Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Siasat Twins L



Siang ini Leona dan Leon mengajak Reo untuk mengunjungi sebuah taman bermain. Namun kedua anak kembar itu kini mulai merencanakan sesuatu lagi disaat Reo sedang pergi untuk membelikan es krim untuk mereka berdua.


"Leona, pikirkan sesuatu! Kita harus mendapatkan sample rambut dari paman Reo! Dengan begitu kita bisa melakukan pengujian tes DNA di labolatorium untuk mencari tau, apakah paman Reo adalah benar-benar papa kita atau bukan." bisik Leon.


"Hhm ... sample rambut ya? Tapi bagaimana caranya, Kak Leon? Kita sedang berada di tempat umum dan tak akan mungkin dengan mudah menemukan sample rambut paman Reo." gumam Leona terlihat mulai berpikir keras.


"Pikirkan sesuatu, Leona! Usaha kita hari ini tak boleh menjadi sia-sia begitu saja!"


"Hmm. Baiklah ... aku akan melakukan sesuatu untuk mendapatkannya!" ucap Leona penuh percaya diri dan mengepalkan tangan kanannya.


"Leon, Leona. Maafkan, Paman. Tapi es krimnya sudah habis. Apa kalian mau memakan yang lainnya saja?" kini Reo sudah datang kembali menghampiri kedua anak kembar yang sedang duduk di sebuah bangku panjang.


"Wah ... sayang sekali. Padahal aku sedang ingin menikmati es krim. Paman beli balon saja yuk!!" ucap Leona tiba-tiba bersemangat kembali.


Karena Reo merasa cukup bersalah karena tak bisa mendapatkan es krim itu, kini Reo segera mengiyakan begitu saja permintaan dari Leona.


"Baiklah. Kalian tunggulah disini dulu. Paman akan membelikan balon untuk kalian." ucap Reo berniat untuk segera pergi kembali.


Namun dengan cepat Leona si putri kecil yang pandai berakting ini, kini mulai menunjukkan bakatnya untuk sebuah pencapaiannya.


"Paman, tunggu sebentar!" sergah Leona yang sukses membuat langkah Reo tertahan kembali. "Bolehkah kami ikut bersama dengan paman saja? Kami sangat takut dan khawatir jika akan ada orang jahat yang akan menculik kita, Paman." imbuh Leona dengan memasang mimik wajah ketakutan.


Leona juga mulai turun dari bangku dan berdiri lalu mendongak menatap Reo. Sedangkan Leon juga mulai turun dan berdiri bersebelahan dengan sang adik.


Hhm? Kali ini cara seperti apa lagi yang akan digunakan oleh Leona? Haha dia benar-benar adikku yang sangat licik, cerdas dan penuh dengan segala cara.


Batin Leon melirik sang adik yang sudah bersiap untuk meluncurkan siasatnya.


"Hhm? Tentu saja kalian boleh ikut. Ayo!!" jawab Reo dengan senyum hangat menatap kedua anak kembar itu secara bergantian.


"Ouchh ... tapi kakiku tiba-tiba saja kesemutan, Paman. Aku tidak bisa berjalan sendirian." pekik Leona berakting hampir saja terjatuh, namun Leon segera menangkap tubuh sang adik. "Apakah paman bisa menggendongku?" imbuh Leona memasang wajah memelas mendongak menatap Reo.


Terlihat begitu lucu dan menggemaskan untuk Reo, bahkan tanpa pikir panjang Reo segera mengiyakan permintaan dari Leona begitu saja tanpa memikirkan pandangan orang lain yang mengatakan bahwa, seorang Presdir F Group yang masih single dan belum menikah, kini pergi ke taman bermain bersama dengan kedua anak kembar dan memperlakukan mereka seperti layaknya anaknya sendiri.


Entah mengapa semua itu terjadi dengan begitu alami. Dan tiba-tiba saja Reo begitu menyukai kedua anak kembar itu setelah mereka bertemu hari ini. Bahkan Reo ingin selalu bersama dengan kedua anak kembar yang begitu lucu dan menggemaskan itu.


"Baiklah, Leona manis. Paman akan menggendongmu." ucap Reo tanpa ragu. "Lalu, bagaimana dengan Leon? Apa Leon juga mau paman gendong juga?" imbuh Reo beralih menatap Leon.


