Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Peretas?



Beberapa saat yang lalu ...


Di dalam salah satu kamar Wailea Beach Resort - Marriott, Maui Hawaii kelas president suites lainnya, terlihat dua anak kecil yang sedang berbincang di atas pembaringan berukuran queen itu.


Sang anak laki-laki terduduk di atas pembaringan sambil berkutat di depan sebuah mini computer. Sementara sang gadis kecil terbaring dan menatap langit-langit, seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Kak Leon! Kira-kira papa dan mama benar-benar bersatu tidak ya? Aku khawatir jika mereka masih saja berniat menikah hanya gara-gara kita saja." celutuk Leona yang masih saja mengkhawatirkan Reo dan Ayaneru.


"Kak!! Bisakah kakak meretas video rekaman CCTV di kamar mereka saat ini? Aku khawatir sekali jika mereka masih saja menjaga jarak." imbuh Leona mulai merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap.


Sementara Leon masih saja terduduk di atas pembaringan sambil menyibukkan dirinya dengan mini computer kesayangannya.


"Tidak, Leona! Papa dan mama mungkin saja sudah bisa membuka diri satu sama lain. Jangan khawatir. Kamu lihat sendiri bukan saat tadi berada di dalam pesawat? Lagipula tidak baik jika kita melihatnya. Mungkin saja mereka berdua sedang melakukan sesuatu saat ini." jawab Leon dengan bijak.


"Ayolah, Kak Leon! Sedikit saja kita lihat ... hanya untuk memastikan saja kok. Kita intip sedikitttt saja deh. Aku khawatir sekali, Kak ..."ucap Leona merengek-rengek dan kini sudah duduk di sebelah Leon.


"Tidak, Leona! Lagipula apa yang akan kita lakukan jika memang mama dan papa belum bersatu?"


"Tentu saja kita juga harus berusaha untuk menyatukan mereka dong, Kak!! Negara ini ... tempat ini seharusnya sudah sangat mendukung untuk mereka bersatu! Kita tidak boleh diam saja jika papa dan mama masih saja menutup diri dan menjaga jarak!" tandas Leona.


"Lihatlah ..." setelah membuka sebuah folder di dalam mini computer-nya, kini Leon mengarahkan mini computer itu sedikit menghadap Leona.


Terlihat beberapa foto kamar Reo dan Ayaneru yang sudah dihias dengan begitu romantis. Dan semua foto itu Leon dapatkan dengan kemampuan otak geniusnya.


"Itu bisa saja hanya pekerja resort yang melakukan semua itu, Kak! Karena tentu saja mereka tau jika papa dan mama baru saja menikah dan sedang berbulan madu. Kita tak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua."


"Huftt ... kakak tidak akan pernah berdebat jika melawanmu! Baiklah-baiklah ... kakak akan melakukannya! Tapi kita hanya boleh melihat sedikit saja ya!!" gerutu Leon kesal dan akhirnya mulai melakukan sebuah peretasan kembali.


"Oke deh!!" sahut Leona penuh binar dan tak sabar untuk menunggu apa yang akan Leon dapatkan kali ini.


Setelah beberapa saat memasukkan beberapa coding, kini Leon mulai mendapatkan apa yang dia inginkan. Terliihat kamar Reo dan Ayaneru yang masih cukup rapi dan terlihat seakan belum tersentuh sama sekali.


Bahkan taburan kelopak bunga mawar merah di atas pembaringan itu masih terlihat begitu rapi dan membentuk sebuah hati. Sementara di dalam kamar pengantin itu sang mama dan papa tak terlihat keberadaannya.


Dan hal ini tentu saja membuat Leon dan Leona berfikir keras. Dan kedua anak kembar ini mengira jika papa dan mamanya memang belum saling mencintai dan belum bersatu.


"Tuh kan seperti apa yang aku khawatirkan, Kak! Papa dan mama bahkan tidak ada di dalam kamarnya. Mereka hanya bersandiwara di depan kita, Kak! Ughhhh ..." Leona terlihat sedikit murung saar melihat rekaman CCTV yang berhasil diretas oleh sang kakak.


"Hhm. Jadi katakan padaku! Apa rencanamu kali ini, Leona!" sahut Leon berbalik bertanya.


Leona mulai memutar bola matanya dan terlihat sedang memikirkan sebuah cara untuk menyatukan kedua orang tuanya kembali secara nyata. Bukan secara hukum, agama dan negara.


Namun belum sempat Leona mendapatkan ide briliannya, tiba-tiba mulai terlihat sesuatu yang cukup mengejutkan. Tiba-tiba saja terlihat Reo yang sedang menggendong Ayaneru dari arah balkon, dan mulai membaringkannya di atas pembaringan yang sudah bertabur bunga itu.


Ayanery dan Reo terlihat layaknya pasangan pada umumnya, bersikap manis dan hangat. Bahkan Leon dan Leona menyaksikan ketika sang papa mencium Ayaneru singkat.


