Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Perubahan Leona



Ketika makan malam tiba Reo, Ayaneru, Leon dan Leona sudah duduk bersama di ruang makan. Di hadapan mereka sudah ada hidangan yang cukup banyak dengan aroma yang menggiurkan saliva. Penyajiannya juga begitu rapi dan berseni.


Ayaneru mulai mengambilkan beberapa makanan untuk Reo dan juga untuk kedua anak kembarnya. Seperti biasa, hanya pada piring makan milik Leona saja Ayaneru tidak memberikan sayuran.


Namun tiba-tiba saja Leon mengatakan sesuatu yang cukup membuat Ayaneru, Reo dan Leona cukup terkejut bukan main.


"Ma, berikan sayuran juga untuk Leona. Leona berkata padaku jika dia ingin makan sayur malam ini." ucap Leon tiba-tiba.


"Benarkah itu, Leona sayang?" tanya Ayaneru hampir saja tak mempercayai semua itu, namun sebenarnya Ayaneru berharap jika ucapan dari putra kecilnya adalah benar.


"Eh ... itu ... sebenarnya ... itu ... yang dikatakan kak Leon adalah benar, Ma ..." sahut Leona meringis.


Leona tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan ucapan dari Leon. Karena sebelumnya Leona sudah berjanji kepada Leon akan memenuhi permintaan dari Leon atas drama perebutan remot dan saluran TV beberapa jam yang lalu.


Flask back on ...


"Katakan padaku apa keinginan kakak?!" tanya Leona .


"Kamu harus menepatinya! Kamu ingat janjimu kepada kakak beberapa saat yang lalu bukan?" tanya Leon mengantisipasi terlebih dulu, agar sang adik akan menepati janjinya.


"Hhhm!! Okay!! Aku akan menepatinya! Kak Leon tenang saja! Sekarang katakan padaku, apa yang harus aku lakukan, Kak?!" tanya Leona tak sabaran.


"Saat makan malam nanti kamu harus makan sayur!!" ucap Leon menandaskan.


"Nani??" tanya Leona merasa sangat syok dan hampir saja tidak mempercayai semua ini. "Ba-bagaimana aku bisa melakukanya, Kak Leon? Kakak tau sendiri kan? Selama ini aku sangat tidak menyukai sayuran ..." imbuh gadis kecil itu memperlihatkan wajah memelas.


"Hhm. Biar bagaimanapun, janji tetaplah sebuah janji. Dan janji haruslah ditepati! Kamu harus menepatinya, Leona! Selama ini kamu menghindari sayuran adalah karena kamu yang memang tidak menyukai sayuran, dan bukanlah karena hal lain yang akan membuatmu berada dalam bahaya bukan? Seperti alergi atau apa. Dengan kata lain, sebenarnya kamu masih bisa memakannya. Dan kamu bisa saja menjadi menyukainya."


Ucap Leon dengan pemikirannya, dan sebenarnya apa yang Leon ucapkan adalah benar.


"Tap-tapi, Kak Leon ..."


"Kamu sudah berjanji pada kakak, Leona. Ayo, tepatilah!"


"Hiks ... baiklah! Tapi hanya sedikit saja ya, Kak!" pinta Leona penuh harap.


"Hhm? Setidaknya makanlah sampai serat yang diperlukan oleh tubuhmu terpenuhi!" tandas Leon menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Memang harus memakan berapa, Kak Leon? Jangan katakan harus memakan satu ikat sayuran!" ucap Leona mulai membayangkan ngeri sayuran-sayuran itu.


"Tidak sebanyak itu kok. Untuk usia seperti kita, kita membutuhkan serat 20 gram di setiap harinya, Leona." sahut Leon menjelaskan.


"Lalu bagaimana dengan buah-buahan?"


"Antara sayur dan buah-buahan tidak masalah. Asalkan serat yang dibutuhkan tetap selalu 20 gram di setiap harinya." jelas Leon.


"Huft ... baiklah!! Okay deh ..." jawab Leona lesu seketika.


Flash back off ...


"Huum. Iya, Ma ..." jawab Leona terlihat begitu lesu dan murung.


Sangat berbeda dengan Ayaneru yang malah berbinar karena putri kecilnya mau memakan sayuran. Dan kali ini dia dengan suka rela akan memakannya tanpa paksaan! Wow!!


