Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Selangkah Lebih Maju



Ayaneru yang mulai menyadari jika dirinya memakai tempat tidur lebih banyak daripada Leon, seketika wajahnya semakin merona saja.


"Uhm ... maaf ... aku sungguh minta maaf ..."


"Tidak masalah, Neru. Aku senang berbagi tempat tidur denganmu." jawab Reo santai.


"Lalu ... mengapa tadi malam kamu malah berpura-pura tidur? Kamu sengaja ingin membuatku malu ya? " tanya Ayaneru dengan hati-hati, namun sebenarnya juga merasa sedikit kesal.


"Lalu? Apa kamu aku ingin aku bangun? Jika aku bangun malam itu, bisa-bisa kejadian 5 tahun yang lalu akan kembali terjadi, Neru. Karena malam itu kamu malah menggodaku, dan tentu saja aku sudah berusaha keras untuk menahannya." ucap Reo dengan entengnya dan malah semakin membuat Ayaneru merasa malu.


"Aku akan kembali ke kamarku untuk mandi dan mencuci lalu memasak ..."


Kali ini wanita itu nekat untuk bangun dan segera melompat turun dari ranjang, dan Reo akhirnya juga melepaskannya. Ayaneru dengan cepat meninggalkan kamar Reo.


Mencuci dan memasak? Dia sangat buruk dalam berbohong ... bahkan semua makanan sudah disiapkan di hotel ini. Pakaian kotor juga sudah ada yang bertugas untuk mencucinya.


Reo tersenyum tipis dan juga mulai menuruni pembaringannya dan bersiap untuk melakukan ritual mandinya.


...🍁🍁🍁...


Hari ini rombongan F Group sudah kembali lagi ke Tokyo. Satu persatu mereka mulai meninggalkan bandara Narita, karena sebagian sudah dijemput oleh pengawalnya masing-masing.


Namun rupanya Lin Chen sudah menantikan untuk menjemput Ayaneru, Leon dan Leona di Narita Airport.


"Welcome back, Neru!!" Lin Chen melambaikan tangannya dengan wajah berbinar saat melihat Ayaneru dan kedua anak kembarnya di lokasi kedatangan kelas VIP.


"Oh, hai ... apa yang sedang kamu lakukan di bandara?" tanya Ayaneru yang juga terlihat berbinar melihat masa lalunya kembali.


"Aku melihat status sosial mediamu jika kamu akan segera tiba di Jepang lagi. Jadi aku ingin menjemputmu dan juga si kembar. Ayo!!" ucap Lin Chen bersemangat dan mulai menarik koper milik Ayaneru untuk membawakannya.


"Hhm. Terima kasih, Lin Chen. Padahal kamu tak perlu repot-repot seperti ini untuk menjemputku lo." Ayaneru menyauti dengan ramah seperti biasanya.


"Ehem ..." Reo yang kebetulan masih ada tak jau dari mereka kini mulai berdehem lalu mendekati mereka. "Aku masih memiliki tanggung jawab sepenuhnya terhadap anak buahku! Jadi aku yang akan mengantatkan dia pulang!" imbuh Reo menandaskan dengan penuh penekanan.


"Eh? Uhm ... itu ..." Lin Chen seketika mulai menciut karena aura kelam dan mencekam dari Reo.


Sedangkan Leon dan Leona hanya saling berpandangan hingga mulai tersenyum dengan lebar sambil mengedipka salah satu matanya dengan mengangkat salah satu ibu jarinya.


Papa sangat keren hari ini! Dia sudah berani maju selangkah untuk berperang melawan paman Lin Chen! Ayo, Papa!! Semangat dan jangan mau kalah dari paman Lin Chen! Kami mendukungmu, Papa!


Batin Leona menyemangati dan mendongak menatap Reo.


Reo yang kebetulan menangkap pandangan gadis kecil itu seketika paham akan bahasa isyarat yang telah diberikan oleh Leona kepada dirinya. Hingga akhirnya Reo mulai mengangguk pelan dengan ekspresi serius.


"Aku akan mengantarkan Neru. Jadi lebih baik kamu pulang saja! Ayo, Neru!!" Reo mulai merebut koper milik Ayaneru yang sudah dipengang oleh Lin Chen beberapa saat yang lalu.