Mendengar pertanyaan dari Reo, seketika membuat Leon menjadi malu dan dengan cepat Leon segera mengibaskan tangannya sebagai penolakannya.


"Tidak, Paman. Aku akan berjalan sendiri saja!" tolak Leon yang memang selalu ingin mandiri meskipun usianya kini masih memasuki 4 tahun.


Dengan senyum lebar, Leona segera menaiki punggung Reo dan berakhir duduk pada bahu lebar Reo. Leona mulai mengedipkan salah satu matanya dengan senyuman lebar menatap Leon. Sementara jemari kanannya mulai memberikan sebuah isyarat OK.


Di sepanjang perjalanan, Leona hanya fokus untuk mengambil sehelai rambut Reo tanpaembuat Reo menyadari semua itu. Sementara Leon masih berjalan beriringan dengan Reo untuk segera mendatangi sang penjual balon.


Mereka bertiga begitu menikmati kebersamaan di sore hari ini. Hingga tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat, bahkan senja sudah hampir datang.


...🍁🍁🍁...


Ayaneru yang baru saja pulang dari tempat kerjanya seketika menjadi panik karena tak melihat kedua buah hatinya. Bahkan di kontrakan Yora, Ayaneru juga tidak menemukan kedua anak kembarnya.


Dan paarahnya lagi ibu dari Yora keceplosan jika Leon dan Leona kabur dan pergi bersama dengan seorang pria begitu saja tanpa berpamitan.


"Neru, maafkan aku! Tapi aku sungguh tidak menyangka akan seperti ini. Leon dan Leona tidur saat jam 10 pagi. Aku meninggalkannya sebentar ke kontrakanku, dan aku juga mengunci kontrakanmu kok. Namun saat aku kembali mereka sudah tidak ada. Namun kamu tenang saja, Neru. Mereka pergi bersama dengan seseorang yang bisa dipercaya kok. Dan pria itu tak akan menyakiti kedua anakmu. Kamu tenang saja ..." ucap Yora berusaha untuk menenangkan Ayaneru yang saat ini sudah begitu khawatir.


"Darimana kamu tau jika mereka pergi bersama dengan pria yang baik dan bisa dipercaya, Yora? Bukankah kamu mengatakan jika mereka pergi tanpa berpamitan denganmu?" selidik Ayaneru memicingkan sepasang matanya menatap Yora.


"Uhm ... sebenarnya itu ..."


Belum sempat Yora melanjutkan ucapannya lagi, kini mulai terdengar suara bel berbunyi. Dengan langkah terburu Ayaneru segera melenggang untuk membukakan pintu kontrakannya.


CEKLEKK ...


"Mama!!" ucap seorang gadis kecil berjingkrak riang dan segera memeluk Ayaneru.


"Leona, Leon ... kalian darimana saja? Mengapa pergi tanpa berpamitan dengan bibi Yora?!" celutuk Ayaneru antara marah, kesal dan sebenarnya sudah merasa lega karena kini Ayaneru sudah bertemu dengan kedua buah hatinya kembali.


"Kami hanya ingin berjalan-jalan sebentar, Mama. Maaf ya ..." ucap Leona memasang wajah memelasnya, salah satu jurus andalannya untuk meluluhkan hati sang mama.


"Lain kali berjanjilah kalian tak akan melakukan hal seperti ini lagi! Apa kalian mengerti?" ucap Ayaneru yang masih hanya fokus kepada Leon dan Leona saja tanpa menatap siapa pria yang baru saja mengantar kedua anak kembarnya.


"Baik, Ibu. Maafkan kami ..." kali ini Leon mulai meminta maaf dan terlihat begitu menyesal.


Sebenarnya Ayaneru mebgetahui akan hal ini adalah kecerobohan dari Leon dan Leona yang malah keasyikan bermain di taman bermain bersama Reo dan melupakan waktu begitu saja.


Padahal niatnya mereka hanya akan pergi sebentar saja dan akan segera kembali sebelum Ayaneru pulang bekerja, sehingga semua itu tak akan diketahui oleh Ayaneru.


"Jadi mereka berdua adalah anakmu, Neru?!" pertanyaan maskulin dari seorang pria yang terdengar begitu jernih namun sedikit berat mulai mengalihkan pandangan Ayaneru untuk mendongak menatap pria itu.