
Setelah beberapa saat, akhirnya Ayaneru berhenti menangis. Sebenarnya dia sangat ingin menjadi tegar dan kuat seperti saat-saat dia sebelum bertemu dengan Reo. Disaat dia selalu tegar disaat dia berjuang seorang diri.
Dan seharusnya dia-lah yang lebih tegar saat ini, karena saat ini Reo sedang membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Termasuk dirinya sebagai seorang istri. Namun pada kenyataannya malah sebaliknya, Ayaneru malah menjadi sangat rapuh karena melihat kondisi suaminya saat ini.
Wanita cantik itu masih terduduk dan menyandarkan kepalanya di atas tubuh Reo. Sementara jemarinya masing menggenggam jemari Reo yang sedang mengusap lembut pipinya yang sudah lembab karena air mata yang tumpah beberapa saat yang lalu.
"Sayang, aku ingin segera pulang. Tolong katakan kepada dokter agar aku boleh pulang. Aku rindu anak-anak ..." ucap Reo lirih.
Entah mengapa setiap ucapan demi ucapan yang dilontarkan oleh Reo membuat dadanya menjadi sesak. Bahkan hingga sampai detik ini saja, Ayaneru masih belum mengatakan kondisi Reo yang sebenarnya. Dia takut suaminya akan begitu down saat mengetahui semuanya.
"Aku akan mengatakannya kepada dokter nanti, Sayang. Tapi untuk sementara kamu harus dirawat di rumah sakit dulu ya. Jangan khawatir ... aku akan selalu menemanimu. Aku akan disini menemanimu." ucap Ayaneru masih menyandarkan kepalanya di atas tubuh Reo dan mendongak menatap wajah Reo.
Mendengar ucapan dari Ayaneru, Reo malah tersenyum penuh binar.
"Apa kamu sadar, Neru? Ini adalah pertama kalinya kamu memanggilku seperti itu? Aku ... senang sekali."
"Eh? Maksudmu adalah ... panggilan sayang?"
"Hhm. Selama ini kamu masih saja malu saat ingin memanggilku dengan panggilan seperti itu bukan? Katakan ... mengapa tiba-tiba kamu menggunakan panggilan itu saat ini?" ucap Reo dengan seulas senyum.
"Memang apa salahnya? Aku hanya ingin melakukannya saja kok. Maaf ya ... jika selama ini aku masih selalu menyusahkanmu dan membuatmu kesal. Aku berjanji, mulai sekarang aku akan lebih patuh padamu. Aku ingin menjadi istri yang baik untukmu. Aku akan selalu menjaga dan merawatmu." ucap Ayaneru dengan sepasang manik-manik yang mulai berkaca-kaca lagi.
"Selama ini kamu sudah melakukan semuanya dengan baik, Sayang. Kamu adalah istri terbaik. Dan aku sangat beruntung karena menjadi suamimu." Reo berkata dengan tulus dan mengusap lembut kepala Ayaneru dengan tangan satunya, karena tangan kanannya masih selalu digenggam oleh Ayaneru.
Ayaneru tak menjawabnya lagi. Baginya saat ini bisa melihat dan memeluk suaminya adalah sudah sedikit membuatnya merasa lebih tenang.
"Sayang. Aku ingin keluar dan berjalan-jalan sebentar. Maukah kamu menemaniku?" tanya Reo setelah beberapa saat.
"Hhm? Tentu saja, aku akan menemanimu ..." sahut Ayaneru mulai duduk dengan tegap dan berdiri.
Wanita cantik itu mulai menyiapkan sebuah kursi roda yang juga sudah berada di kamar rawat ini. Hal ini tentu saja membuat Reo sedikit tidak mengerti mengapa sang istri malah menyiapkan sebuah kursi roda untuknya, karena Ayaneru belum memberitahukan kondisi Reo kepada Reo.
Reo berusaha untuk bangun, dan Ayaneru segera membantunya untuk duduk. Ayaneru mulai memiringkan dan menurunkan kaki suaminya ke sisi samping brankar.
