Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Mendatangi Sang Preman Penculik



Usai panggilan itu berakhir, seketika ekpresi Reo terlihat semakin serius dan dingin. Tak ada pilihan lain untuk saat ini kecuali untuk memenuhi panggilan pria misterius itu.


"Gavin! Urus semua yang ada disini! Aku harus pergi! Jangan ada diantara kalian yang berani mengikutiku secara terang-terangan!" tandas Reo mulai memutar kursi rodanya.


"Tapi, Tuan. Jika tuan Reo pergi seorang diri itu akan sangat berbahaya. Ijinkan aku untuk ikut bersama dengan tuan." ucap Gavin yang tentunya sangat mengkhawatirkan Reo.


Terlebih kondisi Reo saat ini adalah lumpuh. Bagaimana Reo bisa menghadapi para berandalan itu sementara Reo tidak bisa berdiri dan melakukan bela dirinya dengan baik? Mungkin seperti itulah yang sedang Gavin khawatirkan saat ini.


"Sejak kapan kamu sudah berani melawan perintahku, Gavin?!" tandas Reo dengan tegas.


"Ma-maaf, Tuan ..." Gavin menyauti dengan nada rendah dan menunduk. "Aku akan melakukan smeua yang tuan perintahkan."


TRING ...


Terdengar sebuah suara notifikasi yang berasal dari ponsel Reo. Reo segera membuka isi pesan itu dan membacanya.


Di luar gudang ada sebuah mobil BMW warna hitam dengan plat nomor xxxxx, datanglah. Orangku akan membawamu untuk menemui istri tercintamu, Mr. Rei!!


Reo mengkerutkan keningnya setelah membaca pesan itu.


Dia tau aku ada di gudang ini? Bagaimana bisa? Apa sebenarnya dia sudah cukup lama membuntutiku? Atau ... apakah dia memasangkan alat pelacak? Mengapa aku bisa sampai kecolongan?! Ughh!! Sekarang itu tidak penting!! Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan Neru!!


Batin Reo segera menggiring kursi rodanya untuk meninggalkan tempat ini. Sementara Gavin hanya menatap kepergian Reo dengan perasaan tak menentu. Dan tak bisa dipungkiri, Gavin sangat mencemaskan Reo.


Hingga akhirnya Gavin mulai melakukan sesuatu di luar perintah dari Reo, diam-diam Gavin menghubungi seaeorang yang cukup bisa diandalkan.


"Ikuti tuan Reo dari radius yang cukup jauh! Jangan sampai pergerakanmu diketahui! Selalu lindungi tuan Reo apapun yang terjadi! Hati-hati karena mereka menyandera nyonya Ayaneru!!" titah Gavin kepada seseorang di severang telpon.


"Baik ..." sahut seorang pria dari seberang.


Sementara itu Reo mulai menghampiri sebuah mobil BMW berwarna hitam yang sudah terparkir tak jauh dari gudang. Dua orang pria berpakaian hitam, mengenakan masket dan topi hitam menyambutnya.


Salah satu dari mereka mulai membantu Reo menaiki mobil. Sementara salah satu pria masih duduk di kursi kemudi. Lalu mereka mulai meninggalkan tempat itu dengan laju yang cukup kencang.


Mereka melakukan perjalanan dengan tanpa ada perbincangan sama sekali. Namun tiba-tiba saja teman sang sopir mulai berkata jika dia ingin pergi ke kamar mandi. Hingga sang pengemudi mulai menghentikan kemudinya dan berhenti di pinggiran sebuah hutan, karena saat ini mereka sedang berada di sekitar kebun dan hutan.


"Huftt ... leganya ..." pria itu mulai menaikkan resleting celananya lagi setelag menyelesaikan hajatnya di balik sebuah pohon besar.


BUGH ...


Namun saat mau berbalik, tiba-tiba saja seseoramg memukul keras tengkuknya hingga pingsan untuk selama-lamanya. Pria itu segera melepas semua pakaian dan atribut lengkap berandalan itu dan segera memakainya.


