Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Kecurigaan Leon



"Bukankah mama mengatakan jika mama bekerja pada divisi marketing? Lalu mengapa malah menjadi seorang model?" selidik Leon mulai beralih menatap Ayaneru yang sudah berdiri di sampingnya dengan sepasang mata yang sudah memicing.


Pertanyaan dari putra kecilnya sungguh membuat Ayaneru seketika kebingungan harus menjawab apa. Karena selama ini Leon sedikit kurang menyukai dunia entertaiment dan hanya menganggap dunia itu kurang berfaedah.


Tentu saja Leon berfikiran seperti itu, karena Leon adalah tipikal pria kecil yang begitu pendiam, introvert dan genius yang lebih memiliki hobi berkutat di dunia digital. Sangat bertolak belakang dengan Leona yang memiliki karakter ceria, periang, dan sangat menyukai fashion.


"Uhm ... itu, Sayang ... sebenarnya saat itu beberapa model sedang berhalangan untuk hadir. Dan beberapa karyawati akhirnya ditarik untuk menggantikan model itu. Dan mama adalah salah satunya, Sayang. Maaf ya ..." ucap Ayaneru dengan wajah memelas dan mulai duduk di dekat kedua buah hatinya.


"Tidak masalah, Mama. Itu kan pekerjaan mama. Mama tetap semangat ya! Semoga papa segera kembali bersama dengan kita, sehingga mama tidak perlu bekerja lagi." ucap Leon menatap lekat Ayaneru.


"Uhm ... i-iya, Sayang." jawab Ayaneru tersenyum kaku.


"Mama cantik kok! Malah terlihat seperti model profesional saja loh!" celutuk Leona yang masih melihat acara itu yang rupanya masih belum selesai.


"Hehe ... benarkah, Leona sayang? Uhm ... sebenarnya mama dipilih oleh seorang desainer yang cukup bergengsi di negeri ini untuk menjadi model utama dari pakaian-pakaian yang dia desain. Jadi untuk ke depannya mungkin pekerjaan mama akan lebih sering untuk menjadi foto model jika dibanding dengan pekerjaan di divisi marketing." ucap Ayaneru mulai menatap Leon dan Leona dengan raut wajah penuh dengan rasa bersalah.


"Apa?!" tanya Leon dan Leona bersamaan. "Mama menjadi seorang model?"


Ayaneru mengangguk pelan menatap kedua buah hatinya secara bergantian. Sebenarnya ada rasa bersalah kepada Leon, namun situasi dan kondisi saat itu tak bisa dihindari dan ditolak oleh Ayaneru.


Pertama harus terjebak bersama F Group yang rupanya adalah perusahaan cabang dari Fukushi Group, dimana sang presdir utama dari Fukushi Group adalah pria yang selalu dihindarinya selama ini. Yang kedua adalah kini nyonya Lingling malah memilihnya untuk menjadi model utama saat mahakarya terbarunya diluncurkan.


"Maafkan mama ya, Sayang. Mama melakukan semua ini karena mama tak memiliki pilihan lain lagi. Jika mama bisa menolak pekerjaan ini, maka mama akan melakukannya. Namun mama sudah terikat dengan kontrak dan harus melakukannya." ucap Ayaneru berusaha untuk menjelaskannya kepada Leon dan Leona.


"Tidak masalah kok, Ma. Bagiku menjadi seorang model adalah sangat keren!! Mama sangat terlihat cantik dan anggun. Jika papa melihat semua itu pasti papa akan sangat terpesona." celutuk Leona dengan ekspresinya yang begitu menggemaskan.


Sepasang matanya besar seperti boneka, rambutnya lurus, tipis dan begitu lembut. Kedua pipinya chubby dan membuat siapapun yang melihatnya pasti ingin untuk mencubitnya pelan.


Ayaneru menanggapi ucapan Leona dengan senyum hangat dan mengusapnya, kemudian mulai beralih menatap Leon dengan ketar-ketir kembali.


"Baiklah! Apapun pekerjaan mama, kami akan selalu mendukung mama. Asalkan semua itu masih wajar dan benar." jawab Leon dengan nada datar namun dingin seperti biasanya.


