
Di dalam sebuah ruangan kerja di F Group, terlihat seorang pria dengan setelan jas super rapi dan mewah sedang menatap cakrawala indah yang terlihat dari dinding kaca ruangan kerjanya.
Pria berkharisma tinggi itu kini terlihat sedang memikirkan sesuatu saat ini yang cukup membuatnya pusing. Kedua alis tegasnya sedikit berkerut saling berdekatan.
Pria dengan sejuta pesona yang tak lain adalah Reo itu, kini sedang dipusingkan oleh permintaan dari kedua orang tuanya yang secara tiba-tiba. Membuatnya kesal dan pusing hingga tujuh keliling.
Yeap, lagi-lagi kedua orang tua Reo memintanya untuk segera menikah. Jika sampai dalam satu bulan ini Reo masih belum menemukan wanita pilihannya sendiri, maka kedua orang tua Reo akan segera mengambil tindakan, yaitu dengan menjodohkannya dengan wanita pilihan mereka.
"Ughh!! Apapun yang terjadi aku harus segera menikahi Neru!! Atau kali ini aku malah akan kehilangan Neru, Leon dan Leona sekaligus!" gumam Reo masih menatap lurus gedung-gedung pencakar langit itu dengan rahang yang mengeras.
CEKLEKK ...
Tiba-tiba saja pintu ruangan kerja Reo mulai terbuka tanpa ada sebuah ketukan ataupun kata permisi lebih dulu. Bisa dipastikan siapa lagi mereka yang berani memasuki ruangan ini tanpa mengetuknya dulu? Pasti orang yang merasa sangat dekat dengan dengan pria dingin itu.
"Hai, Reo ..." sapaan seorang gadis dengan suara manja dan mendayu-dayu kini mulai terdengar beriringan dengan suara derap langkah dari sepatu hak tingginya.
Reo masih saja berdiri dengan tegap tanpa berbalik dan menoleh ke arah asal suara.
"Apa yang kamu lakukan disini, Maria?!" tanya Reo penuh dengan selidik.
"Aku hanya ingin mengantarkan makan siang untukmu kok. Kebetulan aku membeli lebih saat dalam perjalanan ke kantormu. Ayo makanlah dulu, Reo!" ucap Maria yang tak pernah merasa lelah untuk medekati Reo.
"Kamu sangat memahamiku bukan, Maria? Aku tidak memakan sembarangan makanan! Sudah ada yang akan selalu membawakan makan siang untukku!" tandas Reo masih saja tak berbalik sedikitpun untuk melihat Maria. "Berikan saja untuk yang lainnya! Karena percuma saja jika kamu memberikan untukku, maka aku akan membuangnya." imbuh Reo dengan santainya dan mulai berbalik.
"What?" ucap Maria melongo saking syoknya.
"Hhm? Kenapa? Bukankah aku sudah menjelaskannya padamu?"
"Ba-baiklah jika begitu. Sebaiknya aku akan memberikan saja untuk Jion." ucap Maria sangat terpaksa dan penuh dengan kekecewaan.
Belum sempat ada perbincangan kembali diantara mereka, kini mulai terdengar sebuat ritme teratur dari arah pintu.
Tok ... tok ... tok ...
"Hhm. Masuk!!" titah Reo mengistruksi.
CEKLEK ...
Pintu itu mulai terbuka. Terlihat seorang wanita cantik dan masih cukup muda dengan pakaian formal yang rapi dan elegan mulai memasuki ruangan kerja ini.
Kehadiran wanita cantik itu seketika membuat ekspresi Maria berubah. Maria menyipitkan sepasang matanya yang menatapnya sedikit tidak suka.
Wanita ini ... bukankah wanita yang sangat menyebalkan saat itu? Mengapa dia datang dan menemui Reo? Bukankah seharusnya pimpinan divisinya saja yang menyampaikan kepentingan dari setiap divisi? Huft ... pasti dia datang untuk menggoda Reo!! Dasar wanita tak tau diri!!
Batin Maria masih menatap Ayaneru penuh selidik dan rasa benci.
"Maaf jika aku mengganggu. Aku akan kembali lagi nanti saja." ucap Ayaneru merasa segan dan berniat untuk segera meninggalkan ruangan kerja Reo kembali.
