
Jay Yeol mulai menaiki pembaringan dan semakin mendekati Ayaneru. Sementara Ayaneru yang sudah terduduk hanya menunduk karena merasakan tubuhnya yang sedikit aneh.
Tubuh Ayaneru kini sedikit menggeliat da wanita itu mulai meyibak rambutnya ke belakang.
Sebenarnya apa yang sudah mereka lakukan? Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mengapa tubuhku benar-benar terasa aneh? Apa aku sedang sakit? Mengapa panas sekali?
Batin Ayaneru terlihat begitu gelisah.
"Ayaneru!! Ayo kita bersenang-senang!!" Jay Yeol yang sudah terduduk di hadapan Ayaneru kini mulai melepaskan kancing kemejanya satu persatu, lalu menanggalkan kemeja berwarna kebiruan itu.
Sudut-sudut bibir pria berdarah campuran itu mulai ditariknya bingga menyembulkan sebuah seringai licik. Dengan cepat Jay Yeol mendorong tubuh Ayaneru hingga membuat Ayaneru terbaring tak berdaya.
"Aahh ... tubuhmu lumayan juga. Masih begitu indah dan mempesona. Sayang kalau dilewatkan ..." Jay Yeol mulai mendekati Ayaneru untuk mulai menjelajahi tubuhnya.
"Tuan Jay ... tolong jangan lakukan!" disaat sudah tidak berdaya karena pengaruh dupa pembangkit gairah itu, Ayaneru masih berusaha untuk mendorong tubuh Jay Yeol.
Namun kekuatan Ayaneru pasti tak sebanding dengan kekuatan Jay Yeol yang jauh lebih besar.
"Tolong jangan lakukan! Jay Yeol!! Aku tulus ingin menolongmu, tapi mengapa kamu malah mencelakaiku? Lepaskan aku ..."
"Karena aku ingin membuat Reo merasakan apa yang telah aku rasakan ..." sahut Jay Yeol tepat di dekat daun telinga Ayaneru hingga membuat Ayaneru sedikit mengangkat bahunya karena merasa risih.
"Reo bahkan tak pernah mengusik hidupmu bukan? Jadi tolong jangan pernah mengusiknya ..."
"Berisik!! Diam saja!! Lebih baik kita bersenang-senang!!" dengan sangat lancang Jay Yeol kini mulai meraih salah satu gundukan kenyal di hadapannya dan mulai menatapnya buas.
"Jay Yeol! Lepasss ..." pekik Ayaneru dengan tubuh yang sudah semakin menggeliat karena sentuhan itu.
"Kak! Ini tidak sesuai dengan rencana sebelumnya!!" sela Aaroon tak terima. "Bukankah kita telah sepakat untuk menikmatinya bersama-sama? Jadi jangan menghalangiku!" Aaroon mulai menaiki pembaringan dan bergabung bersama dengan mereka.
"Ckk ... dasar tidak sabaran!! Ya sudah kamu nikmati saja mana yang kamu inginkan!"
"Gitu baru okay!! Kasihan juniorku sudah ingin beraksi ..."
"Gila!!" ketus Jay Yeol sedikit kesal.
Kedua pria itu kini berusaha untuk menyerang Ayaneru. Jay Yeol lebih menyukai saat menjelajahi leher jenjang Ayaneru hingga mencapai dadanya.
Sedangkan Aaroon lebih menyukai saat melihat kaki jenjang Ayaneru yang terlihat begitu saja dan tentunya sangat menggodanya.
Kedua pria itu begitu menikmati daerahnya masing-masing dan begitu terlena akan suasana saat ini. Hingga mereka berdua tak menyadari jika sudah ada 2 orang pria yang sudah memasuki kamar hotel ini begitu saja.
Salah satu dari pria itu terlihat begitu dipenuhi dengan amarah yang mungkin sudah mencapai puncaknya. Wajahnya yang putih memerah padam dengan aura membunuhnya.
Dengan sangat kasar pria itu segera menjambak rambut gondrong Aaroon dan menghempaskannya sangat kuat hingga tubuh Aaroon terbanting menabrak dinding hingga pingsan seketika.
Lalu pria itu mulai menjambak rambut Jay Yeol dan membanting tubuh Jay Yeol di atas lantai. Tak puas dengan itu saja, pria itu mulai mendekati Jay Yeol dan menghujaninya dengan tinju kuatnya hingga membuat wajah Yay Yeol memar dan mengeluarkan darah segar.
"Kau!! Beraninya menyentuh milikku!! Dasar bajingan gila!! Hhiiaathh ..." geram pria itu bersiap untuk kembali memberikan bogem-bogem mentahnya lagi.
BUGHH ...
BUUAKK ...
BUGH ...
