
Seorang wanita dewasa terlihat sudah berpenampilan begitu rapi, cantik dan good looking dengan mengenakan sebuah pakaian formal yang begitu simple namun sangat elegan. Tidak terlalu norak, namun terlihat begitu kalem, anggun dan berkelas.
Wanita itu mulai memasuki sebuah ruangan yang merupakan tempat kerja keduanya saat ini setelah menjadi model khusus yang dipilih oleh seorang desainer nomor 1 di Jepang, nyonya Lingling.
"Selamat pagi ..." sapa wanita itu dengan wajah penuh binar, dan entah ada angin apa hari ini wanita itu terlihat semakin berkilauan melebihi hari-hari biasanya.
"Pagi, Neru!! Wah kamu terlihat berseri-seri sekali hari ini. Ada apa?" tanya Kara yang rupanya sudah sampai lebih awal.
"Iya donk!! Hari ini aku akan bekerja disini bersama dengan kalian, karena belum ada maha karya terbaru dari nyonya Lingling yang launching. Hehe ..." Ayaneru menyauti dengan tawa kecil dan masih dengan wajah cantik yang begitu berbinar itu.
"Hhm. Kamu terlihat bahagia sekali saat bekerja di divisi marketing. Apa menjadi seorang model membuatmu merasa tidak nyaman dan tertekan, Neru?" tanya Kara menerka-nerka.
"Hhm. Sebenarnya menjadi seorang model adalah bukan bidangku, Kara. Kamu tau sendiri bukan, aku ini gadis seperti apa?" sahut Ayaneru mulai duduk di meja kerjanya.
"Iya juga sih. Tapi sebaiknya kamu memanfaatkan kesempatan emas ini dengan baik, Neru! Karena untuk dipilih oleh nyonya Linhling adalah sebuah keajaiban!! Dan kamu sangat beruntung bisa terpilih olehnya!! Keren sekali! Bahkan selama ini mereka para model lama saja selalu berlomba-loma untuk mendapatkan posisimu saat ini!! Pokoknya kamu harus selalu semangat deh!!" ucap Kara berusaha untuk memberikan semangat untuk Ayaneru sahabatnya.
"Hhm. Lagipula gajinya juga lebih besar kok. Hehe ... jadi mana mungkin aku menolaknya, Kara. Apalagi saat ini aku sangat membutuhkan uang untuk mencukupi kehidupanku bersama kedua anakku secara mandiri." ucap Ayaneru dengan senyuman yang mulai memudar.
"Apakah kedua orangtuamu benar-benar sudah melepaskanmu dan tidak memaafkanmu, Neru? Padahal Leon dan Leona sangat lucu dan juga cerdas. Mengapa mereka berdua tak tersentuh ketika melihat kedua anak yang sangat menggemaskan itu." ucap Kara menyayangkan.
"Ayah bahkan belum bertemu dengan Leon dan Leona. Dia langsung marah ketika ibu mengatakan jika aku pulang dengan membawa kedua anak kembar. Huftt ... sudahlah, Kara. Yang terpenting sekarang aku harus selalu kuat, karena aku masih memiliki kedua anak yang harus selalu aku jaga dan aku bahagiakan." ucap Ayaneru terlihat begitu tegar.
"Hhm. Kamu harus kuat, Neru!! Kamu pasti bisa kuat untuk kedua anakmu!! Tapi ngomong-ngomong ... apa kamu sama sekali tidak mengingat pria itu, Neru? Pria yang membuat hidupmu hancur karena malam itu?" tanya Kara dengan hati-hati.
Belum sempat Ayaneru menjawab pertanyaan dari Kara, tiba-tiba saja pintu ruangan mulai terbuka tanpa ada ketukan ataupun kata permisi terlebih dahulu.
CEKLEKK ...
"Neru!! Cepat bersiap!! Kita akan segera pergi ke Shibbuya! Akan ada pemotretan beberapa pakaian disana. Dan nyonya Lingling sudah menunggu kita disana." ucap seorang pria berpenampilan necis yang baru saja memasuki ruangan itu. Dan dia adalah Reo.
"Tap-tapi ... bukankah seharusnya pemotretan akan dilangsungkan pekan depan karena beberapa pakaian terbaru belum selesai dijahit?" tanya Ayaneru seakan begitu keberatan karena pekerjaan mendadak yang mengharuskan dia bekerja kembali untuk menjadi seorang model.
