
"Osaka?? Bukankah mantan tunangan mama juga tinggal di Osaka? Presdir pusat dari Fukushi Group yang pernah dijodohkan dengan mama sebelum mama malah akhirnya bersama dengan papa ..." gumam Leon saat dia dan Leona sudah kembali ke kamarnya.
"Hhm paman yang menjadi mantan tunangan mama juga tinggal di Osaka sih katanya. Siapa sih nama dia, Kak Leon? Pasti papa jauh lebih tampan dan keren dari dia kan?" tanya Leona mulai ingin tau tentang sosok itu.
"Setelah kakak mencari informasi tentangnya, orang-orang terdekatnya biasanya memanggilnya dengan nama Mr. Rei. Untuk profil lain serta foto dia, kakak belum berhasil menemukan apapun. Dan sepertinya identitasnya memang sengaja disembunyikan dari publik. Dan dia melakukannya dengan sangat baik. Hhmm ..." ucap pria kecil bernama Leo, yang pekan depan akan genap berusia 4 tahun.
"Mr. Rei? Apakah dia bukan orang Jepang, Kak? Mengapa mereka memanggil Mr.?" tanya Leona menjentik-jentikkan jari telunjukknya pada pipi chubby-nya.
"Mungkin hanya sebatas panggilan saja sih. Karena setahu kakak owner dari Fukushi Group adalah orang Jepang asli." jawab Leon masih bersibuk ria bermain dengan mini computer kesayangannya.
"Hmm. Ya sudah sebaiknya aku segera tidur saja, Kak. Aku sangat mengantuk setelah merasa kenyang. Hoamm ..." Leona segera berbaring dan menarik selimutnya.
"Ya. Tidurlah. Masih ada sesuatu yang ingin kakak kerjakan!" sahut Leon tanpa menatap sang adik.
Jemari mungil itu terlihat begitu lincah menari di atas keyboard yang berukuran cukup mungil juga itu. Sepasang mata besarnya menatap lekat layar kecil di hadapannya itu.
"Ughh ... Jepang begitu besar! Dan 5 tahun yang lalu itu cukup lama! Aku tak bisa menemukan apapun tentang mama dan papa! Huft ... kira-kira dimana pertama kali mereka bertemu ya? Dan sepertinya itu adalah pertemuan dan perkenalan yang sangat singkat sebelum mama memutuskan untuk pergi ke London saat itu." gumam Leon memasang wajah serius.
"Eh ... tunggu dulu!! Sebaiknya aku lebih teliti untuk mencari dan memeriksa seluruh rekaman CCTV di setiap tempat untuk mengintai mama 5 tahun yang lalu sebelum mama memutuskan untuk meninggalkan Jepang. Sepertinya disitulah masalah terjadi! Benar!! Ayo lakukan dengan dengan baik, Leon!!"
Waktu berjalan dengan begitu cepat, dan Leon masih saja memeriksa satu persatu rekaman di masa lalu, dan Leon mulai memeriksa beberapa video setelah menangkap sosok Ayaneru di masa lalu yang pergi ke kampus, pergi hang out bersama dengan teman-temannya atau kemanapun Ayaneru pergi.
Namun Leon masih saja tak menemukan apapun di dalam rekaman-rekaman itu. Hingga akhirnya tak dia sadari Leon malah tertidur begitu saja. Dan disaat itulah sebuah video rekaman di sebuah jalan menangkap sosok Ayaneru yang mulai memasuki Pacifik Hotel seorang diri.
Andai saja Leon masih belum tertidur, pasti Leon akan segera menemukan apa yang selama ini sedang dia cari selama ini. Pertemuan pertama Ayaneru bersama Reo
...🍁🍁🍁...
Di sebuah mansion utama milik keluarga Reo di Osaka, Jepang. Terlihat Reo sudah mulai memasukinya dan disambut oleh beberapa asisten rumah tangga serta pengurus keluarganya.
Pria berkharisma itu terus melenggang memasuki mansion utama itu dan segera menaiki tangga yang sudah beralaskan dengan karpet roll wiltton bermotif vintage.
Yeap, karena baru saja pria necis itu mendapatkan kabar jika sang mama baru saja diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Maka dari itu pria bergengsi itu segera menuju ke mansion utama keluarga Fukushi begitu saja.
CEKLEEKK ...
Setelah mengutuk pintu beberapa kali, Reo segera memasuki sebuah kamar yang berada di lantai 2 dengan langkah yang begitu terburu. Karena rasanya Reo sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan sang mama.
Terlihat wanita paruh baya sedang terduduk di atas pembaringanya dengan bersandar bantal du sisi belakang tubuhnya. Sementara di kursi sampingnya sudah ada Shin-sepupu Reo yang masih menemaninya.
