Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Masa Lalu Itu ...



Mengapa aku tak melihat pengunjung lain di dalam restoran ini? Mengapa tempat ini begitu sepi? Tidak mungkin bukan jika kami salah waktu? Atau restoran ini memang sebenarnya sudah tutup?


Batin Ayaneru kebingungan sambil mengedarkan pandangannya menatap sekelilingnya sambil mengikuti Reo yang berjalan di depannya.


Sebuah bangku berbentuk persegi panjang yang sudah dipenuhi beberapa sajian makanan yang begitu menggiurkan saliva di atasnya, mulai didatangi oleh mereka berdua.


Sebenarnya Ayaneru merasa cukup bingung. Makanan di hadapannya itu sangatlah banyak jika hanya untuk dinikmati mereka berdua saja. Ditambah lagi, Ayaneru juga kebingungan karena Ayaneru sedang menantikan pekerjaan lemburnya. Namun kini Reo malah mengajaknya untuk makan malam bersama.


"Sampai kapan kamu mau berdiri saja seperti itu, Neru! Duduklah!" ucap Reo karena melihat Ayaneru masih saja berdiri dan malah melihat sekelilingnya.


"Oh ... iya! Hehe ..." sahut Ayaneru langsung duduk tepat di seberang Reo.


"Makanlah! Kamu sudah lapar bukan?" ucap Reo dengan nada bicara seperti biasanya dan mulai mengambil seoasang sumpitnya.


"Reo, bukankah seharusnya aku bekerja lembur saat ini? Lalu mengapa kita malah makan malam bersama?" tanya Ayaneru dengan kening berkerut menatap pria di hadapannya yang saat ini sudah mulai menyantap makan malamnya.


"Sudah waktunya makan malam. Kita makan malam saja dulu ... kamu juga makanlah dulu, Neru!?" sahut Reo dengan santainya.


Karena sebenarnya Ayaneru juga sedang merasa lapar, akhirnya dia juga mulai menikmati sajian makanan menggiurkan di hadapannya itu.


Sekelompok pemain biola juga mulai memainkan sebuah instrumen yang begitu lembut dan manis, melengkapi suasana saat ini.


Ayaneru terlihat hanya fokus untuk menikmati makan malamnya saja. Sementara Reo maslah kebingungan harus memulai darimana. Untuk membicarakan masalah 5 tahun yang lalu bersama dengan Ayaneru, rasanya tiba-tiba menjadi begitu canggung luar biasa.


Bahkan cincin berlian yang sudah disiapkan oleh sang asisten pribadi sebelum Reo mengunjungi tempat ini saja, malah kembali disimpannya dengan rapat di dalam saku jas mewah yang masih melekat oada tubuh proporsionalnya itu.


Jika aku berbicara secara tiba-tiba dengan Ayaneru mengenai hal ini, rasanya pasti akan sangat aneh. Apalagi kita tak pernah bisa dekat dan akrab sebelumnya. Sebaiknya aku pelan-pelan saja, agar Neru juga tidak terkejut jika mengetahui semua ini. Karena pasti dia akan sangat membenciku jika mengingat masa lalu itu. Huft ... sebaiknya lakukan pendekatan secara alami dan pelan saja, Reo!!


Batin Reo sesekali memijit keningnya sendiri, namun segera melanjutkan makan malam mereka berdua.


"Jadi, selama ini kamu tinggal di London bersama dengan Leon dan Leona saja, Neru?" tanya Reo setelah mereka cukup lama berdiam diri dan hanya fokus pada makan malam masing-masing.


"Hhm. Benar sekali!" jawab Ayaneru singkat.


"Apakah ... kalian tidak merindukan papa dari si kembar? Mengapa selama itu hanya hidup bertiga saja?" tanya Reo dengan hati-hati dan masih berpura-pura untuk tidak mengetahui apapun.


"Kalau boleh jujur, lebih baik kami hanya hidup bertiga saja."


"Kenapa?"


"Sebenarnya papa dari mereka sudah meninggal karena sebuah kecelakaan. Dan aku tidak mengatakan hal itu kepada mereka!" jawab Ayaneru dengan asal, agar Reo tak membahas hal ini lagi.


