
Hallo selamat tahun baru sahabat Release Me, Love Me. Salam hangat dari Reo-Neru dkk ya ... hehe ...
Jadi kemarin author sudah memberitahukan sedikit bocoran ya, jika sebenarnya Reo pernah menyukai seorang gadis disaat kecil yang tak pernah bisa dia lupakan.
Namun dia menjalin hubungan dengan Maris dan malah dikecewakan Maria. Kekecewaan dengan Maria malah membuat Reo semakin menutup diri kembali. Hingga dia malah mulai mengingat kembali sosok gadis kecil itu.
Akhirnya Reo mulai menggerakkan beberapa anak buahnya untuk mencari sosok gadis kecil itu. Reo segera bertindak cepat untuk segera mendapatkan kembali gadis kecilnya. Dia bahkan menggunakan kekuasaannya serta kekuasaan kedua orang tuanya yang sudah tak diragukan lagi.
Sebuah perjodohan yang diajukan dari keluarga Fukushi dengan keluarga Ryusei, adalah Reo yang sudah berada di balik ini semua. Reo mengetahui jika sang putri tidur kecilnya-Neru adalah putri tunggal dari keluarga Ryusei.
Perjodohan itu diterima baik oleh keluarga Ryusei, karena kedua orang tua Ayaneru juga mengetahui, jika putra tunggal keluarga Fukushi atau Mr. Rei adalah seorang pria matang yang sangat terhormat dan tak diragukan lagi segala embel-embelnya.
Kedua orang tua Ayaneru bahkan menyetujui perjodohan itu tanpa pernah bertemu sebelumnya dengan Mr. Rei.
Namun sebuah kejadian di luar dugaan tiba-tiba saja malah terjadi saat itu. Ayaneru malah hamil di luar nikah dan meninggalkan Jepang, karena merasa tak pantas untuk tetap menikah dengan Mr. Rei.
Dilain sisi, Mr. Rei atau Reo yang mengalami malam panas saat itu tak begitu mengenali Ayaneru karena pengaruh obat itu. Terlebih lagi, dia tak pernah bertemu kembali dengan Ayaneru setelah 14 tahun.
Yang ada di dalam ingatannya adalah wakah kecil putri tidurnya. Dan sebenarnya istilah putri tidur sendiri adalah panggilan khusus dari Reo. Karena saat itu gadis kecil itu pernah mengatakan jika ibunya lebih suka untuk tidur disaat sedang mengandung dirinya.
Maka dari itu sang ibu memberinya nama Ayaneru, yang berasal dari kata Neru.
Kita lanjut lihat mereka yuk ...
...🍁🍁🍁...
Hujan tiba-tiba saja turun mengguyur prefektur Yokohama dan sekitarnya, seakan alam juga mengetahui bagaimana sesak dan sedihnya Ayaneru saat ini.
Wanita cantik yang masih terlihat murung itu mulai berhenti di teras depan gedung F Group dan mulai mendongak menatap ke atas untuk melihat hujan yang turun.
"Mengapa sakit sekali rasanya? Mengapa sesak sekali rasanya setelah mengetahui semua itu? Apakah ini karena aku yang sudah benar-benar menyukai dan mengharapkan dia? Hiks ... aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Ternyata beginilah rasanya patah hati dan cinta bertepuk sebelah tangan. Hiks ..."
Ayaneru bukannya langsung memesan taxi dan pulang, namun dia malah duduk meringkuk di depan gedung F Group sambil terisak. Tangisnya pecah begitu saja karena dia tak mampu membendungnya lagi.
"Cinta bertepuk sebelah tangan? Sebenarnya dengan siapa kamu jatuh cinta saat ini?" suara seorang pria yang begitu jernih dan maskulin mulai terdengar olehnya.
Ayaneru mulai mendongak dan rupanya di hadapannya saat ini sudah ada Reo. Dengan cepat Ayaneru mulai menyeka air matanya dan mulai berdiri.
"Kamu salah dengar! Aku akan ke halte dan segera pulang." ucap Ayaneru cepat dan segera berniat untuk meninggalkan Reo.
