Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Ayaneru Menghilang ?



Meskipun Reo mengalami kelumpuhan pada bagian pinggang hingga sampai tubuh bagian bawahnya, namun hal itu tak mengurangi semangatnya untuk tetap kembali bekerja seperti biasanya.


Meskipun sudah dilarang oleh Reo, namun terkadang Ayaneru masih saja datang ke F Group untuk membantu beberapa pekerjaan Reo maupun pada bagian marketing dimana Ayaneru dulu pernah bekerja.


Hal itu Ayaneru lakukan dengan alasan untuk membantu suaminya yang menurutnya saat ini sedikit kesulitan untuk melakukan segala aktifitasnya.


Bahkan terkadang untuk menghadiri beberapa meeting bersama klien, Ayaneru akan menemani Reo. Wanita cantik itu akan mendorong kursi roda Reo, mengantarkan dan menemani sang suami untuk rapat-rapat itu.


"Sayang, aku akan masuk dulu untuk meeting bersama tuan Yu. Sebaiknya kamu menunggu di luar dulu ya. Atau kamu bisa kembali saja ke ruanganku. Karena tuan Yu tidak suka jika rapat pembahasan dihadiri orang lain, selain hanya aku dan dia. Maaf ya, Sayang ..." ucap Reo ketika mereka berdua telah sampai di depan ruangan rapat F Group.


"Hhm. Tidak masalah kok. Aku akan menunggu disini atau aku akan kembali ke ruangan kerjamu saja. Jangan khawatir." sahut Ayaneru tanpa merasa tersinggung dan malah memasang senyum lebar.


"Hhm. Baiklah. Kalau begitu aku masuk dulu."


"Hhm ..." Ayaneru mengangguk pelan dan masih saja tersenyum hangat. "Hubungi aku saja setelah rapat selesai. Aku akan datang lagi untuk menjemputmu."


"Iya, Sayang ..." sahut Reo lalu mulai memasuki ruangan rapat itu.


Sementara Ayaneru memutuskan untuk segera kembali ke ruangan Reo saja. Namun dia malah tak sengaja melewati sebuah lantai yang masih baru saja dipel dan masih basah. Petugas cleaning service kebetulan juga lupa untuk sebuah papan peringatan.


Hingga akhirnya Ayaneru terpeleset dan tubuhnya terhuyung ke depan begitu saja. Perasaan panik dan khawatir seketika memenuhi dirinya saat ini. Ingin rasanya di melindungi baginya apapun yang terjadi. Hingga akhirnya Ayaneru menyilangkan kedua tangannya di depan perut buncitnya, untuk melindungi janin yang sedang dia kandung.


Aku mohon! Aku mohon! Aku harus tetap kuat dan melindungi bayi ini. Aku mohon ...


Batin Ayaneru disaat tubuhnya terhuyung di udara. Dia tak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan sudah hampir ambruk di atas lantai. Namun tiba-tiba saja sudah ada seseorang di hadapannya dan menopang tubuhnya.


GREPP ...


"Apa kamu baik-baik saja, Neru?"


Ayaneru yang rupanya sudah memejamkam sepasang matanya daritadi, kini mulai membukanya kembali. Di hadapannya sudah ada Lin Chen yang berhasil menangkap tubuhnya sebelum dia terjatuh.


Meskipun sudah terselamatkan atas kehadiran Lin Chen, namun Ayaneru masih saja merasa syok dan berdebar.


"Neru ..." Lin Chen mengulang kembali memanggil nama Ayaneru, karena Ayaneru masih saja terdiam saking syoknya.


"Aku baik-baik saja, Lin Chen. Terima kasih ..." ucap Ayaneru berusaha untuk berdiri dengan tegap kembali.


Namun tiba-tiba saja Ayaneru mulai meringis dan terlihat sedang menahan rasa sakit, "Aakkhh ..." pekiknya lirih sambil memegangi perutnya.


"Neru, kamu kenapa?" tanya Lin Chen terlihat sangat panik karena melihat Ayaneru kesakitan.


"Lin Chen ... tiba-tiba perutku sakit sakit sekali. Aaww ..." ucap Ayaneru lirih dan masih berusaha untuk menahan rasa sakitnya.


Bahkan Ayaneru mulai berpegangan pada lengan Lin Chen, karena tiba-tiba saja dia merasa seakan tak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya sendiri.


