Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Pin Dari Leon



Reo masih termenung di dalam ruangan pribadinya di dalam ruang kerjanya. Sebuah pin kecil bergambar sebuah karekter robot gundam mulai ditimang-timangnya dengan kening berkerut.


Ucapan Leon malam itu saat mereka berada di rumah besar keluarga Ryusei masih terngiang begitu jelas memenuhi indera pendengarannya.


"Ini untukmu, Papa Reo. Periksalah isi di dalamnya dan juga berikan hukuman untuknya! Aku tak bisa lagi bersikap pura-pura buta! Berikan hukuman yang setimpal untuknya karena dia juga sudah membuat mama menangis! Mama mungkin memang tak pernah bercerita padaku, namun paman Lin Chen sudah mengatakan kejadian di kantor saat itu. Aku harap papa bisa memberikan pelajaran untuknya!"


Seperti itulah ucapan Leon saat malam itu, ketika mereka hanya berduaan di dapur rumah besar Ryusei.


Karena sudah tak sabaran lagi dan semakin penasaran, akhirnya Reo mulai memeriksa dan membongkar pin mungil bergambar robot gundam itu. Hingga akhirnya Reo mulai menemukan sesuatu di dalamnya.


Sebuah alat rekam berukuran cukup kecil telah ditemukan oleh Reo. Reo segera memasukkannya pada sebuah card reader untuk memeriksa isi rekaman di dalamnya.


Terdengar suara seorang pria yang sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya. Dan pria itu menyebutkan nama Maria sebagai bosnya.


Karena telah menyadari sesuatu, refleks saja rahang Reo mulai mengeras. Tangannya yang sedang menggenggam segelas air mineral kini semakin menggenggam gelas itu dengan lebih kuat lagi. Hingga akhirnya gelas itu pecah begitu saja karena genggaman kuatnya.


PYARRR ...


"Maria!! Beraninya kamu melakukan semua ini!!" geram Reo penuh dengan kemurkaannya. "Leon dan Neru bahkan hampir saja celaka saat itu!! Kau benar-benar sangat keterlaluan!!"


CEKLEKK ...


Pintu ruangan kerja Reo kini terbuka dan seorang wanita mulai memasuki ruangan itu.


"Reo maaf, aku sudah mengetuk berkali-kali tapi kamu tidak menyautinya. Dan aku khawatir saat mendengar ada sesuatu yang pecah." rupanya wanita itu adalah Ayaneru.


"Ahh ... tanganmu berdarah ..." pekik Ayaneru histeris saking khawatirnya.


Dengan cepat Ayaneru segera mencari dan mengambil sesuatu di dalam sebuah kotak P3K yang juga tersedia di dalam ruang kerja Reo. Reo segera menuangkan alkohol di dalam casa steril untuk membersihkan darah itu.


Setelah itu Ayaneru segera memberikan obat merah dan mulai membalut luka itu menggunakan casa steril dengan begitu hati-hati. Sementara Reo malah terlihat mulai menatap lekat Ayaneru, bahkan pria dingin itupun sama sekali tak berpaling sedikitpun untuk tidak menatap Ayaneru.


"Mengapa bisa seperti ini? Mengapa tidak berhati-hati?" tanya Ayaneru yang masih fokus membalut luka pada jemari kiri Reo dengan casa steril itu dan perban.


Tak ada jawaban dari Reo, Reo masih saja menatap lekat Ayaneru dan entah sedang memikirkan hal apa saat ini.


Lima tahun kamu berjuang sendirian. Maafkan aku ... maafkan aku, Neru. Dan ... kali ini aku akan membuat Maria membayar semuanya!!


Batin Reo menatap nanar Ayaneru, tatalan yang sangat berbeda dari biasanya. Kali ini terlihat begitu teduh dan hangat.


"Reo, mengapa diam saja? Aku sedang bertanya kepadamu ..." ucap Ayaneru lagi mulai sesekali melirik ke arah Reo.


Dan disaat itulah pandangan mereka berdua malah saling bertemu dengan hangat. Dan jujur saja hal ini membuat Ayaneru merasa kikuk luar biasa. Karena tak seperti biasanya Reo memberikan tatapan hangat seperti ini.


