
Setelah puas bermain, akhirnya Reo mulai mengantarkan Leon dan Leona pulang ke kontrakannya. Dan rupanya kepulangan mereka begitu terlambat dari jam yang sudah dijanjikan sebelumnya.
Bahkan Ayaneru sudah pulang dari tempatnya bekerja kira-kira satu jam yang lalu. Dan Ayaneru juga sudah menyelesaikan memasak untuk makan malam mereka.
"Mama!!" Leona mulai berlari ke pelukan Ayaneru disaat Ayaneru mulai membukakan pintu untuk mereka. "Aku kangen sekali dengan mama!"
"Mama juga kangen sekali, Sayang. Tapi mengapa kalian pulang begitu terlambat? Bukankah kalian mengatakan hanya akan pergi sebentar saja?" protes Ayaneru sesekali melirik tajam sang bos.
"Hehe ... kami terlalu asik bermain dan malah lupa pulang. Maaf deh, Ma." sahut Leona dengan memperlihatkan tatapan memelasnya yang begitu menggemaskan.
Dan jurus ini adalah salah satu jurus andalan dari Leona, dan tak akan bisa membuat orang marah dan kesal padanya lagi.
"Ma, aku lapar ..." celutuk Leon tiba-tiba.
"Apa?! Apa seharian kamu tidak dikasih makan olehnya, Sayang?!" tanya Ayaneru penuh dengan kecurigaan dan sesekali melirik Reo penuh kecurigaan.
Reo yang mendapatkan tatapan begitu menusuk itu dengan cepat mengibaskan kedua tangannya dengan sepasang mata yang sedikit membulat sempurna.
"Neru, kami bahkan sudah makan 3 kali hari ini ditambah dengan memakan beberapa cemilan ..." ucap Reo dengan cepat membela dirinya sendiri agar terlepas dari tuduhan tidak bertanggung jawab ( padahal memang iya, coba pikirkan lagi apa yang terjadi 5 tahun yang lalu, Reo! Oopss ) .
"Oh ... benar juga ya!! Mama lupa kalau kalian sangat kuat makan dan sangat rakus." celutuk Ayaneru menepuk keningnya sendiri.
"Bukan rakus, Mama! Tapi itu sangat bagus untuk masa pertumbuhan!" sanggah Leon mulai berkicau. "Di masa pertumbuhan akan sangat baik jika banyak memakan makanan bergizi, Ma."
"Kak Leon benar, Ma." imbuh Leona membela sang kakak.
Namun tiba-tiba Leona mulai mengendus aroma masakan yang begitu menggiurkan saliva.
"Hhmm ... harum sekali aroma ini! Mama masak apa? Sepertinya enak sekali! Ayo kita makan bersama lagi!! Ayo, Paman Reo!! Paman juga harus ikut makan bersama dengan kami! Masakan mama enak loh!! Paman Reo pasti suka!!" celutuk Leona mulai menarik tangan Reo begitu saja untuk memasuki kontrakan itu.
Leon juga mulai memasuki kontrakan dengan langkah yang sedikit dipercepat untuk mengikuti Leona dan Reo yang sudah memasuki ruang makan.
Sebenarnya Ayaneru dan Reo merasa cukup terkejut akan tingkah dari Leon dan Leona, namun kedua orang dewasa itu sama sekali tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menuruti kedua bocah kembar itu.
Beberapa makanan rumahan yang baru saja dimasak oleh Ayaneru, kini mulai disajikan di atas meja makan berbentuk persegi panjang dan bergaya lesehan itu.
"Tuan, jangan salahkan aku jika makanan ini tidak cocok untuk lidahmu. Karena makanan ini pastinya tak akan seenak makanan yang biasanya tuan makan sehari-hari."
"Neru, kita sedang berada di luar. Jadu panggil saja Reo!" sela Reo mulai mengambil sepasang sumpitnya.
Apa?! Apa aku tidak salah dengar?! Pria arogan ini mengapa berkata dengan ramah seperti itu? Apa karena saat ini kita sedang berada di depan anak-anak? Dan dia sengaja untuk terlihat hangat dan penyayang? Apa dia benar-benar ingin merebut Leon dan Leona dariku?? Aku tidak bisa membiarkan semua itu terjadi begitu saja!!
