Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Menghindar Lagi?



Seorang wanita dengan pakaian formalnya yang begitu rapi dan elegan mulai memasuki ruangan ini. Langkahnya begitu anggun beriringan dengan ritme teratur yang berasal dari suara sepatu hak tinggi yang dia kenakan saat ini.


Wanita itu adalah Ayaneru, dan kedatangannya cukup membuat Reo merasa cukup terkejut namun juga senang karena bisa melihat istrinya disaat jam kerjanya.


"Say ..." sapaan hangat Reo terpotong.


"Apa kamu memanggilku, Tuan Reo?" ucap Ayaneru memotong ucapan Reo.


Tuan? Lagi-lagi dia memanggilku dengan panggilan tuan? Mengapa Neru bersikap seperti ini? Padahal saat ini dia adalah istriku. Dan hubungan ini juga tak perlu ditutup-tutupi lagi, karena seluruh karyawan juga sudah mengetahuinya. Huft ... apa dia malu menjadi istriku? Karena ... kami sudah memiliki Leon dan Leona sebelum menikah? Aargghhh!! Sejak kapan kamu bisa memikirkan hal tak berguna seperti itu, Reo?!! Tidak mungkin Ayaneru memiliki pemikiran seperti itu!


Batin Reo seketika memijit keningnya dan mengurungkan niatnya untuk menyapa istrinya dengan hangat.


"Ya. Aku memanggilmu. Dia adalah Flo. Orang yang akan menggantikanmu sebagai model utama di F Group. Tolong antarkan Flo ke ruangan pemotretan dan perkenalkan dengan seluruh karyawan perusahaan." titah Reo lebih memilih untuk mengimbangi sikap Ayaneru hari ini yang terlihat lebih mirip seperti sikap interaksi antara atasan dan bawahan saja.


"Baik. Mari, Nona Flo. Akan aku antarkan nona ke divisi pemotretan dan mempetlihatkan divisi-divisi lainnya." ajak Ayaneru dengan ramah.


"Kalau begitu kami permisi ..." ucap Ayaneru lagi lalu mulai meninggalkan ruangan Reo.


Flo melemparkan senyuman manisnya untuk Reo dan sedikit membungkukkan badannya sebelum menyusul Ayaneru.


Ayaneru mulai memperkenalkan Flo kepada beberapa karyawan F Group dan juga mengantarkannya untuk melihat-lihat tempat di perusahaan ini. Hingga akhirnya Ayaneru tujuan terakhir mereka adalah menuju ke divisi pemotretan bersama.


"Ayaneru. Benar itu adalah namamu?" tanya Flo tiba-tiba ketika kedua wanita cantik itu menggang bersama melewati sebuah lorong panjang untuk menuju ruangan pemotretan.


"Ya. Bagaimana, Nona Flo?" tanya Ayaneru sesekali melirik wanita cantik yang memiliki tinggi badan kira-kira 170 cm itu.


Sementara Ayaneru hanya memiliki tinggi badan 168 cm dengan berat badannya 48 kg.


"Aku dengar model utama sebelumnya adalah kamu ya? Uhm ... kalau boleh tau, mengapa kamu berhenti menjadi model utama dari F Group?" tanya Flo samgat ingin tau.


"Aku baru saja menikah. Dan suamiku tidak mengijinkan aku untuk bekerja menjadi model lagi. Bahkan sebenarnya aku tidak diperbolehkan untuk bekerja lagi." jawab Ayaneru dengan jujur.


Karena memang itulah alasan yang sebenarnya. Reo hanya mengijinkan Ayaneru untuk tetap bekerja di divisi marketing saja. Dan bukan untuk menjadi model utama dari F Group lagi. Bagi Reo, kecantikan dan keanggunan sang istri hanya boleh dilihat oleh dirinya saja. Dan tidak perlu diketahui dunia.


"Oh, begitu rupanya ya. Oh iya. Terima kasih ya karena sudah menemaniku dan memperkenalkanku dengan tempat-tempat di F Group ini." ucap Flo denga tulus.


"Hhm. Sama-sama ..." jawab Ayaneru dengan ramah.


Ayaneru kembali melenggang namun wajahnya terlihat sedikit murung, karena sebenarnya beberapa saat yang lalu ada sebuah nomor yang tidak dikenal tiba-tiba saja mengirimkan pesan dan beberapa foto yang membuatnya sedikit bersedih.