Namun baru saja melenggang beberapa langkah, Tiba-tiba saja Ayaneru malah terpeleset karena jalanan yang licin karena air huja. Dengan cepat Reo segera meraih tangan Ayaneru dan malah membuat Ayaneru terjatuh pada pelukannya.
Jujur saja Ayaneru merasa sedikit lega saat mendengarkan pengakuan dari Reo. Namun lagi-lagi dia teringat jika Reo masih saja menyimpan rasa untuk wanita lain. Dan Reo tidak mengakui semua itu di hadapan Ayaneru.
Ayaneru mulai mendorong tubuh Reo dan mendongak menatap wajah yang selalu terlihat dingin itu. Namun malam ini terlihat begitu hangat dan tulus.
"Mengapa kamu melakukan semua ini? Mengapa kamu tidak jujur saja padaku, Reo? Hiks ... kamu tidak perlu berbohong seperti itu untuk membuatku merasa lebih lega. Hiks ..." Ayaneru tak kuasa lagi untuk tetap menahan air mata hangatnya.
Wanita itu kini malah menagis dengan tubuh yang sedikit gemetaran.
"Neru ..."
"Kamu jahat, Reo ... hiks ... kamu mencintai wanita lain namun malah ingin menikahiku." Ayaneru mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya.
"Bukankah kamu sudah berjanji akan menikahinya? Putri tidurmu? Lalu ... lalu mengapa kamu malah menikahiku? Aku tau Leon dan Leona sangat membutuhkan seorang papa. Namun ... namun seharusnya kamu tidak mempermainkanku seperti ini, Reo ... hiks ... jika kamu memang tidak menyukaiku seharusnya kamu jujur saja padaku. Hiks ... tidak perlu menutupinya ..." ucap Ayaneru masih dalam isak tangisnya.
Wanita itu menunduk tak kuasa lagi untuk menatap Reo. Bahkan untuk berdiri saja rasanya berat, hingga dia malah menyandarkan kepalan tangannya pada dada bidang Reo.
"Darimana kamu mengetahui semua itu, Neru?" sebuah pertanyaan yang terdengar begitu ambigu mulai dilontarkan oleh Reo.
Padahal Reo memang tidak mengetahui jika Ayaneru sudah mengetahui sesuatu. Dan tentunya Reo juga sangat terkejut saat ini.
"Kamu mengigau saat kamu sakit. Saat itu kamu mengatakan semuanya. Hiks ... kamu mengatakan jika kamu akan segera menemukan dan menikahi putri tidurmu. Hiks ... mulai sekarang jangan lagi menutup-nutupinya di hadapanku. Dan kamu bebas melakukan apapun. Dan aku hanya akan menjadi istri di atas kertasmu saja demi anak-anak." ucap Ayaneru berusaha untuk menyeka air matanya sendiri dan berusaha untuk tetap tegar.
"Neru. Apa kamu benar-benar bodoh?" ucap Reo tiba-tiba.
Seketika Ayaneru berhenti menangis dan mendongak menatap Reo kesal, "Apa?!"
"Apa kamu tidak tau makna dari namamu sendiri?" ucap Reo menatap teduh Ayaneru.
Selama beberapa saat Ayaneru terdiam dan memikirkan ucapan dari Reo. Membutuhkan beberapa menit hingga akhirnya dia mulai mendapatkan sebuah jawaban.
"Jadi ... apa yang kamu maksud putri tidur adalah aku? Tap-tapi ..."
"Apa kamu sudah melupakanku, Neru? Kita pernah bertemu sebelumnya."
Ayaneru kembali terdiam dan mengingat-ingat sesuatu. Potongan kenangannya yang terjadi saat 14 tahun yang lalu tak bisa diingatnya dengan baik. Karena itu sudah sangat lama. Sehingga Ayaneru hanya menggeleng pelan.
"Kamu hampir tertabrak saat menyeberang di kala hujan. Dan aku telah menyelamatkanmu saat itu. Dan kita juga selalu bertemu saat sore hari di bukit di dekat taman kota. Kamu selalu datang untuk melihat gambarku saat itu. Apa kamu sungguh tidak mengingat semua itu, Neru?"
Tanya Reo menatap lekat Ayaneru.