Batin Ayaneru menatap tajam Reo yang kini sedang menikmati masakannya.
"Kalau begitu bolehkah kita memanggil papa Reo?" celutuk Leona tiba-tiba dan sukses membuat Ayaneru tersedak.
"Uhukk ... uhuukk ... uhuukk ..." Ayaneru tersedak dan memegangi tenggorokannya.
"Ini, Ma. Minumlah dulu ..." Leon yang begitu mengkhawatirkan Ayaneru, kini mulai menyodorkan segelas air mineral untuk sang mama.
Ayaneru mulai meneguk air mineral itu dan mulai menatap serius sang putri. Sementara Leona mulai mendelik dan semakin mendekati Reo untuk meminta pembelaan.
"Leona, jangan sembarangan! Jangan memanggilnya seperti itu atau itu akan mempersulit mama dan membuat semua orang akan salah paham!" tandas Ayaneru dengan pelan, namun penuh dengan penekanan.
"Baik, Mama ..." sahut Leona merasa sangat bersalah dan mulai duduk dengan tegap kembali memegangi sepasang sumpitnya.
Wajah mungilnya kini mulai terlihat murung dan sebenarnya Ayaneru merasa tidak tega. Begitu juga dengan Reo yang ssangat tidak tega.
"Neru, jangan terlalu keras ... mungkin Leona hanya sedang merindukan papanya." ucap Reo mengusap lembut kepala Leona. "Leona, makanlah dulu. Besok paman akan berikan hadiah untukmu dan kak Leon. Karena hari ini kalian sudah menemani paman jalan-jalan. Paman senang sekali karena bisa melupakan kejenuhan di kantor. Terima kasih ya ..." imbuhnya dengan hangat dan beralih menatap Leon.
"Wah benarkah, Paman? Horee!!!" ucap Leona kembali sumringah dan segera menikmati makan malamnya.
Cihh ... dasar cari muka!! Awas saja jika berani merebut mereka dariku!!
Batin Ayaneru menatap tajam Reo.
Sementara disela-sela menikmati makan malamnya, Leon masih mengawasi antara Reo dan Ayaneru. Sangat terlihat jika Ayaneru memang kurang menerima sosok Reo malam ini di dalam rumah ini.
Mengapa mama terlihat begitu kesal ya? Mama selalu saja terlihat sangat tidak menyukai papa Reo. Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka berdua di masa lalu? Batin Leon.
Ayaneru mulai menikmati makannya dengan kurang menikmatinya. Karena wanita itu selalu saja melirik Reo yang selalu bersikap manis untuk kedua anaknya. Bahkan sesekali Reo juga menyuapi Leona dan Leon, meskipun pada akhirnya Leon menolaknya.
"Leon, makanlah banyak sayur. Ini sangat sehat dan baik untukmu, Sayang ..." ucap Ayaneru yang sering kewalahan untuk menghadapi Leon disaat makan bersama, karena Leon selalu saja menyingkirkan semua sayuran itu.
"Aku akan menggantinya dengan mengkonsumsi buah, Ma. Mama tidak perlu mengkhawatirkan kesehatan dan pencernaanku, Ma." jawab Leon dengan santainya.
"Ma, aku ingin sekali bertemu dengan papa!" celutuk Leona tiba-tiba.
Dan sepertinya gadis kecil itu sengaja mengatakannya di hadapan Ayaneru dan Reo untuk melihat tanggapan dari kedua orang dewasa itu.
Meskipun pertanyaan dari Leona sedikit membuat Ayaneru terkejut bukan main, namun Ayaneru berusaha untuk bersikap tetap tenang di hadapan mereka bertiga.
"Papa kalian sedang sibuk bekerja, Sayang. Kita akan berkumpul kembali jika papa kalian sudah tidak memiliki banyak pekerjaan ya." ucap Ayaneru dengan seulas senyum menatap hangat Leona.
Apakah benar jika Leon dan Leona bukanlah anakku? Apakah Ayaneru bukanlah wanita yang menemaniku 5 tahun yang lalu? Tapi ... mengapa aku merasa begitu nyaman saat berada di antara mereka? Rasanya seperti sebuah keluarga ... nyaman sekali.
Batin Reo mulai termenung menatap mereka bertiga.