"Ada beberapa pakaian lain di perusahaan Fukushi Group cabang Shibbuya. Dan kamu harus melakukannya karena ini perintah dari nyonya Lingling. Cepat bersiaplah!! Aku akan menunggumu di bawah!" ucap Reo lalu meninggalkan ruangan ini begitu saja.
Wajah ayu yang berbinar beberapa saat yang lalu, kini tiba-tiba saja mulai terlihat sedikit cemberut. Ibarat lampu, maka dia akan meredup dalam seketika.
"Hehe ... tetap semangat ya, Neru!! Apapun pekerjaannya, kamu harus melakukan semua itu dengan baik!!" ucap Kara menyemangati Ayaneru.
"Aku pergi dulu, Kara! Maaf jika aku tidak bisa membantu hari ini ..."
"Hhm. Tenang saja, Neru! Jangan khawatir!! Hehe ..."
Ayaneru tersenyum samar lalu mulai melenggang tak bersemangat meninggalkan ruangan ini. Wanita itu mulai menyusul Reo yang rupanya sudah menunggunya di dalam mobil super mewahnya.
"Lama sekali!!" protes Reo memasang wajah kesal dan malas.
Huft padahal aku langsung turun dan mengikuti dia! Langkah kakiku kan tidak secepat dia, karena dia memiliki kaki yang panjang. Dasar menyebalkan dan sangat egois! Tidak pernah berubah dan hanya mementingkan dirinya sendiri!! Bahkan 5 tahun yang lalu dia juga seperti itu!! Mementingkan dirinya sendiri tanpa mendengar ucapan dari orang lain!!
Batin Ayaneru menatap kesal Reo dan masih belum memasuki mobil Reo.
"Mau sampai kapan kamu berada disitu?! Cepat masuk!!" titah Reo menegaskan. "Nyonya Lingling sudah menunggu kita, dan dia paling tidak suka menunggu seseorang terlalu lama."
Ayaneru menghembuskan nafas kasarnya ke udara, lalu mulai membuka pintu mobil bagian belakang dan berniat untuk duduk kursi belakang. Namun dengan cepat Reo menahanya dengan ucapannya.
"Kamu ingin membuatku terlihat seperti seorang supir taxi, Neru?!" ucap Reo dengan nada yang begitu kesal. "Duduk di depan!"
Pria ini benar-benar tidak bisa bertingkah laku sedikit lebih lembut saja!! Sungguh dingin dan kasar sekali!!
Batin Ayaneru masih menatap tajam Reo sambil membuka pintu mobil sisi depan dan mulai duduk di sebelah kursi kemudi.
"Apa kamu sedang memaki dan mengutukku di dalam hati, Neru?" celutuk Reo tiba-tiba.
"Tentu saja tidak seperti itu, Tuan. Mana berani aku melakukan semua hal itu." sahut Ayaneru memasang senyum semanis mungkin, padahal hatinya sedang merasa begitu kesal.
"Banyak manusia di muka bumi ini yang memiliki hati atau fikiran yang sangat tidak sinkron dengan ucapan maupun tingkah lakunya." sindir Reo dengan sengaja dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.
Ayaneru lebih memilih untuk diam mengalah dan tak menjawab apapun lagi. Wanita cantik itu kini mulai menatap gedung-gedung pencakar langit di sisi samping yang baru saja dilalui oleh mobil Reo.
Gedung-gedung sebagai landmark kota Tokyo yang memukau dan berdiri dengan sangat kokoh, seakan-akan saling berlomba-lomba untuk menggapai langit yang tinggi.
Huftt ... apa benar jika gadis ini adalah gadis 5 tahun yang lalu yang pernah aku temui di hotel? Namun, bukankah selama ini Neru tinggal di London? Itu artinya gadis di malam itu bukanlah dia ... lalu ... mengapa nama marganya adalah Ryusei? Nama marga yang sama dengan calon istri dari presdir utama Fukushi Group yang melarikan diri dari pernikahannya 5 tahun yang lalu? Waktu yang sama dengan kejadian malam itu. Ughh ... Gavin sialan itu mengapa begitu lama mencari semua informasi itu!! Apa dia benar-benar bodoh?!
Batin Reo yang sesekali melirik Ayaneru, namun sedikitpun Reo tak mengurangi konsentrasinya saat mengemudi.