
"Aku akan menghidupkannya. Tapi setelah kita memakan kue ini dulu ya, Sayang. Bukankah kamu sangat menginginkan kue-kue ini tadi, Sayang?"
Ucap Reo mulai membuka sebuah bingkisan beraroma manis yang berisikan dengan beberapa kue seperti donat, white cheese cake, creame caramel cake dan masih banyak kue lainnya lagi.
Bahkan Reo hampir membelikan semua jenis kue saat mereka mampir ke Good Town Doughnuts sebelum mereka datang ke F Group beberapa saat yang lalu. Karena saat itu Ayaneru terlihat sangat kebingungan untuk menentukan kue yang akan dia beli.
Hingga akhirnya Reo berniat untuk membelikan masing-masing 1 buah untuk semua jenis kue, namun Ayaneru segera menolaknya saat itu juga.
"Aku tidak mau! Hidupkan Tv nya sekarang juga atau aku benar-benar akan marah padamu!" ucap Ayaneru memasang wajah serius.
Ughh ... rupanya masih bisa kambuh seperti ini lagi ya disaat sudah di masa trimester ketiga. Bahaya kalau sampai Neru sampai marah dan mengambek. Tapi dia ingin menonton TV saat ini. Bagaimana ini? Bagaimana jika Gavin belum membersihkan semua ini? Bagaimana jika berita itu masih ada di media?
Batin Reo memijat keningnya sendiri.
"Hiks ... huhuhu ... hiks ..." Ayaneru tiba-tiba saja mulai menangis.
Apa? Neru sampai menangis lagi seperti ini hanya karena merengek untuk menonton TV? Jika sudah seperti ini, aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti semua keinginannya. Ugh ... semoga saja Gavin sudah mengurus semuanya dengan baik.
Batin Reo mulai menekan tombol merah pada remot Tv itu.
"Sudah, Sayang. Janga menangis lagi ... aku sudah menghidupkannya. Kemarilah ..." bujuk Reo menepuk sebuah sofa panjang yang berada di samping kursi rodanya.
Ayaneru mulai menyeka air matanya dan duduk di sofa panjang itu. Pandangannya mulai tertuju pada layar TV itu masih dengan wajah yang cemberut.
Reo mulai mengambilkan white cheese cake dari dalam bingkisan di hadapannya dan berniat untuk menyuapi Ayaneru. Namun Ayaneru menggeleng pelan sambil menatap kue itu dan membungkam rapat mulutnya.
"Kenapa? Apa kamu ingin memakan yang lainnya saja?"
"Aku ingin memakan donat dengan topping coklat dan kacang almond saja."
"Baiklah ..." Reo mengalah dan segera menukar kue itu dengan donat sesuai apa yang sedang diinginkan oleh Ayaneru.
Reo menyuapinya, namun pandangannya sebenarnya sesekali melirik layar TV karena masih merasa khawatir dan was-was. Hingga akhirnya donat itu malah mengenai pipi Ayaneru.
"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan?" celutuk Ayaneru mulai murung dan kesal kembali karena kini pipinya menjadi kotor karena terkena topping coklat.
"Ma-maaf, Sayang. Itu ... aku tidak sengaja melakukannya. Tunggu sebentar, aku akan membersihkannya." Reo mengambil tisu basah yang sudah ada di atas meja dan membersihkan pipi Ayaneru.
"Hhm. Aku akan pulang saja! Tiba-tiba saja aku ingin menjemput Leon dan Leona pulang dari sekolahnya." ucap Ayaneru tiba-tiba.
"Baiklah. Tapi setelah itu pulanglah dan jangan pergi kemana-mana."
"Hhm ..."
Ayaneru mendatangi sekolahan Leon dan Leona. Namun karena masih belum waktunya pulang, akhirnya Ayaneru memutuskan untuk menunggu di taman sekolah Taman Kanak-Kanak itu sambil berada di salah satu ayunannya.
Sekelompok wanita berpenampilan rapi saling berbisik dan sesekali menatap Ayaneru aneh. Hal ini membuat Ayaneru merasa kurang nyaman dan dia sama sekali tidak mengetahui mengapa mereka bertingkah seperti itu.
