa?" tanya wanita itu memberanikan diri untuk bertanya.
"Hanya sedang ingin memakanmu saja!" ucap Reo menatap Ayaneru seolah sedang menatap sebuah sajian makanan lezat.
Perlahan pria dewasa yang sedang dilanda cemburu buta itu semakin mendekati Ayaneru untuk kembali melancarkan serangan demi serangannya malam ini.
Tak melawannya, Ayaneru hanya pasrah mendapatkan semua itu dari suaminya dan menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk Reo.
...🍁🍁🍁...
Sinar bulan di malam hari kini berganti dengan sinar mentari di pagi begitu saja. Terlihat seorang pria sudah berpakaian rapi sedang berada di depan cermin rias membenarkan penampilannya.
"Selamat pagi, Sayang ..." sapa pria necis itu tersenyum hangat menatap menatap istrinya.
"Apa kamu akan bekerja? Mengapa sudah rapi sekali?" tanya wanita yang tak lain adalah Ayaneru.
Dia sedikit memiringkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya dan masih masih menggunakan selimut tebal itu untuk membungkus tubuh polosnya.
"Kenapa? Apa kamu sedang berharap untuk ditemani lagi?" balas Reo malah menggoda Ayaneru dan tertawa kecil.
"Buk-bukan seperti itu. Aku hanya ..."
"Hari ini aku akan datang memeriksa Fukushi Group. Sudah cukup lama aku tidak memantaunya secara langsung. Jika kamu dan anak-anak merasa bosan, minta pengawal saja untuk mengantarkan jalan-jalan." ucap Reo yang kali ini sudah rapi dan harum dengan setelan jasnya.
"Hhm? Aku akan di rumah saja. Mama pasti juga ingin bermain-main dengan si kembar."
"Baiklah. Asal kamu senang saja. Aku akan segera pulang secepatnya setelah memeriksa semuanya." ucap Reo yang kini mulai mendekati pembaringan. "Segera mandi dan sarapanlah. Aku akan berangkat sekarang."
"Hhm. Hati-hati ya ..." ucap Ayaneru merubah posisinya menjadi duduk, namun masih memeluk selimut tenbal itu.
"Apa hanya itu saja?" kali ini Reo sudah mendaratkan kedua tangannya di atas pembaringan dan mengunci tubuh Ayaneru.
"Eh??"
"Apakah aku tidak mendapatkan ciuman pagi ini?"
"Ci-ciuman? Ta-tapi aku belum mandi dan masih kotor. Nanti saja ..." Ayaneru semakin memundurkan tubuhnya dan menatap Rei waspada.
"Nanti?"
"Hhm. Aku akan mandi dulu." dengan cepat Ayaneru melarikan diri dengan membawa selimut itu ke kamar mandi.
"Baiklah. Tapi jika kamu memberikannya untukku nanti, tidak masalah. Namun semua akan berbunga. Dan kamu harus membayar semuanya!" ucap Reo mengeraskan suaranya karena kini suara gemericik air shower mulai terdengar.
Tidak ada jawaban dari Ayaneru, dan mungkin saja dia tidak mendengarnya. Reo hanya tersenyum simpul lalu menyamber coat dan segera meninggalkan kamarnya.
...🍁🍁🍁...
Hari ini papa Reo sengaja meliburkan diri dari beberapa pekerjaannya, karena dia masih sangat merindukan Leon dan Leona. Dan tentunya dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan kedua cucunya yang menggemaskan.
Sementara Ayaneru terlihat sedang bersama Nami di taman samping rumah untuk melihat-lihat tanaman hias milik Nami yang begitu indah dengan warna-warni bunga.
"Mama suka menanam bunga?"
"Iya, Sayang. Mama tidak memiliki kesibukan dan pekerjaan seperti Reo, Nichole, maupun Nara. Jadi mama hanya bisa menyibukkan diri dengan hal-hal seperti ini." jawab Nami mulai menyemprotkan air pada beberapa tumbuhan itu.
"Sebenarnya mama sangat merasa kesepian disaat mereka sedang bekerja dan belajar. Huft ... makanya lebih baik kalian tinggal di Osaka saja. Agar mama bisa bersama dengan Leon dan Leona. Dan rumah ini juga akan menjadi ramai, tidak sepi lagi." imbuh Nami kembali sesekali melirik menantu kesayangannya dengan senyum penuh harap.
"Uhm, soal itu ... aku akan mengikuti keputusan dari Reo, Ma. Kemanapun dia membawaku, aku akan ikut bersama dengannya."
"Ya. Sebaiknya selalu bersama dan jangan pernah terpisah ya. Godaan saat berjauhan itu sangat berat."
"Iya, Ma ..."
PRANGGG ...
Tiba-tiba saja terdengar suara pecahan sesuatu yang cukup membuat Ayaneru dan Nami terkejut bukan main, hingga menghentikan aktifitas mereka untuk beberapa saat.