"Hallo, Mr. Rei ... long time no see. How are you?" sambut Shin meledek Reo yang baru saja datang.
"Hehe ... aku sedang mengambil cuti kok. Aso akan menggantikan aku selama aku cuti." sahut Shin yang rupanya adalah seorang pemimpin dari sebuah organisasi resmi VCPD yang bertugas untuk membantu keamanan Jepang, khususnya wilayah Tokyo.
"Jangan seperti itu, Reo. Biar bagaimanapun Shin yang sudah menjaga mama selama kalian tidak berada di rumah." ucap mama Reo menengahi mereka berdua.
"Benar sekali kata bibi, Reo! Seharusnya kamu memperlakukanku dengan baik, atau setidaknya kamu berterima kasih padaku. Bukannya malah seperti itu. " timpal Shin malah menggoda Reo.
"Ckk ... awas saja kalau kamu memanggilku dengan nama itu lagi!" ancam Reo mulai mendekati pembaringan dan duduk di tepian pembaringan itu.
"Tenang saja! Rahasiamu aman padaku, Reo!!" Shin menepuk bahu lebar Reo dan segera bangkit dari duduknya. "Bibi, aku pergi dulu ya. Karena aku harua menjemput Claire di bandara."
"Hhm. Hati-hati dan salamkan untuk Claire ya. Kalau tidak sibuk, ajaklah Claire makan malam disini, Shin." ucap mama Reo dengan ramah.
"Baik, Bibi." sahut Shin lalu berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Mama sudah lebih baik kan? Mama itu harus menjaga pola makan mama! Jangan sampai telat makan, dan waktu makan juga harus tepat waktu sesuai dengan jadwalnya. Hindari semua pantangan makanan seperti yang sudah dikatatakan oleh dokter." kicau Reo karena sangat mengkhawatirkan sang mama.
Wanita paruh baya itu tertawa kecil karena melihat putra semata wayangnya yang selalu terlihat dingin itu kini berkicau ria melebihi seorang ibu-ibu saja.
"Baiah, Sayang. Kemarin kambuh karena mama telat makan, dan sekali makan malah makanan pedas dan juga minum kopi. Makanya lambung mama langsung saja terkejut."
"Huft ... pecat saja pelayan mama yang tidak baik dalam mengingatkan pola makan mama! Seharusnya mereka juga memperhatikan semua itu!" geram Reo mengerakan rahangnya.
"Jangan, Sayang. Ini adalah salah mama karena kurang memperhatikan. Oh iya, sampai kapan kamu akan terus berada di Yokohama? Mengapa tidak segera kembali saja ke rumah, Sayang? Mama selalu sendirian karena papamu selalu saja pergi ke luar kota."
"Uhm, untuk sementara waktu aku masih akan tetap berada di Yokohama, Ma. Karena masih ada yang harus aku urus disana." ucap Reo yang malah terbayang oleh sosok Ayaneru, Leon dan juga Leona.
"Mengapa tidak kamu serahkan kepada anak buahmu saja perusahaan cabang baru itu, Reo?" ucap sang mama memasang wajah murung, karena berjauhan dengan putranya terkadang membuatnya sangat sedih.
"Aku berjanji akan segera kembali lagi dan tinggal disini jika semua sudah kuselesaikan, Ma." jawab Reo berusaha untuk menenangkan sang mama.
"Huft. Baiklah. Tapi jangan lama-lama ya, Reo. Oh ya, bagaimana? Apakah kamu masih belum menemukan gadis yang tepat yang ingin kamu nikahi, Sayang? Apakah mama dan papa harus mencarikanmu dan menjodohkanmu dengan gadis lain saja?" usul sang mama karena sebenarnya masih mengkhawatirkan jodoh untuk putranya.
"Tidak perlu, Ma." ucap Reo denga cepat. "Jika aku sudah menemukan wanita yang tepat, maka aku akan segera melamar dan menikahinya. Mama tenang saja ..." imbuh Ren.
"Jangan lama-lama, Reo! Di usiamu ini seharusnya kamu sudah menikah. Dan lagi ... mama dengar putri tunggal dari keluarga Ryusei sudah kembali. Dan dia pulang dan membawa kedua anak di luar nikah. Sungguh tak beretika! Mama menyesal sudah menjodohkanmu dengan putri tunggal mereka!" geram sang mama karena rupanya dia sudah mendengar informasi itu dari orang kepercayaannya.
Mendengar geraman dari sang mama, Reo tak bisa berkata-kata lagi. Karena saat ini Reo masih belum bisa membuktikan jika Ayaneru adalah gadis yang pernah ditemuinya 5 tahun yang lalu. Dan Reo juga belum bisa membuktikan jika Leon dan Leona adalah anak-anaknya.
...🍁🍁🍁...