Karena merasa khawatir akan terjadi suatu masalah yang berbahaya terhadap kehamilan Ayaneru, akhirnya Lin Chen berinisiatif untuk menggendong depan Ayaneru dan segera membawanya untuk pergi ke rumah sakit.


...🍁🍁🍁...


Dan para penjaga itu mengikutinya hingga sampai di rumah sakit. Setelah beberapa saat, seorang dokter wanita mulai keluar ruangan. Dan disaat itulah Lin Chen segera menghampirinya


"Bagaimana kondisi Neru, Dok?" tanya Lin Chen tak sabaran.


"Nyonya Ayaneru baik-baik saja. Rasa sakit di perut yang dirasakannya hanya karena syok saja. Sekarang sudah baik-baik saja kok, hanya perlu sedikit istirahat saja." jawab sang dokter wanita itu dengan ramah.


"Syukurlah ..." sahut Lin Chen terlihat lega. "Aku akan masuk untuk melihatnya, Dok ..."


"Silakan, Tuan Chen." dokter wanita itu menyauti dengan ramah.


Lin Chen segera melenggang memasuki kamar rawat itu. Dia melihat Ayaneru yang masih terbaring di atas brankar.


"Lin Chen, terima kasih sudah membawaku ke rumah sakit." Ayaneru berucap dengan tulus ketika dia menyadari kehadiran Lin Chen.


"Hhm? Tidak perlu berterima kasih. Sudah seharusnya aku melakukannya. Bagaimana sudah merasa lebih baik, Neru?" tanya Lin Chen dengan ramah seperti biasanya.


"Hhm. Iya. Perutku sudah tidak sakit. Dan kata dokter kandunganku juga baik-baik saja. Pokoknya aku berterima kasih sekali kepadamu. Aku tidak tau jika kamu tidak ada tadi, pasti aku akan benar-benar terjatuh. Dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaanku nantinya ..." ucap Ayaneru mulai murung karena mengingat saat-saat dia hampir terjatuh.


"Jangan dipikirkan lagi, Neru. Yang terpenting sekarang semua baik-baik saja. Kamu dan kandunganmu baik-baik saja. Dan ... aku senang kok bisa menolongmu." ucap Lin Chen menyunggingkan senyuman tipisnya.


Sementara itu di F Group, Reo yang baru menyelesaikan rapatnya dengan klien khususnya, terlihat mulai menghubungi Ayaneru karena dia tidak lagi melihat keberadaan sang istri di luar ruangan rapat maupun di dalam ruangan kerjanya.


"Neru pergi kemana ya?" gumamnya mulai menekan tombol hijau untuk menghubunginsang istri.


Namun tiba-tiba saja Reo malah mendengarkan dering ponsel milik sang istri yang berada di ruang kerjanya. Dan rupanya Ayaneru meninggalkan ponsel serta sling bag miliknya di dalam ruangan kerja Reo. Dan benda-benda ini tertinggal sebelum Ayaneru mengantarkan Reo ke ruangan rapat.


Hal ini semakin membuat Reo merasa khawatir karena istrinya tiba-tiba saja menghilang. Hingga akhirnya Reo mulai menghubungi salah satu orangnya yang dia pekerjakan untuk selalu menjaga dan mengawasi istrinya.


Tak menunggu lama, panggilan itu mulai diangkat dari seberang oleh seseorang.


"Halo, Tuan Reo ..." sapa seorang pria dari seberang line dengan nada rendah.


"Dimana istriku saat ini?!" tanya Reo to the point. Dan tentunya nada bicaranya cukup membuat pria di seberang menciut.


"Nyo-nyonya ada di rumah sakit ... di ... St. Luke's International Hospital, Tu-tuan ..." sahut sat pengawal terbata.


"Apa?!! Apa yang terjadi?! Dan mengapa kalian tidak memberitahuku?!!" tanya Reo mulai frustasi karena tak ada satupun dari mereka yang berusaha memberitahukan kepada dirinya.


"Saat itu tu-tuan Reo sedang menemui VVIP klien. Dan kami tidak berani untuk mengg ..."


"Kirimkan alamat kamarnya padaku!!" potong Reo frustasi.


"Ba-baik, Tuan ..."


Reo mengakhiri panggilan itu dan merasa sangat kesal terhadap semua ini. Setelah menerima sebuah pesan yang berisi sebuah alamat rawat, dia segera bergegas pergi ke rumah sakit bersama Gavin.