
Ayaneru mulai beranjak dari tempatnya untuk bergegas membukakan pintu untuk sang tamu.
"Siapa yang datang ya? Perasaan aku hanya mengundang Kara, Xavier, Yora dan Yuan. Apakah ayah dan ibu yang datang? Ahh itu tidak mungkin ... lalu siapa ya?" gumam Ayaneru menerka-nerka sendiri.
Wanita dengan balutan pakaian formal namun sedikit lebih santai ini kini mulai membuka pintu rumahnya.
CEKLEKK ...
Dan betapa terkejutnya Ayaneru saat melihat sosok seorang pria dewasa dengan setelan jas super rapi dan harum sudah berdiri membelakangi dirinya saat ini.
Kini pria dengan khariamatik tinggi itu mulai berbalik menatap Ayaneru dan mulai memamerkan senyuman pamungkasnya yang biasanya membuat para gadis menggilainya.
"Kamu? Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Ayaneru begitu terkejut, karena Ayaneru tak pernah mengundang Reo untuk menghadiri perayaan ulang tahun kecil-kecilan untuk kedua anak kembarnya sore ini.
"Untuk memenuhi undangan tentu saja! Sebagai seorang papa yang baik, bukannya sudah sangat wajar jika aku datang disaat kedua anakku sedang berulang tahun?" pria berkharisma tinggi itu mulai memperlihatnkan kembali senyuman smirk-nya yang begitu memukau.
"Jangan berisik, Reo! Jangan bicara seperti itu terlalu keras!!" Ayaneru sedikit mendorong tubuh Reo untuk menjauh dari pintu karena khawatir jika teman-teman ataupun kedua anak kembarnya akan mendengar ucapan dari Reo.
"Aku hanya bicara apa adanya, Neru. Dan ... bukankah hal ini tak perlu ditutupi lagi? Kita juga akan segera menikah bukan?" ucap Reo dengan entengnya.
"Aku bahkan belum memutuskannya, Reo! Dan lagi ... aku tidak pernah mengundangmu untuk datang malam ini!" tandas Ayaneru seakan tak terima jika Reo ikut bergabung untuk merayakan pesta ulang tahun kedua anak kembarnya.
Namun, belum sempat Reo menjawabnya kembali, kini seseorang mulai datang menghampiri mereka berdua.
"Paman Reo!!" tiba-tiba saja terdengar suara anak perempuan dan kemudiam berlari ke arah Reo.
Reo segera duduk bersimpuh untuk menyambut anak perempuan itu dan merentangkan kedua tangannya lebar, hingga gadis kecil Leona mulai berhamburan masuk ke dalam pelukan Reo. Dan tentu saja hal ini membuat Ayaneru menjadi sangat kesal bukan main.
"Leona!!" tandas Ayaneru penuh dengan penekanan.
Sementara Leona hanya tersenyum tipis ketika menatap wajah Ayaneru.
"Neru, aku datang hanya untuk memenuhi undangan dari Leon dan Leona kok. Jangan khawatir, aku tak akan membuat kerusuhan dan tak akan mengacaukan semuanya kok." ucap Reo dengan ramah. "Oh iya. Paman sudah membawakan hadiah untuk kalian berdua. Gavin!! Bawa barang-barang itu kemari!" imbuh Reo mulai memberikan titahnya untuk asisten pribadinya.
"Baik, Tuan." sahut Gavin yang rupanya sudah berada tak jauh dari mereka.
Gavin datang bersama dua anak buahnya yamg masing-masing membawa sebuah bingkisan berukuran cukup besar.
"Wah ... apa isi di dalamnya, Paman?" tanya Leona dengan wajah penuh binar menatap bingkisan besar itu.
"Setelah acara selesai, kalian boleh membukanya. Kalian pasti akan sangat menyukainya." sahut Reo dengan hangat.
"Hhm. Tentu saja pasti kamu akan menyukai mini computer keluaran tebaru dari OrionZ serta The Edge DL kan, Leon?" sebuah kalimat tanya retoris mulai dilontarkan oleh Reo dengan senyum simpulnya menatap Leon.