"Wah! Terima kasih, Leon ... Leona sayang! Kalian memang yang paling memahami mama!" ucap Ayaneru merasa lega dan tersenyum lebar lalu memeluk ledua buah hatinya.


Namun ditengah kehangatan pelukan itu, tiba-tiba saja ada yang membuat Leon kembali melepas pelukannya dan mulai menatap lekat layar televisi itu lagi.


Paman itu ... adalah paman yang saat itu aku temui di bandara Narita. Paman yang ramah dan memiliki sepasang mata yang begitu indah. Sepasang matanya sangat mirip denganku dan Leona. Ah ... andai aku juga punya papa seperti itu.


"Ada apa, Leon?" tanya Ayaneru.


"Ma ... paman itu ... apa mama mengenalnya? Mengapa paman itu ada di acara itu juga?" tanya Leon dengan ekspresi sangat serius menatap layar televisi itu.


Kini Ayaneru mulai beralih menatap layar televisi itu dan merasa cukup aneh karena Leon yang seakan sudah mengenal sosok Reo. Bahkan Ayaneru juga seketika keningungan untuk menjelaskan kepada Leon.


"Memang siapa paman itu, Kak Leon?" tanya Leona ingin tau. "Dan mengapa kak Leon bisa mengenalnya?"


Hhm. Benar! Mengapa pria kecil dingin ini seakan sudah mengenal Reo? Seakan mereka sudah pernah bertemu sebelumnya. Tapi itu tidak mungkin! Karena kita baru saja kembali ke Jepang. Bahkan Leon belum pergi kemanapun untuk mengunjungi beberapa tempat.


Batin Ayaneru kebingungan.


"Kakak bertemu dengan paman itu saat di bandara Narita. Saat kakak membeli minuman kaleng di bandara, tak sengaja seorang pria menabrak kakak. Dan paman itu yang membantu kakak." ucap Leon menjelaskan.


Apa?! Jadi mereka berdua sudah pernah bertemu sebelumnya? Ini berbahaya sekali! Leon sangat memiliki insting yang berbeda dari anak-anak seumurannya. Jangan sampai mereka bertemu kembali.


Batin Ayaneru menatap tajam sosok Reo yang berada di dalam layar televisi itu.


"Ma ... mengapa mama tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Leon lagi membuyarkan angan Ayaneru. "Apa paman itu adalah bos di tempat mama bekerja?"


"Eh ... itu ... uhm ... i-iya, Leon. Paman itu hanyalah bos pengganti saja kok, karena CEO yang sebenarnya sedang berada di perusahaan pusat di Osaka." jawab Ayaneru akhirnya.


"Bos pengganti?" gumam Leon memicingkan sepasang matanya menatap layar itu kembali. Pabdangannya seakan penuh dengan kecurigaan.


Apa mamaku ini buta apa polos? Penampilan yang begitu berkharisma dan berwibawa seperti paman itu tidak mungkin hanyalah seorang bos pengganti bukan? Sudah sangat terlihat auranya yang begitu kuat dan tegas. Sudah bisa dipastikan jika paman itu bukanlah sembarang orang. Hmm ... aku jadi ingin mengenalnya lebih jauh ... hehe aku akan melakukan sesuatu bersama Leona. Karena Leona jauh lebih handal jika dibandingkan dengan aku jika menyangkut hal-hal seperti ini.


Batin Leon mulai memikirkan sesuatu.


"Paman itu tampan dan keren ya, Ma! Lihatlah sepasang mata kebiruannya begitu tegas dan indah. Mengapa seperti mirip seseorang ya ..." gumam Leona yang sepertinya juga mulai tertarik.


"Ahaha ... dia itu sangat menyebalkan, Sayang! Dia bos pengganti yang sangat sombong dan menyebalkan. Sudah lebih baik kita menonton acara lain saja yuk! Malam ini ada film terbaru dari D Star kesukaan kamu." ucap Ayaneru mengalihkan pembicaraan dan segera mengganti chanel televisi itu.


Sikap mama semakin mencurigakan! Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mama terlihat begitu tidak menyukai paman itu. Padahal seharusnya seorang karyawan baru akan selalu patuh dan bersikap baik kepada atasannya. Hhmm ...


Batin Leon masih menatap sang mama dengan penuh rasa curiga.