Karena hal itu sungguh membuat Ayaneru merasa tidak nyaman.


"Apa?!" tanya Reo sangat syok.


Batin Reo masih saja sangat terkejut mendengar ucapan dari Ayaneru.


"Sepertinya kamu salah sangka, Neru. Bisa saja pria itu masih sehat saat ini." ucap Reo karena masih saja tak terima karena Ayaneru sudah mengatakan jika dirinya sudah mati.


"Hhm? Memang benar sudah mati kok!" jawab Ayaneru dengan entengnya dan masih fokus menikmati makan malamnya.


Tidak seperti Reo yang semakin membeku dan tercengang karena ucapan dari Ayaneru.


"Kamu sudah selesai makan?" tanya Reo menatap Ayaneru dan makan malamnya yang sebenarnya hanya dimakan sedikit saja, namun Ayaneru malah menyudahinya. "Mengapa hanya makan sedikit saja? Apa makanannya tidak enak?"


"Aku sudah kenyang. Karena tadi sore sempat pergi ke kantin dan makan bersama Kara." jawab Ayaneru seadaanya. "Jadi katakan padaku sekarang, Reo? Apa pekerjaan yang harus aku kerjakan di jam lemburku saat ini?" tanya Ayaneru setelah menyelesaikan makan malamnya dan mulai mengusap sisa makanan pada mulutnya dengan menggunakan tisu.


"Pekerjaan dan beberapa berkas itu ada di dalam kamarku! Ayo kita pergi bersama untuk mengambilnya." ucap Reo yang juga mulai menyudahi makannya.


"Tu-tunggu dulu! Berkas itu ada di dalam kamarmu? Maksudmu di hot-tel?" tanya Ayaneru sedikit membulatkan sepasang mata dengan pupil kehijauannya yang begitu indah bak green sapphire diamond itu.


"Hhm. Ayo!" seru Reo mulai beranjak dari tempatnya.


Meskipun mulai ragu dan berdebar, namun akhirnya Ayaneru mulai mengekori Reo dengan patuh. Mereka mulai memasuki sebuah elevator bersama, dan hanya ada mereka berdua saja di dalamnya.


Jantung Ayaneru berdegup semakin cepat dan kencang disaat Reo mulai menekan sebuah tombol dengan nomor 27.


Lantai 27? Mengapa harus lantai 27? Apakah Reo memang selalu menyukai angka itu? Atau semua ini hanya sebuah kebetulan saja?


Batin Ayaneru mulai merasa gelisah sendiri. Sementara Reo masih saja terlihat tenang tanpa terlihat kikuk sedikitpun.


TRING ...


Setelah mencapai lantai tujuannya, kini pintu elevator itu mulai terbuka. Reo mulai melangkah lebar dengan begitu gagahnya. Raut wajahnya masih saja terlihat datar dan dingin seperti biasanya.


Sementara Ayaneru masih saja mengekorinya. Namun jantungnya kini semakin berdegup lebih cepat lagi saat Reo mulai berhenti tepat di depan sebuah kamar paling ujung. Sebuah kamar yang meninggalkan kenangan untuk mereka berdua di masa lalu.


CEKLEKK ...


Reo mulai memasuki kamar itu setelah membukanya. Sementara Ayaneru masih saja berdiri mematung di depan pintu.


Mengapa harus kamar ini? Mengapa bisa kebetulan sekali? Apakah sebenarnya kamar ini adalah milik dia sepenuhnya? Bagaimana ini?


Batin Ayaneru yang masih berdiri mematung di depan pintu.


"Neru! Mau sampai kapan kamu akan berdiri disitu?! Masuklah dan segera kerjakan tugasmu!" ucapan Reo yang berasal dari kamar itu seketika membuyarkan angan Ayaneru dan membuat wanita cantik itu tak memiliki pilihan lain, kecuali memasuki kamar itu dan menyusul Reo.


Sepasang mata indah Ayaneru mulai menatap sekeliling kamar itu. Kamar yang pernah dia masuki 5 tahunnyang lalu. Kini semua yang telah terjadi disaat itu, seolah kembali memenuhi ingatannya saat ini dengan begitu nyata.