
Reo masih saja menyetir tangan Ayaneru untuk melukis pemandangan di hadapannya, masih dengan posisi memangkunya. Sungguh pasangan yang membuat iri siapa saja yang melihatnya. Begitu manis dan sangat serasi.
"Melukis pemandangan berarti melukis dengan cahaya layaknya seorang fotografer menangkap lukisan dengan lensa. Apa yang menjadi fokus utama dalam melukis pemandangan adalah memastikan bahwa kanvas atau media gambar kita gunakan juga mampu memantulkan cahaya dengan baik."
Ucap Reo menjelaskan dan masih saja menuntun tangan Ayameru yang kali ini sedang melukiskan air lautan itu.
"Uhm ... lalu bagaimana cara untuk melukis cahaya?" tanya Ayaneru yang memang sama sekali tak mengerti apapun di dalam dunia seni melukis.
Tidak seperti Reo yang memang sudah menyukai menggambar sejak dia kecil.
"Rahasianya ada pada teknik melukis berlapis." sahut Reo dengan suara hangatnya.
"Artinya?"
"Artinya, kita akan melukis dengan menggunakan cat dasar untuk menentukan bagian mana yang gelap dan bagian mana yang tidak gelap. Sederhananya, sebelum kita mulai melukis, kita harus menggunakan cat dasar yang tepat serta menentukan bayangan dan cahaya yang terjadi di dalamnya hanya dengan menggunakan warna monotone. Yaitu, satu jenis warna tetapi dalam tingkat gelap-terang yang berbeda. Teknik seperti ini disebut dengan underpainting atau melukiskan apa yang nantinya akan ada di bawah lukisan aslinya." ucap Reo mejelaskan.
"Seperti apa itu?"
"Underpainting akan memastikan sejak dari awal bahwa lukisan kita akan memiliki keseimbangan cahaya sesuai dengan pemandangan yang akan kita lukis." ucap Reo lagi.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua sudah menyelesaikan lukisannya, meskipun tidak sebagus lukisan pertama yang dibuat oleh Reo sendiri. Karena kali ini Ayaneru yang melakukannya, meski sebenarnya dia disetir oleh Reo.
"Sayang, makan dulu yuk! Kamu pasti sudah lapar kan? Setelah makan kita pergi ke Atlantis Submarines." ajak Reo mulai melepaskan tangan Ayaneru dan malah melingkarkan kedua tangannya memeluk perut rata Ayaneru.
Sementara wajahnya mulai miring menatap wajah istrinya.
"Atlantis Submarines?"
"Hhm. Atau kamu mau pergi ke tempat lainnya saja? Diamond Head Creater? Pusat perbelanjaan? Kebun binatang? Taman Ratu Kapiolani? Akuarium Waikiki? Atau mau kemana? Aku akan mengantarkanmu untuk pergi kesana." ucap Reo menawari sang istri dengan manisnya.
"Aku tidak tau tempat yang bagus disini. Jadi kamu saja yang memutuskan ..." jawab Ayaneru seadanya, karena dia memang benar-benar tak mengetahui tempat wisata di daerah Honolulu, Hawaii ini.
"Baiklah. Yuk!"
"Hhm. Ayo ..." sahut Ayaneru yang malah tersenyum saja menunduk ke samping menatap Reo.
"Bangunlah, Sayang. Aku tidak bisa berdiri jika kamu masih duduk di atas pangkuanku." ucap Reo malah menggoda Ayaneru dan membuat Ayaneru seketika menjadi salah tingkah dengan wajah yang bersemu merah.
Dengan cepat Ayaneru juga segera bangun dan berdiri dengan tegap. Sesekali wanita cantik pemilik sepasang pupil indah bak green shapphire diamond itu menyibak rambutnya ke belakang telinganya.
Sikap lucunya yang sedang salah tingkah, membuat Reo tak bisa untuk menahan tawa kecilnya. Namun Reo segera menghentikan tawa kecilnya kembali dan menutupi senyuman bibir tipisnya dengan genggaman tangannya.
"Kamu menyebalkan ..." sungut Ayaneru merasa malu dan kesal.
