Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Morning Kiss ...



Hari demi hari berlalu dengan cepat. Tak terasa waktu untuk berbulan madu yang mereka lakukan di Honolulu, Hawaii kini sudah berakhir. Dan sudah waktunya mereka segera kembali ke Jepang untuk melanjutkan rutinitas mereka kembali.


Untuk sementara, Reo masih mengajak Ayaneru dan kedua buah hatinya tinggal di prefektur Yokohama, yaitu di apartemen milik Reo. Meskipun sebenarnya kedua orang tua Reo sudah selalu meminta mereka untuk kembali ke Osaka, meminta Reo untuk fokus di perusahaan induknya yaitu Fukushi Group yang berada di Osaka.


Namun Reo selalu berdalih bahwa masih ada beberapa yang harus dikerjakan di prefektur Yokohama. Terlebih mereka memiliki cabang perusahaan barunya di prefektur Yokohama.


"Wah!! Jadi ini sekarang adalah tempat tinggal kita ya, Ma? Pa?" tanya Leona menatap takjub sebuah apartemen mewah yang baru saja dimasukinya.


Selain mewah, dan dilengkapi dengan furniture yang lengkap dan berkelas, apatemen ini juga cukup luas dan elegan. Bahkan sebenarnya apartemen bergengsi ini hanya menjadi tempat tinggal dari para pengusaha besar ataupun kelas ke atas saja.


"Benar, Leona sayang. Maaf ya jika tempat ini hanya seadanya dan belum lengkap. Karena selama ini papa jarang sekali mengurus apartemen ini." ucap Reo duduk bersimpuh di depan Leon dan Leona lalu mengusap lembut kepala mereka berdua.


"Tidak masalah kok, Pa. Dimana kamar kita, Pa? Aku dan kak Leon ingin sekali melihatnya." ucap Leona dengan wajah manisnya menatap sang papa.


"Ayo! Papa akan antarkan!" sahut Reo dengan hangat dan mulai berdiri kembali lalu menggandeng Leon dan Leona untuk mengantarkan ke kamar mereka.


Sementara Ayaneru mulai pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya.


Sebuah lemari es penyimpanan makanan yang berukuran cukup besar mulai dibuka oleh Ayaneru untuk mencari beberapa bahan yang bisa dimasaknya. Namun rupanya hanya ada jamur shitake, udang, daging dan beberapa sayuran lainnya.


Hingga akhirnya Ayaneru nemutuskan untuk memasak udang goreng tepung dan beef teriyaki untuk keluarga kecilnya.


Kurang lebih sudah hampir satu jam Ayaneru melakukan kesibukan di dapur. Namun masih belum juga terdengar suara Reo, Leon maupun Leona yang kembali menghiasi apartemen ini.


Setelah menyelesaikan memasak dan menyiapkan makan malam di ruangan makan, kini Ayaneru mulai menyusul suami dan kedua buah hatinya.


Ruangan demi ruangan dilalui oleh Ayaneru, namun apartemen ini masih begitu hening, dan hanya sesekali terdengar suara TV yang berasal dari kamar Leon dan Leona. Ayaneru mulai membuka pintu kamar itu.


Ceklek ...


"Sayang, ayo makan malam dul-lu ..." ucapan Ayaneru mulai dia hentikan ketika menyaksikan sesuatu yang cukup membuatnya terkejut.


Namun akhirnya Ayaneru mulai menarik sudut-sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman manis, ketika dia menyaksikan Reo dan kedua anak kembarnya malah sudah tertidur di atas pembaringan dengan TV yang masih menyala.


"Huft ... kasihan sekali. Pasti mereka sangat lelah dan mengantuk setelah melakukan perjalanan panjang. Di sepanjang penerbangan mereka malah terlalu asik melihat hasil foto saat di Hawaii, sedangkan aku malah tertidur pulas." gumam Ayaneru mulai memasuki kamar itu dan mengambilkan sebuah selimut lalu menyelimuti mereka bertiga.


"Rasanya senang dan tenang sekali saat melihat mereka bersama seperti ini. Selama ini ... Leon dan Leona selalu saja merindukan sosok seorang papa. Dan kini kalian sudah mendapatkan." gumam Ayaneru terharu hingga membuat sepasang manik-manik itu mulai berkaca-kaca.


...🍁🍁🍁...


Keesokan harinya ...


Aroma buah kesemek yang begitu manis mulai menyeruak ketika Ayaneru membuka jendela kamar apartemennya. Meski pepohonan itu berada beberapa meter di bawah sana, namun aromanya yang terbang terbawa angin membuatnya berhamburan di udara.