"Apa?! Mini computer keluaran terbaru dari OrionZ dan juga The Ende DL? Sebuah komputer termahal yang ada saat ini dan ditenagai dengan prosesor AMD EPYC 7702P yang memiliki 64 cores? Serta sebuah komputer yang bisa melahap game apa pun dan dunia digital? Komputer yang produksi oleh Aventum Z Computing yang dibanderol hingga USD 55 ribu ( sekitar Rp 822 juta rupiah )? Apa semua itu benar, Paman Reo? Apa aku tidak salah dengar? Aku memiliki komputer itu??" ucap Leon melongo dan tentunya sangat syok bukan main.
Sebuah mini computer terbaru dan komputer canggih dan super mahal kini telah menjadi miliknya?? Rasanya seperti mimpi saja! Karena selama ini Ayaneru hanya bisa membelikan mini computer standar yang memiliki prosesor biasa saja.
Bahkan Ayaneru yang mendengarkan nominal yang sudah diucapkan oleh Leon, seketika juga dibuat melongo bukan main.
"Benar sekali, Leon." jawab Reo dengan senyum lebar.
"55 ribu USD??" gumam Ayaneru masih saja merasa sangat syok. "Leon, hadiah ini terlalu mahal. Kita tak bisa menerimanya." ucap Ayaneru dengan cepat dan kembali sedikit mendorong bingkisan besar itu ke arah Reo.
"Reo, terima kasih sebelumnya! Tapi hadiah ini terlalu mahal dan berlebihan untuk Leon. Leon bahkan masih terlalu kecil untuk menggunakan alat secanggih itu. Maaf, tapi kami menolaknya ..." ucap Ayaneru merasa segan dan juga tak pantas untuk menerima hadiah itu.
"Leon sangat cerdas! Leon akan sangat baik saat menggunakannya, Neru! Dan Leon pantas mendapatkannya! Terimalah ... jangan membatasi bakat dan kemampuan dari seorang anak. Biarkan mereka mengembangkan dirinya, tugas kita sebagai orang tua hanyalah memberikan support saja." ucap Reo dengan begitu tenang.
Namun kalimat terakhir dari Reo seketika membuat Ayaneru membelalak dan merasa sangat syok luar biasa! Dan dengan cepat Ayaneru segera berusaha untuk mengalihkan pembicaraannya.
"Ahahaha ... baiklah ... baiklah ... kalau begitu kami akan menerimanya! Terima kasih banyak, Reo! Baiklah! Ayo sekarang masuk dan kita menikmati pesta kecil-kecilan ini!" ucap Ayaneru berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dan mulai minggir untuk memberikan jalan untuk Reo.
Reo mulai tersenyum penuh kepuasan dan mulai memasuki rumah itu, lalu diikuti oleh Leon dan Leona yang mulai saling berpandangan dengan senyum lebar serta melakukan tos dengan jemari yang saling dikepalkan.
Mereka segera masuk dan bergabung bersama Kara, Yuan, Xavier dan Yora.
"Siapa yang datang, Neru?" teriak Kara dari dalam ruang tengah.
"Jika ada perusuh yang datang, katakan saja padaku, Neru!! Aku akan menghajarnya hingga habis. Haha ..." ucap Yuan dengan canda tawanya dan berlagak jagoan di depan mereka semua.
Yuan yang sedang asik berbincang bersama teman-temannya seketika merasa sangat syok saat melihat kedatangan Reo. Dan seketika tawa renyah Reo mulai membeku seketika, ketika menerima seringai manis bak setan milik Reo.
"Tu-tuan Reo ... hehe ... selamat datang, Tuan." sambut Yuan dengan cepat dan sedikit gelagapan dan mati kutu.
"Hhm ..." sahut Reo dengan cuek lalu segera duduk pada sofa single.
Suasana santai dan hangat selama beberapa saat yang lalu, kini seketika suasana tersebut berubah menjadi sangat canggung karena kehadiran Reo.
"Gavin! Siapkan kue ulang tahunnya!!" titah Reo kepada asistennya.
"Baik, Tuan!" sahut Gavin dengan patuh dan segera membawa masuk sebuah kue ulang tahun yang berukuran cukup besar yang bertuliskan Happy Birthday, Leon & Leona.