Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Putri Tidur ?



Mentari pagi mulai menyingsing dengan sinarnya yang hangat. Ayaneru mulai membuka sepasang matanya dan mengerjapkannya beberapa kali.


Hingga akhirnya dia mulai melihat sosok makhluk indah yang masih berada di hadapannya dengan sepasang mata yang terpejam


Reo? Mengapa aku malah tidur bersama dengannya? Ditambah lagi kita sudah berpindah di kamar.


Batin Ayaneru mulai menatap tubuhnya kembali untuk memastikan sesuatu jika tidak terjadi apapun malam itu.


Huft ... aku masih memakai pakaianku kok. Lalu mengapa kita bisa berada disini? Apakah dia yang memindahkan aku? Ataukah aku yang berjalan sambil tidur? Tunggu dulu! Reo bukankah sedang demam?


Batin Ayaneru mulai menyentuh kening Reo untuk memastikan sesuatu. Helaan nafas panjang mulai terjadi saat Ayaneru menyadari sesuatu.


Huft ... syukurlah demamnya sudah turun.


Batin Ayaneru merasa lega.


.


.


.


.


.


Seorang gadis kecil terlihat sedang menyeberangi jalan seorang diri disaat hujan. Dia menggunakan payung yang berukuran cukup besar jika dibandingkan dengan ukuran dirinya yang kira-kira masih berusia 5 tahun.


Namun saat di pertengahan jalan menyebrang, tiba-tiba saja lampu lalu lintas sudah berubah kembali menjadi kuning hingga akhirnya berubah menjadi hijau.


Mobil-mobil itu mulai melaju kembali, sementara gadis kecil itu masih saja fokus pada jalannya sendiri. Hingga akhirnya sebuah sinar lampu yang begitu menyilaukan dan sebuah suara klakson mobil malah menghentikan langkah kakinya.


TIINN ...


CKITT ...


Mobil itu mengerem mendadak. Semua orang terlihat begitu histeris dan was-was menyaksikan semua itu. Namun rupanya kini sang gadis kecil sudah berada di seberang jalan dan masih berada pada gendongan depan seorang anak laki-laki.


Semua orang mulai bernafas lega saat mengetahui jika sang gadis kecil telah selamat dan baik-baik saja.


"Adik kecil, kamu berhati-hatilah. Karena itu sangat berbahaya sekali. Kareka keberuntungan tak akan selalu datang berulang kali kepada kita" ucap anak laki-laki itu sambil menurunkan gadis kecil itu. "Pulanglah. Kakak juga harus segera pergi ..." imbuh anak laki-laki itu mulai berjalan cepat meninggalkan gadis kecil itu.


Beberapa hari kemudian.


Seorang anak laki-laki terlihat sedang duduk di bawah sebuah pohon besar yang berada di bukit di dekat taman kota. Dia terlihat sedang mengerjakan sesuatu dengan buku sketch miliknya.


Di sisi lain ada seorang gadis kecil yang yang sedang berlarian mengejar kupu-kupu yang sedang terbang di daerah taman kota. Hingga akhirnya secara tak sengaja kupu-kupu itu malah membawanya di bukit di dekat taman.


Gadis kecil itu kehilangan kupu-kupu itu dan malah melihat seorang anak laki-laki yang sedang sibuk mencorat-coret sketch book miliknya. Karena merasa tak asing, akhirnya gadis kecil itu mulai menghampiri anak laki-laki itu.


"Kakak ..." ujar gadis kecil itu sumringah saat menyadari jika anak laki-laki itu adalah orang yang sudah menyelamatkannya beberapa hari yang lalu.


"Kamu?" ucap anak laki-laki itu sedikit terkejut.


Masih dengan wajah yang bersinar, gadis kecil itu mulai duduk di samping anak laki-laki itu untuk melihat apa yang sedang dikerjakan oleh anak laki-laki itu.


"Kakak suka menggambar?"


"Hhm. Kakak memiliki sebuah impian untuk menjadi orang hebat di dalam dunia fashion, sesuai keinginan mama." jawab anak laki-laki itu dengan datar.


"Wah! Gambar kakak sangat bagus!" ucap gadis kecil itu begitu takjub.


"Terima kasih." sahut anak laki-laki itu tulus.


"Apa kakak sering datang ke tempat ini?"