Disaat itulah Leon dengan cepat segera mengakhiri semuanya. Karena Leon tak ingin dia dan sang adik melanjutkan tontonan itu.


"Sudah cukup! Papa dan mama sudah saling membuka diri! Dan sebaiknya kita segera tidur saja! Karena besok kita akan berjalan-jalan di sekitar. Kakak tidak mau kamu membuat repot semua orang karena ketiduran saat berjalan-jalan."


Ucap Leon lalu mulai mematikan mini computer itu dan segera berbaring lalu menarik selimut hangatnya.


"Huft ... okee deh!" sahut Leona juga mulai berbaring dan menarik selimutnya.


...🍁🍁🍁...


Sementara itu di dalam kamar pasangan pengantin baru itu. Reo mulai menindih tubuh Ayaneru tanpa melepaskan pagutan bibirnya. Bahkan seakan Reo tak mau melewatkan setiap sudut bibir tipis kemerahan yang sudah membuat candu untuknya.


DRRTT ...


Tiba-tiba saja ponsel Reo berdering dan bergetar karena ada seseorang yang berusaha untuk menelponnya. Reo sama sekali tak meresponnya dan masih saja menikmati pagutan bibirnya. Hingga akhirnya kini Ayaneru sedikit mendorong tubuh Reo dan membuat ciuman itu berakhir.


"Ada yang menelpon." ucap Ayaneru masih menatap Reo yang masih berada di atasnya.


"Biarkan saja! Tidak ada yang boleh mengganggu kita saat ini!" Reo malah duduk dan mulai melepaskan kancing kemejanya satu persatu lalu menanggalkan kemeja biru navy lengan pendek itu begitu saja.


Wajah tampan dan tubuh atletis yang begitu sempurna itu sungguh menggoyahkan Ayaneru, sama seperti 5 tahun yang lalu. Membuatnya kehilangan akan sehat dan kesadarannya. Bahkan Ayaneru tak pernah bisa melupakannya.


Reo berusaha untuk mendekati Ayaneru lagi dan bersiap untu kembali melanjutkan apa yang tertunda. Namun lagi-lagi ponselnya kembali berdering.


Dan kali ini Reo terlihat begitu kesal dan mulai meraih ponselnya untuk melihat nama si pemanggil. Setelah melihat nama Gavin memenuhi layar ponselnya, dengan full power Reo mulai menggeser tombol hijau itu ke atas.


"Apa kau sudah bosan bekerja untukku, Gavin?! Atau apa kau sudah bosan untuk hidup?!" ucap Reo kesal luar biasa.


"Tu-tuan ... maaf. Tapi ada sesuatu yang sedang terjadi. Pihak keamanan resort ini mengatakan jika a-ada seseorang yang berusaha untuk meretas privasi di dalam resort ini. Dan peretas itu berhasil meretas CCTV di kamar tuan Reo dan nyonya Neru ..." lapor Gavin dengan ketar-ketir.


"Apa?!! Hal seperti ini saja kamu tidak bisa mengatasinya, Gavin?!!" tandas Reo syok bukan main.


"Ma-maaf, Tuan ..."


"Cari tau siapa pelakunya dan berikan serangan balik untuknya!! Pasti dia adalah salah satu musuh bisnisku!! Jangan lepaskan dia!!" titah Reo dengan tegas setegas-tegasnya lalu mengakhiri panggilan itu dan mematikan ponselnya saking kesalnya.


Reo menyapu wajahnya kesal karena melihat sang asisten yang kali ini kurang cekatan hingga kecolongan, sampai ada seorang peretas yang ingin mendapatkan sesuatu dari dirinya dan Ayaneru malam ini.


"Reo ... ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Ayaneru ingin tau, sesuatu apa yang membuat suaminya menjadi sekesal itu.


Reo menghela nafas panjang lalu melepaskan.


"Tidak ada, Sayang. Ayo kita lanjutkan apa yang tertunda ..." Reo mulai menindih kembali Ayaneru dan menikmati kembali bibir tipis kemerahan itu.


Ciumannya mulai berpindah menyusuri leher jenjang nan indah itu dengan lembut. Membuat Ayaneru sedikit mengangkat bahunya karena seperti merasakan sengatan mematikan.


Tulang selangka Ayaneru semakin terlihat tegas, dan hal ini membuatnya semakin terlihat sexy di mata Reo.


Jemarinya juga sudah dengan lincahnya melakukan hal-hal lain, menerobos memasuki bagian dalam pakaian Ayaneru hingga meraih salah satu gundukan kenyal itu, membuat Ayaneru semakin membusungkan dadanya.


Sentuhan Reo membuatnya melayang kembali seperti 5 tahun yang lalu. Membuatnya hilang kendali dan seakan tubuhnya malah menginginkan semua hal itu.


Sentuhan hangat ini ... pelukan hangat ini ... tangan kuat ini ... nafas ini ... semuanya begitu sama ... seperti 5 tahun yang lalu.


Batin Ayaneru ditengah-tengah kesadaran dan kendali tubuhnya yang sudah menghilang.