"Eh ... tap-tapi, Reo ..." sergah Ayaneru merasa segan kepada Lin Chen.


"Baiklah. Tidak masalah, Neru. Aku akan kembali pulang dan akan berkunjung ke rumahmu saja nanti. Hati-hati ..." ucap Lin Chen dengan ramah dan segera bergegas pergi.


Leona kembali berbinar melihat semua ini. Namun rupanya gangguan masih belum sepenuhnya berakhir. Kali ini Maria mulai mendekati Reo.


"Reo ..."


Maria dan Ayaneru seketika mulai membelalak lebar setelah mendengarkan ucapan dari Reo. Tidak seperti Leon dan Leona yang merasa begitu takjub saat mendengarkan ucapan Reo.


Papa sungguh keren!! Papa sudah mengalami banyak kemajuan!!


Batin Leona takjub.


Ayo, Papa! Jangan biarkan wanita sihir ini membuat masalah lagi! Dia sangat jahat!


Batin Leon menatap Maria tajam dan dingin. Apalagi saat Leon mengingat jika dalang di balik penculikan dirinya rupanya adalah Maria.


"Apa kamu sedang bercanda, Reo? Kamu?? Mau menikahi wanita yang sudah memiliki dua orang anak ini?! Apa yang akan mereka katakan nanti? Ini sungguh sangat konyol, Reo! Apa kamu sudah kehilangan akal sehat?" Maria terlihat begitu syok dan frustasi sendiri mendengar ucaoan dari Reo.


"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Maria! Kau pasti sudah sangat memahami diriku bukan?" sebuah pertanyaan retoris mulai dilayangkan oleh Reo dengan senyuman miring.


"Reo! Jangan gegabah ... kamu pasti akan menyesal jika menikahi dia ..."


"Justru aku akan sangat menyesal jika aku sampai kehilangan dia lagi!" tampik Reo dengan tegas.


Bravo!! Papa sungguh keren!!


Batin Leona semakin berbinar mendongak menatap Reo.


"Ayo, Neru!" Reo dengan sengaja malah menggandeng Ayaneru.


Koper itu mulai diberikan untuk Gavin, karena Reo juga mulai menggendong Leona. Sedangkan Leon masih saja bergandengan tangan dengan Ayaneru.


Pria ini sungguh tidak main-main lagi. Dia bahkan begitu terang-terangan saat ini. Huhh ...


Batin Ayaneru menghela nafas, namun tak melawan Reo sama sekali.


"Argghhh!!! Sial!!! Wanita itu sungguh keterlaluan!!" pekik Maria frustasi.


Untung saja tak banyak orang yang berada di sekitar mereka, karena mereka berada di jalur VIP, bahkan hanya ada mereka saja saat terjadi perdebatan itu.


...🍁🍁🍁...


Seorang wanita cantik berambut pirang dan perpenampilan sangat stylish dan fashionable terlihat mulai turun dari mobil sport mewahnya yang berwarna merah muda, setelah sang supir pribadi membukakan pintu samping kemudi untuknya.


Wanita berparas cantik bak bidadari itu menatap sebuah mansion mewah di hadapannya dengan sebuah senyuman misterius.


Kini dia mulai melenggang dengan anggun untuk memasuki halaman mansion itu hingga akhirnya mulai mencapai pintu utama. Beberapa pengawalnya mengekori di belakangnya.


Sementara asistennya dia tinggalkan begitu saja di Yokohama, karena sang wanita cantik ini sedang mencuri waktu dan kabur dari sang asisten untuk pergi ke sebuah mansion mewah yang berada di Osaka ini.


Salah satu anak buahnya mulai menekan bel mansion mewah itu setelah sang wanita cantik itu memberikan sebuah isyarat dan titahnya kepada pengawalnya.


Tak menunggu waku lama, kini pintu itu sudah terbuka . Seorang pria paruh baya mulai terlihat dibalik pintu itu, lalu mulai memberikan penghormatan untuk menyambut wanita cantik itu.


"Selamat datang, Nona. Nyonya besar dan tuan besar sudah menunggu nona di dalam." ucap pria paruh baya itu sedikit minggir untuk memberikan jalan kapada wanita berparas bak bidadari yang dingin itu.