
Reo yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya, dan masih hanya mengenakan jubah mandinya saja, kini mulai menyamber sebuah benda pipih yang berada di atas nakasnya.
Beberapa saat Reo menatap Ayaneru sebelum akhirnya pria itu sedikit berjalan ke arah balkon, dan kali ini dia ingin menghubungi seseorang.
"Bagaimana?" tanya Reo to the point setelah panggilan itu diangkat oleh seseorang dari seberang.
"Mereka masih saja mengatakan hal yang sama, Tuan. Namun tenang saja, aku sudah memberikan pelajaran hingga membuat mereka tak akan pernah melupakan kejadian hari ini. Dan kini kepolisian juga sudah datang menjemput mereka, namun mereka akan dirawat di rumah sakit terlebih dulu sebelum menerima hukuman di dalam jeruji sel." jelas seorang pria dari seberang.
"Good job, Gavin! Aku akan memberikan bonus untukmu. Sekarang pulang dan istirahatlah!" titah Reo terlihat sedikit lega dan mulai berjalan kembali mendekati pembaringan lalu duduk di tepiannya.
"Baik, Tuan Reo. Terima kasih." ucap Gavin dari seberang line dengan nada bicara bahagia.
Tak menjawabnya lagi, kini Reo segera mengakhiri panggilan itu begitu saja dan menyimpan kembali ponselnya di atas nakas.
Reo mulai menatap kembali Ayaneru yang masih saja belum merubah posisi tidurnya, menandakan dia sedang tertidur dengan begitu nyenyak.
Lima tahun kamu telah berjuang sendirian. Kini saatnya aku menebus semuanya, Neru. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan lebih baik lagi menjaga kalian. Akan aku pastikan jika hal seperti ini tak akan terulang kembali.
Batin Reo tersenyum hangat menatap wanita itu. Lalu Reo mulai berbaring di sebelah Ayaneru. Tak butuh waktu yang lama, Reo juga sudah tertidur begitu saja.
Sementara itu, Maria yang masih berada di rumah sakit merasa kesal luar biasa. Karena Reo sama sekali tidak mempedulikan dirinya yang saat ini sedang mengalami sebuah kecelakaan.
Reo bahkan hanya datang ke rumah sakit untuk menjemput Ayaneru saja dan bukan untuk menjaga dan merawat dirinya.
Padahal sebenarnya kecelakaan ini adalah sengaja dilakukan oleh Maria untuk mendapatkan simpatik dari Reo, agar Reo tak sepenuhnya mencurigai Maria akan kasus penculikan Leon. Meskipun sebenarnya anak buah Maria tak akan membuka suara, karena Maria sudah memberikan ancaman untuk mereka.
"Sialan!! Aku sudah melakukan semua ini hingga tubuhku benar-benar terluka!! Tapi Reo sama sekali tak mempedulikanku!!" geram Maria mulai memutar otaknya kembali untuk kembali mencari rencana untuk memisahkan Ayaneru dan Reo.
Hingga akhirnya Maria mulai menarik sudut-sudut bibirnya hingga menyembulkan sebuah senyuman misterius.
"Kali ini kau tak akan bisa lagi bertahan di tempatmu berdiri saat ini, Neru! Kamu akan selesai dan mungkin tak akan punya wajah lagi setelah ini!! Kita lihat saja setelah kita kembali ke Jepang lagi nanti." gumam Maria dengan senyuman liciknya.
...🍁🍁🍁...
Malam telah berlalu begitu saja. Kini sinar mentari telah menyinari bumi belahan ini dengan hangatnya. Sinarnya yang menyilaukan yang telah menembus gorden tipis itu membuat Ayaneru mulai membuka sepasang matanya.
Dalam posisi miring dia telah melihat sosok seorang pria yang saat tidak asing baginya. Sepasang mata Ayaneru membulat sempurna saat menyadari semua itu.
Dan dengan cepat Ayaneru segera melihat tubuhnya, untuk memastikan jika saat ini dia masih mengenakan pakaian dengan benar. Ayaneru mulai bernafas lega saat melihat tubuhnya yang masih lengkap dengan pakaiaannya.
Namun tetap saja masih ada rasa gugup dan syok, karena mereka berdua saat ini tidur bersama dan sangat dekat. Dan parahnya lagi, tangan Ayaneru malah memeluk pinggang Reo layaknya baru saja memeluk sebuah guling saja.