Bahkan si pemukul juga mengenakan masker milik si preman itu. Tak puas dengan hal itu, si pria pemukul itu segera membuang tubuh preman itu sampai terjatuh di dalam sungai hingga hanyut terbawa arus sungai yang cukup kuat.


Setelah merasa cukup aman, pria yang sudah melakukan sebuah penyamaran untuk menjadi berandalan itu segera kembali lagi dan memasuki mobil itu. Dia duduk di kursi samping kemudi.


Setelah beberapa saat, mobil itu mulai berhenti di depan salah satu bekas pabrik yang juga sudah lama tak terpakai. Sang sopir mulai turun dari mobil dan diikuti oleh si pria penyamar.


Preman itu mulai menurunkan Reo dan kursi rodanya dengan sangat kasar dan tidak ada sopan santun. Namun Reo hanya bisa menahan amarahnya, karena apapun yang terjadi saat ini ... yang paling utama adalah keselamatan sang istri.


Dia harus bisa menahan diri dan mengendalikan dirinya agar Ayaneru dan calon buah hatinya tetap aman dan selamat.


"Ternyata Mr. Rei yang terhormat dan sangat hebat itu begitu lemah dan seperti orang bodoh ya! Gyahahaha ... sudah begitu dia cacat dan tak bisa berbuat apa-apa. Bwahahaha ..." ujar pria itu dengan menghempaskan sebuah koran bekas ke arah Reo dan mengenai kepala Reo.


Lalu pria itu menghidupkan sepuntung rokoknya dengan sebuah lighter, sebelum mereka memasuki gedung itu.


Reo mengeraskan rahang tegasnya dan mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya yang putih sudah mulai berubah menjadi merah karena amarahnya. Namun dia masih berusaha untuk tetap menahan dirinya.


Si pria penyamar hanya menunduk saja dan mengepalkan kedua tangannyamelihat semua ini. Dia juga hanya bisa diam, karena saat ini adalah belum waktu yang tepat untuknya memulai menjalankan aksinya.


"Aku akan menikmati rokokku dulu! Forger, bawa si cacat ini masuk untuk menemui bos! Kita tidak boleh membuang-buang waktu!" titah berandalan itu mulai duduk dengan santai di atas sebuah pohon besar yang tumbang di halaman bekas gedung pabrik tua itu.


Berandalan bernama Forger palsu atau lebih tepatnya si pria penyamar hanya mengangguk dan mulai mendorong kursi roda Reo untuk memasuk gedung tua yang cukup besar itu.


"Tuan Reo. Ini adalah aku, Panther! Tuan tidak perlu cemas. Aku akan melindungi tuan dan nyonya." bisik pria penyamar itu sambil mendorong kursi roda Reo.


Reo yang mendengarkannya menghembuskan nafas kasarnya di udara. Tak tergambarkan sedikitpun kelegaan di wajahnya, karena sejak awal sedikitpun juga tak pernah mengkhawatirkan dirinya sendiri.


"Sudah berani Gavin bertindak di luar perintahku rupanya! Awas saja!! Setelah aku kembali aku akan memberikan hukuman untuknya!" geram Reo lirih dan merasa sangat kesal.


Gavin melakukan semua itu tentu saja karena mengkhawatirkan Reo. Namun biar bagaimanapun, Reo tetap tak menyukai bawahan yang membangkang semua perintahnya.


CEKLEKK ...


KRIEETT ...


Mereka mulai memasuki bangunan bekas pabrik itu lagi. Ruangannya terlihat luas, namun sangat kotor dan berantakan. Bahkan banyak sarang laba-laba dimana-mana. Tempat ini juga remang-remang, dan memiliki beberapa lampu ruangan saja.


PROK ...


PROK ...


PROK ...


Tiba-tiba saja terdengar suara tepuk tangan seseorang yang berasal dari lantai 2. Namun hanya terlihat seperti sebuah siluet hitam saja, karena cukup gelap. Dan dia juga menggunakan hodie dan menggunakan kerudung dari hodie hitam tersebut.


"Selamat datang, Mr. Rei." ucapnya masih dengan menggunakan voice changer, sehingga Reo masih saja tak mengenali suara pria itu.