"Iya. Setelah pulang sekolah kakak sering berada disini ... kamu sendiri?"


"Hhm? Kupu-kupu akan lebih menyukai saat terbang di alam bebas. Jangan bersedih, makanlah ... kakak punya ini." anak laki-laki itu berusaha untuk menghibur gadis kecil itu dan menyodorkan sekotak puding untuk gadis kecil itu.


"Apa ini, Kak?"


"Puding."


"Kakak yang membuatnya?" tanya sang gadis kecil begitu takjub ketika melihat puding lucu itu.


"Uhm. Iya ..." jawab anak laki-laki itu mengusap tengkuknya karena merasa malu.


"Hhhmmm ... ini enak sekali, Kak! Ini adalah puding paling enak yang pernah aku makan! Terima kasih, Kak!!" seru gadis kecil itu mulai berbinar kembali.


Anak laki-laki itu tak sadar mulai tersenyum tipis, padahal selama ini dia selalu terkenal dingin, irit bicara, dan sangat jarang terlihat tersenyum.


"Siapa nama kakak? Dan berapa usia kakak saat ini?"


Bukannya menjawab, anak laki-laki itu malah menuliskan namanya di dalam buku sketch miliknya itu.


"Bagaimana cara membacanya, Kak? Aku belum bisa membaca selain namaku sendiri. Hehe ..."


"Jadi cara membacanya adalah ... REO ... nama kakak adalah Reo. Dan usia kakak sudah genap 8 tahun 3 hari yang lalu. Lalu siapa namamu?" ucap Reo juga ingin mengetahui nama sang gadis kecil.


Sang gadis kecil mulai tersenyum lebar dan mulai menuliskan namanya di dalam buku sketch milik Reo kecil.


"Usiaku akan genap 5 tahun 3 bulan lagi, Kak! Dan ini adalah namaku ..." ucap gadis itu memperlihatkan coretan namanya dan Reo kecil mulai membacanya.


"Karena saat ibu mengandungku dia selalu menyukai untuk tidur lama, makanya ibu memberi nama itu ..." jelas gadis kecil itu dengan tawa renyahnya.


Reo kecil hanya tersenyum memandangi tulisan yang sebenarnya masih sangat berantakan.


"Aku akan selalu datang kesini untuk melihat kakak menggambar saat sore!" ucap gadis kecil itu bersemangat.


"Hhm ..." sahut Reo kecil dengan senyum tipis.


Namun rupanya pertemuan itu adalah menjadi pertemuan terakhir mereka. Karena keesokan harinya disaat sang gadis kecil mulai mendatangi bukit itu kembali, dia tak pernah menemukan Reo kecil lagi.


Karena keluarga besar Reo kecil saat itu memutuskan untuk pindah ke Osaka karena urusan bisnis papanya. Reo kecil tentunya tak bisa memungkiri hatinya sendiri, jika sebenarnya dia masih ingin untuk menemui gadis kecil yang pertama kali bisa membuatnya tertawa setelah sekian lama dia kehilangan adik kandungnya yang meninggal karena sebuah penyakit yang mematikan.


Putri tidur kecil, maaf ... kakak harus pergi dan tidak sempat berpamitan denganmu ...


Batin Reo kecil yang termenung saat berada di dalam mobil yang akan membawanya dan keluarganya ke Osaka.


.


.


.


.


.


"Maaf, putri tidur ... kakak harus pergi ..." gumam Reo lirih, seolah Reo baru saja mengalami sebuah mimpi buruk.


Keningnya berkerut, dengan ekspresi gelisah dan sepasang mata yang masih terpejam.


"Putri tidur? Apakah itu adalah gadis kecilnya yang pernah diceritakannya?" Ayaneru yang sejak tadi masih menikmati saat menatap wajah tampan itu, kini bergumam pelan mengkerutkan keningnya karena bingung.


"Kakak akan menemukanmu kembali dan akan menikahimu jika kamu sudah dewasa nanti, Putri tidur ..." ucap Reo lirih kembali.


NYUUTT ...


Mendengar penyataan dari alam bawah sadar Reo, seketika membuat dada Ayaneru menjadi nyeri. Ternyata selain Maria dan dirinya, Reo masih memendam rapi sesuatu yang selama ini tak pernah dia ketahui sebelumnya.