Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Scary Reo



Gavin mulai menjambak rambut pria itu kuat dan tangan kanannya mulai mengeluarkan sebuah pisau lipat dan memain-mainkannya berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Seolah-olah semua itu bergerak di luar kendalinya. Hingga semua itu membuat pria itu mulai ketakutan.


SSRTT ...


Ujung pisau itu mengenai pipi pemuda itu disaat pisau itu masih berputar-putar, hingga darah segar mulai keluar dan menetes dari pipi pria itu. Bisa dibayangkan setajam apa pisau itu? Sangat tajam!


"Aahhh ... aku tidak sengaja melakukannya ..." ucap Gavin yang kali ini menghentikan putaran pisau itu, namun ujung pisaunya masih begitu dekat dengan kulit pria itu. Dan Gavin menggerakkannya menuruni hingga leher pria itu dengan memperlihatkan ekspresi yang kelam dan menakutkan.


Ketika telah sampai di leher pria itu, Gavin mulai menempelkan kembali ujung pisau itu tepat pada bagian nadi sang pria, hingga membuat pria itu semakin gemetaran dan wajahnya seketika mulai pucat.


"Ahhh ... pisau kesayanganku sepertinya begitu menginginkan nyawamu." ucap Gavin semakin menekankan pisau itu dan menggores pelan leher pria itu, hingga leher pria itu benar-benar terluka dan darah segarnya kembali terlihat menetes membasahi kemeja abu-abunya.


"Tu-tuan ... ja-jangan! To-tolong hentikan semua ini! Ak-aku akan mengatakan semuanya kepada tuan..." ucap pria itu dengan tubuh yang semakin bergetar karena ketakutan.


Mendengarnya, Gavin mulai menghentikan aksinya dan menyimpan pisau lipat itu kembali. Senyuman miring juga masih menghiasi wajah yang biasanya terlihat selalu datar itu, namun kini begitu berubah drastis.


"Baiklah! Katakan semuanya!!" tandas Gavin dengan tegas.


Sedangkan Reo sejak dari tadi hanya terdiam mengawasi mereka saja dan cukup menjadi seorang penonton saja. Karena belum waktunya dia beraksi.


"No-nona Maria yang menyuruhku untuk melakukan semua ini, Tu-tuan." ucap pria itu masih dengan gemetaran dan menunduk tidak berani menatap Gavin maupun Reo.


"Maria lagi?!" gumam Reo mulai membuka suaranya dan cukup terkejut.


Dan Reo merasa cukup aneh jika Maria sampai menginginkan Reo celaka. Reo sangat mengenali Maria, jika selama ini wanita itu memang selalu menginginkan dirinya. Dan sebisa mungkin dia akan berusaha untuk memiliki Reo dengan cara apapun.


Namun Maria tak akan pernah mau untuk melihat Reo celaka atau terluka. Apalagi berniat untuk mencelakainya? Sepertinya itu adah hal yang sangat mustahil dan tak akan pernah dilakukan oleh seorang Maria. Karena biar bagaimanapun Maria sangat mencintai Reo.


"Gavin! Berikan pisaumu untukku!!" ucap Reo menengadahkan tangan kanannya, sementara sepasang netranya masih menatap tajam lurus ke depan, menatap pria itu yang berjarak kira-kira 3 meter darinya.


"Ini, Tuan!" ucap Gavin sambil memberikan pisau lipat miliknya untuk tuannya dengan membungkukkan badannya.


Reo mengambil pisau itu lalu membuka lipatannya. Reo memainkannya berputar-putar selama beberapa saat berlawanan dengan arah jarum jam lalu menghempaskannya cepat dan kuat ke depan.


Pisau itu melesat ke udara dengan cepat, melewati dan bahkan mengenai pipi pria itu hingga menorehkan luka memanjang, hingga akhirnya pisau lipat itu menancap di belakang pria itu.


Darah segar mulai keluar dan menetes pada pipi pria itu yang baru saja terkena goresan pisau itu. Jantungnya seketika berdegup seperti drum saking terkejutnya. Dadanya seketika naik turun dengan nafas yang tak beraturan. Sementara sepasang matanya membulat sempurna.