Foto-foto itu adalah foto Reo dan Maria di masa lalu ketika mereka masih menjalin sebuah ikatan. Dan di dalam foto-foto itu, Reo dan Maria terlihat begitu dekat. Bahkan ada foto mereka berdua bersama saat mereka ada di dalam sebuah kamar hotel.


Wanita mana yang tidak akan besedih ketika melihat semua foto-foto itu? Meskipun semua itu hanyalah sekadar foto masa lalu, tapi hati seorang wanita tetaplah akan merasa sakit jika mengetahui masa lalu suaminya ketika bersama dengan wanita masa lalunya.


Dan mungkin karena itulah mood Ayaneru hari ini sedikit berubah menjadi buruk. Bahkan dia kembali memanggil Reo dengan panggilan tuan beberapa saat yang lalu.


"Halo. Ada apa, Yuan?" sapa Ayaneru saat mengangkat panggilan itu.


"Ayaneru, apa kamu bisa segera kembali? Aku sedang membutuhkan bantuanmu. Data-data pemasaran kita bulan lalu ada padamu kan? Aku sedang membutuhkannya saat ini." ucap Yuan dari seberang line.


"Baiklah. Aku akan segera datang." Ayaneru segera mengakhiri panggilan itu dan menyimpan ponselnya kembali.


"Nona Flo. Maaf, tapi aku harus segera kembali untuk membantu atasanku. Apakah kamu bisa pergi sendirian? Ruangan ini adalah ruangan pemotretan kok. Dan di dalam masih ada kru perusahaan yang sedang melakukan pemotretan bersama model lain juga kok. Nona Flo bisa langsung masuk saja." ucap Ayaneru merasa segan karena harus segera pergi dan meninggalkannya.


"Baiklah. Jangan khawatir. Dan terima kasih, Ayaneru." ucao Flo dengan tulus.


"Sama-sama." sahut Ayaneru tersenyum hangat.


...🍁🍁🍁...


Pulang bekerja Ayaneru sengaja keluar dan meninggalkan ruangan divisi marketing F Group dengan cepat. Wanita cantik menaiki taxi dan segera menuju ke rumah Yora karena ingin menjemput Leon dan Leona.


DRTT ...


Ponsel Ayaneru berdering ketika dia masih berada di dalam taxi. Wanita cantik itu mulai mengambil benda pipih dari dalam sling bag miliknya dan melihat nama si pemanggil. Terlihat nama My hubby memenuhi layar berukuran kira-kira 6 inchi itu.


"Dia mau apa ya?" gumam Ayaneru berpikir keras.


Panggilan pertama terlewatkan begitu saja karena Ayaneru merasa ragu untuk mengangkat panggilan itu. Namun rupanya Reo masih berusaha untuk menghubungi Ayaneru.


Hingga akhirnya Ayaneru mulai menggeser tombol hijau itu ke atas dan menempelkan benda pipih itu pada telinganya.


"Ha-hallo ..." sapa Ayaneru.


"Sayang. Kamu ada dimana sekarang? Aku baru sajja mendatangi divisi marketing tapi Kara mengatakan jika kamu sudah pulang. Mengapa kamu tidak menghubungiku dan memberitahuku jika ingin pergi ke suatu tempat? Aku bisa mengantarmu. Kita bisa pergi bersama." ucap Reo terdengar cemas.


"Aku ... aku sedang buru-buru tadi. Maaf ... aku tidak sempat menghubungimu." jawab Ayaneru berkilah dan mengatakannya lirih.


"Sekarang kamu ada dimana? Aku akan menyusulmu."


"Aku ... aku sedang berada di dalam taxi."


"Katakan kepada supir taxi itu untuk segera berhenti sekarang juga! Aku akan segera menyusulmu!" tandas Reo penuh dengan penekanan.


"Tap-tapi ..."


"Patuhi ucapanku, Neru!" ucap Reo pelan namun penuh dengan penekanan.


"Pp-pak ... tolong berhenti ..." ucap Ayaneru begitu terpaksa mengatakannya kepada supir taxi itu, hingga akhirnya sopir taxi itu mulai menepikan taxi berwarna kuning pudar itu tepat di dekat Rainbow Bridge.