Reo terlihat sudah bersiap memakai pakaian kerjanya. Ayaneru juga mulai menghampirinya untuk membantunya membenarkan jas dan dasi yang berwarna senada dengan jas itu.


"Sayang, mengapa kamu sudah rapi dan cantik seperti ini? Kamu mau pergi kemana?" tanya Reo keheranan saat melihat Ayaneru juga sudah rapi dengan pakaian formalnya


Ayaneru tersenyum tipis dan masih fokus membenarkan dasi Reo yang masih miring.


"Kamu tidak perlu bekerja lagi, Sayang. Kamu di rumah saja. Dan hanya fokus untuk mengurusku dan anak-anak. Lagipula Leon dan Leona juga akan segera sekolah."


"Tapi aku masih ingin bekerja. Yora akan menjemput Leon dan Leona kok." ucap Ayaneru memelas menatap Reo. "Please ..." imbuh Ayaneru yang memang selama ini sudah terbiasa untuk selalu bekerja.


Yeap, selama 5 tahun ini wanita cantik ini sudah terbiasa mandiri. Bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan kedua anak kembarnya. Jika tiba-tiba saja tidak bekerja lagi, mungkin akan terasa sangat aneh untuk Ayaneru.


"Sayang, aku masih bisa menghidupi dan membelikan apapun yang kamu mau. Kamu tidak perlu bekerja keras lagi. Kali ini cukuplah menjadi ratu untukku saja. Apapun yang kamu inginkan, aku akan memenuhinya ..." Reo meraih kedua belah tangan Ayaneru dan mengecupnya lembut.


Cukup berlama-lama Reo mengecup punggung jemari lentik itu, dengan tatapan hangatnya yang menatap lekat istrinya.


"Kalau begitu aku ingin bekerja. Itulah keinginanku ..." jawab Ayaneru tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.


Reo menghela nafasnya melihat Ayaneru yang tidak mematuhinya, "Tidak boleh!"


"Kumohon ... please ..."


"Aku tidak mengijinkanmu!"


"Please ..."


"Tidak!"


"Sayang, aku mohon." bujuk rayu Ayaneru memperlihatkan mata kucingnya yang begitu memelas.


Untuk sesaat Reo mulai goyah saat Ayaneru mulai memanggilnya dengan kata sayang. Namun pria itu segera bertingkah dengan tegas kembali, karena Reo benar-benar tak ingin membuat Ayaneru terlalu berat lagi menjalani kehidupannya .


"Ehem ..." Reo berdehem saat dia mulai tersadar kembali. "Tidak! Kamu tidak boleh bekerja. Patuhilah perintah suamimu ini, Sayang ... aku melakukan semua ini untuk kebaikanmu. Sudah cukup lama kamu menderita selama 5 tahun ini. Jadi saatnya aku memperbaiki semuanya." imbuh Reo.


Ayaneru mulai terlihat murung dan terdiam selama beberapa saat. Hal ini tentu saja membuat Reo merasa bersalah. Hingga akhirnya Reo mulai merubah keputusannya karena merasa tak tega melihat Ayaneru.


"Baiklah. Kamu boleh bekerja. Tapi ada syaratnya ..." ucap Reo akhirnya mulai luluh.


"Hhm. Katakan padaku apa syaratnya?" tanya Ayaneru mulaj bersemangat.


"Setelah kamu hamil, di saat itulah kamu harus berhenti bekerja."


"Hhm. Baiklah! Aku setuju!" jawab Ayaneru benuh binar dan tak berpikir panjang lagi.


"Baiklah. Dan sekarang berikan sebuah ciuman pagi dulu untuk suamimu ini ..." ucap Reo mulai menunduk untuk menatap lekat wajah ayu itu.


Sepasang manik-manik Ayaneru seketika bergetar dan senyumannya membeku begitu saja. Namun karena kali ini dia yang sedang memohon kepada suaminya, akhirnya Ayaneru mulai berjinjit dan mengalungkan kedua tanganya pada leher kuat Reo.


Sebuah kecupan singkat itu terjadi, dan Ayaneru-lah yang memulainya. Namun disaat Ayaneru melepaskan kecupan singkat itu, Reo malah menahan tengkuk Ayaneru dan mulai memagut kembali bibir setipis dan semerah buah cery itu.


Sebuah ciuman intents yang begitu hangat itu kembali terjadi, sehangat sinar mentari yang mulai menyinari dunia ini.