Karena jika saja sedikit lagi pisau itu berada lebih dekat dengannya, maka sudah bisa dipastikan pisau itu akan menancap pada wajahnya.


"Kamu ingin bermain-main denganku rupanya ya? Hmm ... baiklah! Pengawal! Ambilkan pisau lebih banyak lagi untukku!" titah Reo dengan santainya.


"Baik, Tuan Reo!" salah satu pengawal itu menyauti dan segera mengambilkan beberapa pisau yang sudah disiapkan di atas sebuah wadah.


"Silakan, Tuan." ucap pengawal itu sambil menyerahkan sebuah peti kecil yang berisikan dengan beberapa pisau di dalamnya.


"Tu-tunggu, Tuan! Ak-aku akan mengatakannya dengan jujur! Tuan Jay Yeol-lah yang menyuruhku untuk melakukan semua ini! Nona Maria bahkan tidak tau apa-apa ... ma-maaf ak-aku sudah tidak jujur sebelumnya. Tapi kali ini aku sudah berbicara dengan jujur, Tuan ..." ucap pria itu.


"Jay Yeol?!" gumam Reo mengernyitkan keningnya.


"Be-benar, Tuan ..."


"Katakan lagi!! Apa yang kau tau!!" tandas Reo dengan tegas dan penuh penekanan.


"Tid-tidak ada, Tuan. Aku hanya ditugaskan untuk melakukan hal ini saja, Tuan. Aku ditugaskan oleh tuan Jay Yeol untuk mencelakai tuan." ucap pria itu berharap Reo akan mempercayainya kali ini.


"Sampah itu benar-benar tak pernah merasa jera!!" geram Reo kesal


TIITTT ...


Sesuatu yang berada di balik dasi Reo mulai ditekannya hingga bersuara. Lalu Reo mulai melepaskan sebuah pin kecil dan memberikannya untuk Gavin.


"Gavin, serahkan pada polisi dan urus semuanya!! Kalau perlu minta saja kepolisia untuk memberikan saja hukuman mati untuk bule gila itu!!" titah Reo seakan sudah hilang kesabarannya.


"Baik, Tuan." sahut Gavin dengan patuh.


"Dan berikan untuknya obat itu!" titah Reo kepada Gavin lagi.


"Baik, Tuan!" sahut Gavin mulai mengeluarkan sebuah botol bening kecil yang berisikan dengan beberapa pil berwarna merah maroon di dalamnya.


Gavin mulai mengeluarkan sebuah pil dan membuat pria itu membuka mulutnya dengan paksa dengan posisi mendongak ke atas. Setelah itu Gavin sedikit memijat-mijat leher pria itu naik turun agar pil itu tertelan olehnya.


GLUKK ...


"Arrgghh ... uhukkk ... uhukkk ..." pria itu berusaha untuk mengeluarkan pil itu lagi, namun sudah tidak bisa. Karena pil itu sudah tertelan olehnya melewati kerongkongannya.


Sementara dua orang pengawal malah melepaskan ikatan pria itu begitu saja.


"Obat apa yang telah tuan berikan padaku?!" tanya pria itu merasa was-was dan ketakutan.


"Itu adalah racun gila. Racun itu akan segera menjalar dan tidak akan bisa diobati! Karena penawarnya tidak ada!! Kau akan mati dengan cara yang begitu tersiksa! Dan balasan itu adalah sangat setimpal untukmu karena kamu telah berani mengusik hidupku!" ucap Reo menandaskan dengan setegas-tegasnya.


"Gavin! Antarkan aku ke hotel!! Setelah itu pergilah ke kantor polisi!!" imbuh Reo memberikan titahnya untuk sang asisten pribadi.


"Baik, Tuan." sahut Gavin patuh dan segera mendorong kursi roda tuannya, untuk meninggalkan gedung tua ini dan memasuki mobil mewahnya.


Gavin menyetir dan mengantarkan Reo menuju ke salah satu hotel berbintang di prefekture Yokohama. Karena setelah keluar dari rumah sakit tadi pagi, Reo mengajak Ayaneru untuk menginap di hotel sebelum lusa mereka kembali ke apartemen mereka.


...🍁🍁🍁...