"Aku sedang kurang berkonsentrasi, Neru. Aku sedang butuh vitamin saat ini ..." ucap Reo mulai menjawabnya dengan lirih.


Reo bukannya menjawab ucapan Ayaneru, namun dia malah meraih lengan Ayaneru dan sedikit menariknya hingga membuat Ayaneru mulai terduduk di atas pangkuannya.


"Ap-apa yang sedang kamu lakukan, Reo?" tanya Ayaneru mulai merona karena merasa kikuk dan malu.


Ayaneru juga berusaha untuk segera bangkit kembali dari atas pangkuan Reo, namun Reo malah semakin mencengkeram kuat tubuh Ayaneru, sehingga malah membuat Ayaneru semakin tertahan dan tak bisa melarikan diri.


"Vitaminnya sudah ada di hadapanku ..." ucap Reo dengan lirih dan tersenyum tipis.


Pria berkharisma tinggi itu mulai menatap bibir tipis kemerahan yang berada sangat dekat dengannya itu. Sementara Ayaneru semakin memundurkan tubuhnya untuk tetap menjaga jarak diantara mereka berdua.


Namun tak semudah itu, tangan kiri Reo tentunya sudah menahan punggung Ayaneru juga. Hingga membuat Ayaneru tak bisa terlalu banyak bergerak dengan leluasa.


"Reo, apa yang kamu lakukan?" ucap Ayaneru masih sangat waspada.


"Bukankah kita akan segera menikah, Neru? Jika hanya sekedar ciuman bukan masalah besar bukan?" ucap Reo memasang senyum tipis dan masih menatap lekat Ayaneru.


"Bahkan ... kita sudah pernah melakukan hal lebih sebelumnya bukan? Aku ... sudah pernah melihat semuanya. Aku juga sudah pernah menyentuh semuanya ..." imbuh Reo mulai menatap dagu tirus Ayaneru dan menuruninya perlahan hingga sampai ke tubuh bagian bawah Ayaneru.


Tatapan nakal Reo tentu saja membuat Ayaneru merasa risih dan malu, hingga akhirnya Ayaneru sedikit mendorong dada bidang Reo.


"Jangan bicara omong kosong! Aku akan kembali ke ruanganku saja!" Ayaneru berusaha untuk bangun, namun lagi-lagi Reo malah semakin mencengkeram kuat dan menahan Ayaneru.


Dan dengan nekat Reo malah mendekati wajah ayu itu dan mulai memiringkan wajahnya. Bahkan kini ujung hidungnya yang mancung sudah menyentuh pipi Ayaneru dan nafas beraroma mint segar itu sudah terendus oleh Ayaneru.


CEKLEKK ...


Disaat jarak keduanya hanya menyisakan beberapa inchi saja, tiba-tiba saja pintu ruangan kerja Reo terbuka tanpa sebuah kata permisi ataupun ketukan terlebih dulu.


Dan tentu saja hal ini membuat Reo merasa sangat kesal hingga ingin mengumpat, namun dia tahan. Bahkan Ayaneru yang sangat merasa malu, kini segera berdiri dan undur diri kembali untuk meninggalkan ruang kerja Reo.


"Wah ... wah ... Mr. Rei yang ingin segera melangsungkan pesta pernikahan malah berpacaran dan melakukan hal mesum di dalam ruang kerjanya. Ckk ..." Jion mulai menggoda Reo dan melenggang mendekati meja kerja Reo.


"Apa kamu tidak punya sopan santun, Jion?! Mengapa tidak mengetuk pintu terlebih dulu?!" tanya Reo ketus.


"Ahaha ... sory deh. Aku terlalu bersemangat dan ingin segera bertemu denganmu." jawab Jion dengan santainya.


"Ada apa?! Awas saja jika sampai bukan hal penting!"


"Kamu pasti akan suka dan sangat berterima kasih padaku ... lihatlah ..." kali ini Jion menyodorkan tabletnya untuk Reo dan mulai memutarkan sebuah video.


Reo mulai melihat sebuah video pendek itu dengan seksama.