"Bukankah dia istri dari tuan Reo presdir dari Fukushi Group? Perusahaan fashion raksasa yang berpusat di prefektur Osaka dan memiliki banyak cabang yang sudah hampir menyebar di seluruh Jepang?" bisik wanita lainnya yang kebetulan juga berada di taman ini.
"Benar-benar!! Itu adalah dia! Karena anak kembarnya juga sekolah disini!" sahut wanita lainnya lagi.
"Tidak punya malu ya! Bukannya patuh dan selalu berbuat baik untuk suaminya yang sedang mendapatkan musibah, namun dia malah berbuat hal kotor dan tidak layak seperti itu. Dasar menjijikkan sekali!" timpal wanita lainnya lagi.
"Padahal masih hamil! Tapi keganjenan!! Jangan-jangan anak yang dikandungnya itu bukan anak dari tuan Reo! Wah ... sungguh sangat memalukan sekali!" timpal wanita lainnya lagi.
"Seharusnya dia berbakti dan mengurus suaminya disaat seperti ini. Bukannya malah selingkuh sama klien suaminya disaat suaminya sedang lumpuh seperri ini! Dasar jahat dan tidak tau malu!" tandas wanita lainnya lagi.
Ayaneru mendengarkan semua itu, karena mereka berbicara dengan cukup keras dan seperti sengaja melakukannya.
Berselingkuh disaat suaminya sedang lumpuh? Berselingkuh dengan klien suaminya? Apakah mereka sedang membicarakan aku? Tapi ... aku tak mengerti dengan maksud ucapan dari mereka.
Batin Ayaneru berniat untuk menghampiri para wanita sosalita itu untuk mempertanyakannya secara langsung. Namun belum sempat Ayaneru melakukannya, tiba-tiba saja Leon dan Leona sudah keluar dari kelasnya dan menghampiri Ayaneru.
"Mama!!" seru Leona bersemangat dan berlari kecil mendekati Ayaneru.
Sementara Leon berjalan dengan santai dan cool di belakang sang adik. Sesekali pandangannya menatap para wanita sosialita itu penuh rasa curiga. Karena sampai saat ini mereka masih saja mengamati Ayaneru dari kejauhan dengan tatapan sinisnya.
"Bagaimana sekolah hari ini, Sayang?" tanya Ayaneru memyambut putri dan putra kecilnya.
"Hari ini kami belajar melukis dan menyanyi, Ma! Tapi kak Leon malah tidak mau menyanyi! Kata kak Leon itu hanya untuk anak kecil. Kak Leon malah mengajak guru kelas bermain catur bersama!" sahut Leona melaporkan semua yang terjadi di kelanya hari ini.
Mendengar cerita dari Leona membuat Ayaneru tertawa kecil. Dia merasa terhibur dan mulai melupakan kesedihan dan kegundahannya beberapa saat yang lalu.
"Lihatlah!! Berpura-pura menjadi ibu yang baik dan hangat di hadapan anak-anaknya. Padahal sebenarnya dia ibu yang sangat buruk, licik dan egois! Rasanya muak sekali melihat drama dari wanita busuk itu! Mengapa tuan Reo tidak menceraikannya saja ya? Masih banyak wanita baik di luar sana yang bisa tulus menerima dia apa adanya loh!! Bukan wanita penjilat dan tukang selingkuh seperti ini!"
Kicau salah satu dari wanita itu masih menatap tajam Ayaneru.
Mendengar semua itu Leon menjadi geram seketika. Pria kecil itu mulai melenggang mendekati para wanita sosialita itu dengan aura yang kelam.
"Apa kalian merasa lebih baik dari mamaku?! Apa kalian merasa paling hebat di antara wanita di dunia ini?! Kalian tak tau apapun!! Dan aku tegaskan kepada kalian, Nenek sihir!! Jika kalian tidak tau apa-apa sebaiknya jangan bergosip! Atau kalian akan merasa malu jika suatu saat kebenaran akan terungkap!! Camkan itu baik-baik, Nenek sihir!!"
Tandas Leon mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, sementara sepasang matanya menatap mereka satu persatu dengan tajam.
"Mamaku adalah mama terbaik!! Tidak ada yang bisa melebihi dia di dunia ini!!"