Pada saat ini Reo mulai merasa ada yang sedikit aneh dengan tubuhnya. Namun dia mulai menepis segala pikiran yang mengganggunya saat ini.
"Sayang. Tidak perlu memakai kursi roda. Aku masih bisa berjalan kok." ucap Reo berusaha untuk turun dari brankar.
"Sa-sayang ..." ucap Reo mulai merasa curiga jika dia sedang mengalami sebuah kondisi yang cukuo buruk.
Sepasang netranya masih menatap kedua kakinya yang sama sekali tak bisa dia gerakkan sama sekali. Ayaneru kembali merasa sesak, bahkan sepasang manik-manik kehijauan itu mulai berkaca-kaca kembali.
Dia tak tega melihat suaminya yang pastinya akan merasa sangat terpukul dengan kondisinya saat ini. Namun dia juga tak kuasa dan tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menguatkan Reo dan selalu memberikan support untuk suaminya. Agar suaminya tetap semangat dalam menjalani kehidupannya di masa yang akan datang.
"Sayang, sebenarnya ada apa? Katakan padaku ... apa yang sebenarnya terjadi? Katakan padaku, Neru ..." ucap Reo mulai beralih menatap Ayaneru yang saat ini sudah membungkam mulutnya dengan jemarinya.
Lidah Ayaneru seakan terasa begitu kelu, dan semua ucapannya seakan kembali tertelan utuh-utuh. Hingga dia tak bisa berkata-kata lagi.
"Sayang ... katakan semuanya kepadaku! Apa yang sebenarnya terjadi?" desak Reo lagi.
"Re-Reo ... se-sebenarnya ... sebenarnya ..." ucap Ayaneru terlihat begitu ragu dengan raut wajah penuh dengan kekalutan.
"Ya, Sayang? Ada apa? Apa aku lumpuh? Katakan padaku, Neru ... apa aku mengalami kelumpuhan?!" Reo menerka-nerka dan terlihat sulit untuk mempercayai semua ini.
Ayaneru mengangguk lemah dan berusaha untuk tidak menangis kali ini, meskipun sebenarnya dia sangat ingin menangis. Dia begitu memahami apa yang dirasakan oleh Reo saat ini. Sedih, syok, putus asa ... pasti semua rasa itu yang sedang dirasakan oleh suaminya.
Ayaneru berusaha untuk bersikap tegar dan kuat, agar Reo juga bisa tetap berusaha untuk kesembuhannya dan tidak berputus asa di saat ini.
Reo mengusap kasar wajahnya dan terlihat begitu frustasi. Keputusasaan itu juga tergambar begitu jelas menghiasi wajah tampan yang saat ini terlihat pucat itu.
Bahkan tak sadar Reo juga mulai menitikkan air matanya. Bukan karena dia tidak akan terlihat sempurna lagi di hadapan semua orang, namun karena dia masih memiliki sebuah tanggung jawab besar.
Dia adalah seorang suami dan seorang papa, namun kini dia mengalami kelumpuhan seperti ini yang tentunya akan mengganggu segala aktifitas dan pekerjaannya kelak. Lalu ... bagaimana dia akan bertanggung jawab untuk keluarga kecilnya?!
Mungkin seperti itulah yang membuat Reo merasa begitu syok dan bersedih kali ini. Karena dia tak akan bisa untuk diandalkan lagi dengan baik.
Ayaneru segera meraih tubuh suaminya dan mendekapnya erat hingga menyandarkan kepala Reo di dekat dadanya, berharap akan membuat sang suami sedikit merasa lebih tenang dan tetap kuat.
Sesekali Ayaneru juga mengusap lembut punggung Reo.dan mulai menyandarkan dagu indahnya di atas kepala Reo. Sedangkan Reo masih merasa begitu lemah dan tak berdaya, dan hanya bisa menagis di dalam dekapan sang istri.
Ayaneru juga merasa tak kuasa lagi untuk menahan air matanya, hingga akhirnya air mata hangat itu mulai membasahi pipi putihnya yang mulus begitu saja. Namun dengan cepat dia juga segera menyekanya kembali, agar Reo tak melihatnya.