"Baiklah. Maafkan aku, Sayang. Ya sudah kita makan yuk!" Reo kembali membujuk sang ratu pemilik hatinya lalu mulai menggandengnya dan menggiringnya untuk pergi ke suatu tempat. Yaitu sebuah restauran yang berada tak jauh dari pantai Waikiki, yaitu Champs Hawaii Sports Bar & Grill.
Cukup banyak makanan yang dipesan oleh Reo, dengan maksud agar Ayaneru bisa puas menikmatinya. Ada Poke, Loco Moco, Spam Musubi, Acai Bowl, Saimin yang menyerupai ramen, dan hidangan penutup seperti Malasada, Haupia, dan Poi.
Karena tentu saja Reo juga mengetahui, jika Ayaneru memiliki kesamaan dengan Leona, yaitu menyukai hobi makan. Namun meskipun begitu Ayaneru tetap saja memiliki tubuh yang ramping dan tidak pernah bisa menjadi gemuk.
"Kamu harus makan yang banyak! Kamu membutuhkan banyak energi untuk kembali melanjutkan aktifitas setelah ini, Sayang."
"Oh. Baiklah ..." Ayaneru mulai menikmati sajian yang begitu menggoda saliva itu.
Dan benar saja, baru mencoba sesuap Loco Moco. Ayaneru merasa ada sesuatu yang meledak di lidahnya, hingga membuatnya ingin menikmatinya lagi dan lagi.
Loco Moco adalah salah satu makanan khas Hawaii yang juga menjadi favorit banyak orang. Loco moco merupakan sajian dari Hawaii yang terdiri dari nasi, patty burger, telur, dengan siraman saus daging yang disebut sebagai gravy.
Selain menggunakan patty daging, loco moco juga memiliki variasi lain yang dihidangkan bersama ham, bacon, tiram, daging ayam, atau udang. Dan tentu saja, loco moco memiliki rasa yang sangat lezat dan bisa mengenyangkan perut karena porsinya yang pas!
"Bagaimana, Sayang? Apa itu enak?" tanya Reo ingin tau pendapat sang istri akan makanan itu.
"Hhm. Ini enak sekali!" sahut Ayaneru berbinar.
"Ya sudah, makanlah yang banyak ..."
Ayaneru kembali menikmati hidangan itu tanpa memikirkan image-nya lagi di depan Reo. Karena makanan itu benar-benar lezat dan sangat memanjakan lidahnya.
Setelah cukup kenyang, kini Ayaneru mulai menikmati salah satu hidangan penutup. Yaitu Haupia. Karena dari sekian hidangan penutup, hanya Haupia saja yang memiliki sajian cukup menggoda.
Haupia adalah makanan khas Hawaii yang merupakan hidangan penutup. Dessert dari Hawaii ini sebenarnya ialah pudding yang dibuat dari santan sehingga memiliki warna putih bersih dengan tekstur yang lembut dan lezat.
Terkadang, haupia juga dibuat dengan bahan tambahan lain, seperti kacang macadamia, nanas, atau bahkan bubuk kakao, yang membuatnya semakin nikmat.
TAK ...
Ayaneru mulai meletakkan sendok dan garpunya di atas meja karena sudah menyudahi ritual makannya. Tak lupa dia juga mengusap sisa makanan di mulutnya dengan sapu tangan yang sudah disediakan.
"Kenyang sekali. Rasanya perutku begitu penuh saat ini ..." gumam Ayaneru yang merasakan sesak pada perutnya.
Bukannya menjawabnya, kini Reo yang duduk di seberangnya malah menatapnya lekat. Reo mulai mengangkat tangan kanannya mendekati wajah Ayaneru, membuat wanita itu kembali merasa kikuk.
"A-ada apa?"
"Masih ada sisa makanan di mulutmu ..." ucap Reo mengusap sudut bibir tipis itu dengan jemarinya.
Dan lagi-lagi hal ini membuat Ayaneru kembali merona malu.
"Sudah ... sudah bersih kok." ucap Reo memundurkan kembali tangannya dan duduk dengan tegap.
"Aku akan ke toilet sebentar ..."
"Hhm. Hati-hati ..."
"Iya ..." ucap Ayaneru mulai bangkit dan meninggalkan Reo.
Disaat itu Reo mulai memanggil Gavin yang saat ini sedang duduk di meja yang berada tak jauh darinya, dengan sebuah isyarat. Gavin dengan patuh segera datang menghampiri tuannya.