
"Hallo!! Ada apa, Gavin?!" sambut Reo ketika dia mengangkat panggilan dari Gavin.
"Tuan, aku sudah memeriksa nomor itu dan juga sudah menemukan pelakunya. Dia adalah suruhan nona Maria." ucap Gavin melaporkan.
"Ckk. Apa dia masih kurang mendapatkan hadiah dariku?" gumam Reo mengusap kasar wajahnya. "Urus dan berikan dia pelajaran!!" titah Reo tegas.
"Baik, Tuan." sahut Gavin dengan patuh.
Reo segera mengakhiri panggilan itu dan menyimpan kembali ponselnya. Namun Ayaneru masih juga belum kembali dari kamar mandi.
"Neru kenapa lama sekali di kamar mandi?" gumam Reo mulai curiga, hingga akhirnya dia menuruni pembaringan berukuran king itu dan segera menyusul sang istri.
Pintu kamar mandi itu tidak dikunci, sehingga Reo masuk begitu saja. Hingga akhirnya Reo mulai melihat sang istri yang sedang berdiri di hadapan sebuah cermin dan wastafel kamar mandi bergaya minimalis modern sedang mencuci wajahnya.
"Sayang! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Reo sedikit khawatir karena melihat istrinya menjadi sedikit pucat.
"Aku baik-baik saja kok. Hanya saja sepertinya aku masuk angin dan kelelahan." jawab Ayaneru masih menyunggingkan senyum tipisnya.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu tidur dan beristirahat. Ayo ..."
"Hhm ..."
Baru saja berjalan 2 langkah, tiba-tiba saja dengan cepat Reo segera menggendong depan Ayaneru karena tak tega melihat sang istri yang sudah pucat dan berjalan pelan.
Ayaneru reflek menyenderkan kepalanya pada dada bidang itu. Sepasang matanya mulai terpejam, seakan sudah merasa nyaman saat berada dalam gendongan sang suami.
"Sayang, aku panggilkan dokter ya ..." bujuk Reo sambil mendaratkan tubuh Ayaneru di atas pembaringan.
"Hhm? Tidak perlu ... aku hanya ingin tidur dan memelukmu saja." ucap Ayaneru meskipun begitu berat dan malu-malu.
"Hhm? Apa kamu yakin, Sayang?"
"Hhm ..." Ayaneru mengangguk pelan dan menatap lekat wajah tampan itu.
"Ya sudah. Ayo tidur!" Reo mulai berbaring dan membuka tangan kanannya lebar agar bisa digunakan untuk bantalan kepala istrinya.
Ayaneru segera berbaring menghadap Reo dan menggunakan lengan kuat itu untuk bantalan kepalanya. Dia membenamkan kepalanya pada dada bidang itu dan memejamkan sepasang mata bak green shapphire diamond.
Sedangkan Reo melingkarkan tangan yang kirinya memeluk sang istri, mendaratkan dagu indahnya di atas kepala sang istri. Tak membutuhkan waktu yang lama keduanya mulai tertidur.
...🍁🍁🍁...
"Sial!! Sebenarnya siapa yang sedang membuat ulah?! Aku sama sekali tidak melakukan apapun dan tidak memiliki siapapun yang mau membantuku lagi, tapi Gavin malah menuduhku sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sama sekali. Huft ...."
Seorang gadis berambut pirang dengan pakaian tahanan terlihat begitu kesal dan uring-uringan sendiri di dalam kamar hotep prodeonya.
"Siapa yang melakukan semua ini?!! Apakah dia adalah Jay Yeol? Tapi ... mengapa dia melakukan semua ini? Apa untungnya dia mengirimkan foto-foto itu untuk Ayaneru?! Ughh ... aku rasa bukan dia deh. Tapi siapa? Berani sekali dia mengkambing hitamkan aku?!! Menyebalkan!!!"
Gadis cantik itu menendang sebotol air mineral yang berada di hadapannya hingga botol itu melayang ke udara dan mengenai wajah seorang narapidana lainnya.
PLETAK ...
"J*lang sialan!! Berani sekali kamu melakukan semua ini padaku?!!" bos narapidana itu mulai melenggang mendekati narapidana cantik itu dengan aura yang begitu kelam dan mematikan.