Namun dengan cepat, Reo segera menahan Ayaneru dengan ucapannya. Dan tentu saja hal itu berhasil untuk menahan Ayaneru agar tetap berada di ruangan ini.
"Tidak, Neru! Kamu tidak mengganggu kok. Masuklah! Lagipula Maria akan segera pergi kok." ucap Reo dengan santainya.
"Apa?!!" celutuk Maria merasa sangat syok karena seakan merasa jika Reo sudah mengusirnya secara halus.
"Tap-tapi, Reo ..." ucap Maria merasa sangat keberatan.
Maria menjadi ciut setelah mendapatkan sebuah tatapan manis namun mencekam dari Reo. Karena Maria masih masih merasa enggan untuk meninggalkan tempat itu, akhirnya wanita licik itu mulai sedikit berakting di depan Reo dan Ayaneru.
BRUGHH ...
Maria terjatuh begitu saja di atas lantai, membuat Ayaneru sedikit bingung. Namun, bukanya segera menolong Maria, Reo malah meraih telpon kantornya dan segera menghubungi seseorang.
"Gavin! Cepat datang ke ruanganku!!" titah Reo lalu menutup gagang telpon itu kembali.
"Nona, apa kamu baik-baik saja?" kini Ayaneru sudah duduk bersimpuh di dekat tubuh Maria dan sedikit mengguncang bahu Maria. "Nona ..."
Tak ada respon sama sekali. Maria masih saja memejamkan sepasang matanya tak sadarkan diri.
"Reo!! Apa yang sedang kamu lakukan?! Lakukan sesuatu. Bagaimana jika nona ini kenapa-kenapa?" kali ini Ayaneru sudah mendongak menatap Reo yang bersikap acuh tak acuh.
Dan hal itu membuat Ayaneru sedikit kesal dan tak habis pikir karena menilai Reo tak mempedulikan salah satu anak buahnya yang sedang sakit.
"Tenang saja! Wanita itu sangat kuat! Dia tak akan mati begitu saja! Dia akan baik-baik saja, Neru!" jawab Reo dengan santai, bahkan tersenyum sinis melirik Maria yang masih tak sadarkan diri.
Dasar!! Pria ini benar-benar tak punya hati!! Bisa-bisanya dia berkata tak manusiawi seperti itu!! Dasar!! Benar-benar pria iblis!!
Batin Ayaneru menatap Reo kesal.
Tok ... tok ... tok ...
Tak lama menunggu, kini tiba-tiba saja mulai terdengar sebuah ritme teratur kembali yang berasal dari pintu.
"Masuk, Gavin!" titah Reo yang langsung mengetahui jika sang tamu adalah Gavin, asisten pribadinya sendiri.
CEKLEKK ...
Kini pintu terbuka kembali, dan benar saja, rupanya dia adalah Gavin.
"Ada apa, Tuan Reo? Tuan memanggil sa ..." ucapan Gavin kini terhenti saat melihat tubuh Maria yang masiih terbaring di atas lantai.
"Bawa Maria ke ruangan medis! Dia pingsan secara tiba-tiba, dan aku tak bisa mengurusnya." ucap Reo dengan santai.
"Ba-baik, Tuan." Gavin menjawab dengan patuh dan segera mendekati Maria hingga mulai menggendong Maria.
Cihh!! Dasar Reo sangat menyebalkan!! Bukannya menolong dan menggendongku, dia malah memerintahkan asistennya untuk membawaku ke ruang medis!! Sial!! Gadis itu juga juga sangat menyebalkan!! Siapa sebenarnya dia?! Aku harua mencari tau tentangnya!!
Batin Maria kesal dan masih melanjutkan dramanya ketika Gavin masih menggendongnya untuk membawanya ke ruangan medis.
Sementara Ayaneru masih saja terlihat kesal menatap Reo.
"Kamu datang untuk membawakan berkas dari Yuan bukan? Berikan padaku!" ucap Reo tiba-tiba.
"Iya. Yuan tak bisa mengantarnya sendiri, jadi dia meminta tolong padaku untuk mengantarkannya padamu. Ini ..." ucap Ayaneru sambil menyodorkan sebuah berkas itu untuk Reo.
...🍁🍁🍁...