"Baiklah, Sayang! Mama akan ambilkan untukmu!" sahut Ayaneru begitu berbinar dan segerw mengambilkan beberapa sayuran yang sudah dimasak.


Sementara Leon terlihat mengulum senyumnya, namun dengan cepat dia segera meng-cover-nya kembali dengan wajah datar dan dinginnya lagi. Sedangkan bagaimana dengan Reo? Tentu saja Reo juga sangat terkejuy dengan semua ini, seakan tidak mempercayainya.


"Itu pilihan yang tepat, Leona sayang. Makanlah, sayuran adalah mengandung serat yang sangat bagus untuk tubuhmu." ucap Reo.


"Hhm. Ucapan papamu benar, Sayang." sahut Ayaneru yang kali ini mengambilkan sayuran untuk Reo dan Leon.


"Ayo cepat dimakan, Leona! Mama sudah mengambilkannya untukmu lo. Jangan pernah menyia-nyiakan dan membuang makanan! Di luar sana masih ada yang lebih membutuhkan makanan ..." celutuk Leon dengan sikap cool dan santainya, padahal sebenarnya Leon sedang menahan tawa saat ini agar tidak meledak. Karena baginya tertawa lepas itu sangat memalukan!


"Iya-iya ihhh! Kak Leon bawel banget sih!" sungut Leona kesal dan mengerucutkan bibirnya ke depan beberapa senti, sementara sepasang sumpitnya mulai menjepit sayuran berwarna putih dan kehijauan itu.


Ayo, Leona!! Memakan sayuran tak akan membuatmu mati kok. Kamu pasti bisa!! Ayoo lakukan!!


Batin Leona menyemangati dirinya sendiri sambil mulai menikmati yasai itame yang gurih itu dengan begitu pelan memasukkan ke dalam mulutnya.


Reo, Ayaneru, dan Leon terdiam gugup saat menyaksikan semua itu. Tentu saja hal ini cukup membuat mereka gugup, karena Leona yang selama ini paling anti sayuran, kini akan mencoba memakannya.


"Happ ... hhmm? Nyammmm ..." Leona menikmati yasai itame dengan memasang ekspresi tegang, dan hal ini semakim membuat mereka bertiga juga tegang.


Namun tiba-tiba saja wajah Leona mulai berseri-seri di luar dari dugaan.


"Ahhh ... ini enak, lezat dan gurih sekali!! Nyammmmm ..." ucap Leona membuat mereka bertiga syok. "Mengapa sangat berbeda dengan sayuran yang pernah aku makan dulu? Sayuran yang memasak mama sungguh enak!! Berbeda dengan sayuran yang dimasak bibi Taran di London!" imbuh Leona kembali menyantap sayuran tumis di hadapannya.


"Wah ... syukurlah jika kamu menyukainya, Leona sayang! Mama akan memasaknya setiap hari untukmu!" ujar Ayaneru merasa bahagia karena akhirnya gadis kecilnya menyukai sayuran.


"Okay, Mama!"


"Selain sayuran, kamu juga harus memakan buah-buahan, Sayang." ucap Reo mulai menikmati makan malamnya.


"Hhm. Okay, Papa!! Ma, aku mau yasai itame lagi!" rengek Leona manja.


Ayaneru kembali mengambilkan sayuran itu untuk putri kecilnya dengan sangat bersemangat. Sesekali Leona juga tersenyum lebar dan menjulurkan lidahnya untuk Leon.


...🍁🍁🍁...


Sementara itu di suatu apartemen mewah laninnya di prefektur Kanagawa, terlihat seorang pria berwajah tenang dan datar sedang duduk berkutat di depan layar laptopnya.


Sebuah senyuman misterius mulai terukir menghiasi wajahnya setelah dia menerima sebuah surel misterius dari salah satu kaki tangannya.


"Bagus!! Dengan ini nama besarmu akan segera hancur! Berita besar ini akan segera tersebar di seluruh prefektur Kanagawa dan seluruh Jepang tentunya! Mr. Rei, bersiaplah untuk menghadapi kejatuhanmu!"


Gumamnya masih dengan senyum misterius menghiasi wajah tampan dengan sepasang mata tanpa eyelid itu.