Namun disaat Ayaneru ingin menarik kembali tangannya, disaat itulah Reo mulai membuka sepasang matanya dan menahan Ayaneru yang berusaha untuk bangun.
"Mengapa kamu ada disini? Dan mengapa kita bisa tidur bersama?" tanya Ayaneru penuh selidik.
"Apa? Apa kamu sengaja membawaku ke kamarku kemarin malam? Reo kamu sungguh sangat sengaja melakukan semua ini ya?!" ucap Ayaneru masih merasa cukup syok.
"Aku hanya tidak ingin mengganggu istirahat anak-anak saja. Maka dari itu aku membawamu ke kamarku. Tenang saja, Neru. Aku tak melakukan hal apapun kepadamu kok. Justru kamu yang dengan sangat bersemangat memeluk dan meraba-raba tubuhku tadi malam." ucap Reo dengan nada jenaka dan mengulum senyum gemas.
"Apa?!"
Apa?! Jadi yang tadi malam adalah nyata? Dan bukanlah sebuah mimpi?
Batin Ayaneru sedikit membelalak menatap Reo.
Ayaneru mulai mengingat-ingat kembali mimpinya tadi malam. Dan rupanya dia memang sedang memimpikan Reo malam itu.
Mimpi Ayaneru ...
Ayaneru sedang tidur dan melihat jika di sebelahnya ada Reo. Reo mengenakan piyama tidurnya dengan belahan depan yang terlihat nyata hingga tubuh atletis dan memiliki 6 sekatan nyata itu terlihat begitu menyihir Ayaneru.
"Lagi-lagi aku bermimpi tentang dia. Emhh ... wajah tampan ini ... jemari hangat ini ... tubuh indah dan sexy ini ... mengapa selalu menggangguku selama ini? Malam saat pertama kali bertemu denganmu, bahkan aku masih selalu saja mengingatnya ..."
Ayaneru bergumam pelan dengan sepasang matanya yang masih merem melek, antara sadar dan tidak sadar. Jemarinya bahkan menyentuh satu persatu wajah ataupun bagian tubuh Reo saat dirinya bergumam membicarakannya.
Seketika wajah Ayaneru mulai menjadi merah seperti tomat saat mengingat semua itu. Saatnitu Ayaneru mengira jika dia hanya sedang bermimpi saja.
Sungguh sangat memalukan sekali! Ucapan dan jemariku bahkan telah menyentuhnya malam itu! Itu artinya dia juga sadar dan hanya pura-pura tertidur saja saat itu? Haahh ... Reo licik dan sangat menyebalkan!
Batin Ayaneru merasa kesal dengan Reo sekaligus dirinya sendiri.
"Akunsudah mendengar semua pengakuanmu malam itu, Neru. Kamu selalu merindukanku rupanya. Dan kamu juga mengakui jika aku tampan dan mempesona." ucap Reo mengulum senyum merasa sangat gemas.
"Itu bukan dari hatiku! Aku bahkan tidak sadar saat mengatakan semua itu!" Ayaneru masih saja berkilah.
"Hal yang terucap di bawah alam sadar kita, biasanya itu adalah hal jujur dan berasal dari dalam lubuk hati, Neru. Kamu tidak bisa mengelak lagi." sahut Reo masih mengukir senyuman manis pada wajahnya.
"Jadi sebaiknya kita bersama dan memulainya kembali. Bagaimana?" imbuh Reo masih menatap Ayaneru dengan hangat.
"Ini terlalu dekat! Mundurlah sedikit, Reo ..." Ayaneru malah mengalihkan pembicaraan dan memalingkan wajahnya untuk menghindari kontak mata dengan Reo.
Namun Reo masih saja menahan pinggang Ayaneru, hingga tak bisa membuat Ayaneru melarikan dirinya.
"Kamu bahkan memakai tempat tidur ini lebih banyak dariku. Lihatlah ..." ucap Reo kembali menahan tawa.
Ayaneru mulai memeriksa sekitarnya masih dalam keadaan tidur miring menghadap Reo. Dan benar saja, sisa tempat tidur di belakang Ayaneru masih sangat luas. Sedangkan sisa tempat tidur di belakang Reo tinggal sedikit saja.