Bos narapidana itu segera mencekik leher wanita cantik itu dan mengangkatnya tinggi ke atas. Membuat narapidana cantik itu kesulitan untuk bernafas.
"Arghh ... lep-passs ..." narapidana cantik itu berusaha untuk melepaskan cekikan itu.
Namun bos narapidana itu tidak melepaskannya sama sekali. Bahkan semua narapidana yang berada di sekitar mereka saqt ini tak ada yang berani untuk menghentikan semua itu. Jika mereka berusaha untuk melerai dan menghentikan mereka berdua, maka tak menutup kemungkinan jika mereka akan menjadi salah satu target amarah dan pelampiasan sang bos.
Hingga akhirnya datang seorang petugas kepolisian. Dengan kasar bos narapidana itu segera melepaskan cekikannya dan membuat tubuh narapidana cantuk itu terjatuh di atas lantai.
BRUGHH ...
"Uhuk ... uhukk ... uhuk ..." narapidana cantik itu terbatuk-batuk dan memegangi lehernya yang kini sudah menjadi memar karena cekikan kuat itu.
"Apa yang sedang kalian lakukan!! Berhentilah berkelahi!!" tandas petugas kepolisian yang menyaksikan masalah di antara para narapidana wanita itu.
Brengsekk!! Beraninya dia melakukan semua ini padaku?!! Aku adalah Maria, model kelas tinggi yang selalu digilai semua orang!! Tapi si gendut jelek ini berani sekali melakukan semua itu padaku?!! Lihat saja!! Setelah aku keluar dari tempat ini kau akan membayar semua ini, Gendut jelek!!!!
Batin Maria menatap bos narapidana itu dengan penuh kekesalan dan rasa dendam.
...🍁🍁🍁...
Siang hari setelah pulang bekerja, Reo memaksa untuk membawa Ayaneru pergi ke rumah sakit. Karena kondisi badan Ayaneru masih belum mengalami perubahan dari kemarin malam.
Dia masih terlihat begitu tak bersemangat dan tak betenaga. Dan selalu mengatakan jika tubuhnya berat dan terasa letih.
Setelah menunggu beberapa saat, kini seorang wanita yang berusia kira-kira 35 tahun dengan jas almamater putih kebanggaanya mulai duduk berseberangan dengan Reo. Ayaneru juga mulai turun dari brankar dan duduk di sebelah Reo.
"Jadi setelah memeriksa nyonya Ayaneru. Nyonya sedang tidak sedang sakit, Tuan. Namun itu adalah karena nyonya Ayaneru sudah positif hamil." jelas dokter itu memperlihatkan berkas pemeriksannya.
"Positif??" tanya Reo dan Ayaneru bersamaan dan terkejut terkejut.
"Benar sekali, Tuan Reo. Nyonya Ayaneru sedang hamil, dan usia kehamilannya saat ini sudah memasuki 5 minggu."
Ayaneru dan Reo membeku seketika, namun mereka juga tak bisa menutupi kebahagiaan itu dari wajah mereka.
"Selamat, Tuan Reo. Selamat, Nyonya Ayaneru. Semua yang dialami nyonya Ayaneru saat ini adalah hal yang sangat wajar kok. Nyonya harus memperbanyak istirahat dan jangan melakukan banyak aktifitas disaat trimester pertama." ucap sang dokter lagi.
"Baik, Dok. Terima kasih" sahut Ayaneru lirih.
Setelah beberapa saat berbincang dan berkonsultasi, akhirnya mereka berdua segera kembali dengan membawa kabar bahagia ini. Karena itu artinya, tak lama lagi akan hadir keluarga baru lagi di antara mereka.
"Mulai besok, kamu tidak akan bekerja lagi. Kamu di rumah dan beristirahat saja. Dan kali ini aku akan selalu menjaga dan mendampingimu dengan baik, Neru. Tidak seperti saat itu ..." Reo meraih jemari istrinya tanpa mengurangi fokusnya untuk menyetir.
Sesekali Reo juga melirik sang istri yang saat ini menunduk tersenyum menatap genggaman tangan itu.
Kali ini aku akan mendampingimu dengan baik, Neru. Aku akan menjaga kamu dan calon adek Leon dan Leona ...
Batin Reo berjanji dengan dirinya sendiri.