"Tuan. Dia bisa mati, Tuan ..." sela salah satu pria itu memperingatkan sebelum Jay Yeol benar-benar mati.
Pri yang sudah dipenuhi dengan amarah tinggi itu kini mulai menghempaskan kasar Jay Yeol dan mulai berdiri kembali.
"Gavin!! Sisanya kau yang urus!! Bawa mereka pergi! Urus juga semua anak buah mereka yang sudah terlibat dengan kasus ini! Semua yang ikut andil dalam hal ini akan mendapatkan ganjaran atas apa yang telah mereka perbuat tanpa terkecuali!!" titah pria yang tak lain adalah Reo terlihat masih dipenuhi dengan amarah yang sudah memuncak.
"Baik, Tuan!!" Gavin mulai mengurus Aaron dan juga Jay Yeol dengan membawanya keluar dari tempat ini.
Lalu Reo mulai mendekati Ayaneru yang sudah duduk meringkuk dan terisak dalam tangisnya. Rasanya tak tega saat menyaksikan wanita yang akan segera dinikahinya dalam kondisi yang seperti ini.
Meskipun Aaroon dan Jay Yeol belum sampai menanamkan saham mereka, namun tentu saja saat mengingat kedua pria itu sudah menjamah tubuhnya membuat Ayaneru begitu frustasi dan merasa sangat hina.
Reo mulai melepaskan pakaian hangatnya dan memakaikannya untuk Ayaneru.
"Ayo kita pulang!" ajak Reo berusaha untuk menggendong depan Ayaneru dengan gaya bridal style.
"Hiks ... Reo ... aku ... aku ... aku merasa sangat jijik dengan diriku sendiri ..." Ayaneru masih menangis dan tak berani untuk menatap wajah Reo.
"Sudah ... jangan kau pikirkan lagi! Apapun keadaanmu aku akan menerimanya! Dan aku akan membuat perhitungan dengam mereka semuan! Semuanya!! Kamu tenang saja ..."
"Hiks ... tapi aku salah ... aku tidak mendengarkan perintahmu. Hiks ... aku tidak menyangka mereka sejahat itu. Hiks ..."
"Jangan berpikir kemana-mana. Yang terpenting saat ini kamu sudah bersama denganku. Dan mulai sekarang aku akan memberikan pengawalan untukmu dan juga untuk anak kita. Masalah seperti ini tak akan terulang lagi. Jangan menangis lagi ..."
Reo mulai menggendong depan Ayaneru. Sementara Ayaneru masih saja menyembunyikan wajahnya dengan menunduk dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Reo.
Reo juga mulai menghubungi Yora dan mengatakan jika Ayaneru sudah ada bersama dengan dirinya. Namun Reo sengaja mengatakan jika Ayaneru akan bersama dengan dirinya malam ini dengan alasan mempersiapkan beberapa hal untuk pernikahan mereka.
Yeap, Reo membawa Ayaneru ke apartemennya. Karena saat ini kondisi Ayaneru sungguh sedikit kacau, baik mental maupun penampilan. Dan tentu saja jika sampai Leon dan Leona melihat kondisi mamanya seperti ini akan membuatnya merasa sangat sedih.
"Neru ... kamu tidur dan istirahatlah." ucap Reo setelah menurunkan Ayaneru di atas pembaringan di kamar apartemennya.
GREPP ...
Dengan cepat Ayaneru duduk kembali dan segera meraih dan menahan tangan Reo.
"Reo ... jangan pergi ..." pinta Ayaneru begitu lirih.
Dan kali ini wanita dengan penampilan yang sudah sangat kacau itu memberanikan dirinya untuk menatap Reo. Wajahnya sudah begitu merona dan menjadi merah.
Tubuhnya juga terlihat terlihat sedikit aneh. Sesekali Ayaneru menggeliat, bahkan wanita itu mulai melepaskan pakaian hangat milik Reo yang beberapa saat yang lalu sudah dipakaikan untuknya.
Tak hanya itu, Ayaneru juga menyibak salah satu sisi rambutnya, hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang begitu indah. Bahkan belahan indah itu juga kini sedikit terlihat oleh Reo.
"Aku akan membuatkanmu teh ocha hangat. Agar kamu sedikit lebih tenang. Tunggulah sebentar ..." lagi-lagi Reo berniat untuk menjaga dirinya agar tidak melakukan hal yang mungkin saja akan membuat pertengkaran diantara mereka berdua.
Namun di luar dugaan, Ayaneru kembali menahan tangan Reo dan malah sedikit menarik tubuh Reo. Hingga membuat tubuh Reo condong padanya dengan tangan kanannya yang mendarat di atas pembaringan untuk menopang tubuhnya.
Tatapan mereka kembali bertemu dengan begitu dekat. Namun bukan ekspresi Ayaneru yang seperti biasanya.