Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Keputusan Ayaneru ...



Setelah memasukkan angka demi angka nomor ponsel itu pada ponselnya sendiri, kini sebuah nama mulai terlihat pada layar ponsel Gavin. Sepasang mata Gavin kini mulai membelalak sempurna ketika melihat nama dari pemilik nomor tersebut.


Sungguh sangat di luar dari dugaannya sebelumnya! Karena Gavin mengira jika pria bertopi misterius itu adalah kaki tangan dari Maria. Namun rupanya dia telah salah mengira!


"Nyo-nyonya besar Nami? Oh my God!" gumam Gavin terlihat begitu frustasi seakan masih belum mempercayai semua ini.


"Ada apa, Gavin?! Apa kamu sudah menemukan siapa dalang dibalik semua itu?!" ucap Reo setengah berteriak saking tak sabarannya.


"I-iya, Tuan ..." balas Gavin sedikit memperkuat suaranya, karena Reo masih tetap duduk di tempatnya.


Namun tatapan Gavin kini mulai beralih kembali menatap sang pria bertopi lagi.


"Jadi ... nyonya besar Nami yang sudah memerintahkanmu untuk menguntit tuan Reo?!" tanya Gavin menatap tajam penguntit itu penuh selidik.


"Be-benar sekali, Tuan Gavin." sahut sang pria bertopi itu terbata.


"Mengapa nyonya besar Nami menyuruhmu untuk melakukan semua ini?!" tanya Gavin sangat ingin tau dengan srpasang mata memicing menatao pria bertopi itu.


"Maaf, Tuan. Tapi aku sama sekali tidak mengetahui alasannya. Nyonya besar Nami hanya memerintahkan untuk mengambil beberapa foto dari tuan muda Reo dan untuk mengawasi tuan muda Reo." jawab pria bertopi itu semakin ketakutan, karena setelah ini pasti dia akan dihukum oleh nyonya besarnya karena sudah ketahuan.


"Haishh!!" Gavin terlihat begitu kebingungan dan frustasi, karena saat ini nyonya besarnya sendirilah dalang dari masalah penguntitan terhadap tuannya saat ini. "Ya sudah segera kembalilah! Sebelum tuan Reo tak bisa menahan diri untuk tak membunuhmu!" imbuh Gavin sambil melempar kembali ponsel milik pria bertopi itu, dan pria itu menangkapnya dengan sempurna.


"Ba-baik ... te-terima kasih atas kemurahan hatinya, Tuan Gavin ..." ucap sang pria bertopi merasa sedikit lega dan segera meninggalkan restoran ini.


Gavin segera mendatangi kembali meja bosnya. Namun rupanya Reo sudah menatapnya dari kejauhan dengan mata yang sangat tajam. Auranya juga begitu menyeramkan.


"Mengapa kamu malah membiarkannya pergi begitu saja?!!. Apa kamu mau mati, Gavin?!!" tandas Reo yang sudah dipenuhi dengan amarah yang semakin memuncak. "Uhmm ... maksudku, seharusnya kamu mengamankannya dulu. Dia sudaj mengganggu privasi seseorang dan sangat membuat orang lain merasa tidak nyaman."


Dengan cepat Reo merubah dan menurunkan intonasi bicaranya dengan sedikit melembutkannya karena saat ini Ayaneru, Leon, dan Leona sedang melongo menatap dirinya.


"Tu-tuan, be-begini ... ada sesuatu yang harus tuan Reo ketahui ..." ucap Gavin ketar-ketir, namun akhirnya Gavin memberanikan diri untuk semakin mendekati Reo dan membisiki sesuatu.


Kening Reo mulai berkerut hingga membuat kedua alis tegasnya berkerut saling berdekatan. Rasanya masih cukup tak percaya akan apa yang baru saja disampaikan oleh Gavin.


Mama? Mengapa mama melakukan semua ini? Apa hal ini berhubungan karena aku yang belum memenuhi panggilannya untuk ke Osaka? Tidak ... aku rasa bukan! Karena mama tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya! Pasti ada sesuatu!


Batin Reo kebingungan sendiri.


"Reo, ada apa? Apa ... ada masalah yang sedang terjadi?" Ayaneru memberanikan dirinya untuk bertanya karena juga merasa khawatir, karena kali ini menyangkut dirinya.


Yeap, karena pemuda bertopi misterius itu bukan hanya memotret Reo saja, namun dia juga memotret Ayaneru dan kedua anak kembarnya juga.


"Hhm. Bukan masalah besar kok. Aku akan mengurusnya. Kalian makanlah dulu. Atau ... mau menambah menu lainnya lagi?" Reo mengalihkan pembicaraan dan menatap kedua anak kembarnya yang saat ini sudah mulai fokus memakan hidangan itu kembali.


Dan sebenarnya kali ini Leon.sangat terpaksa menemani Leona, karena sang mama memjntanya untuk menemani Leona bermain.


Sedangkan Reo dan Ayaneru hanya melihatnya dari kejauhan. Dan Gavin juga berada tak jauh dari mereka untuk tetap selalu menjaga kedua anak kembar itu.


Reo masih saja memperlihatkan wajah serius dan berpikir keras, karena masih memikirkan sang mama yang memberikan perintah kepada seseorang untuk mengawasi dirinya.


"Uhm ... Reo ..." ucap Ayaneru membuka perbincangan kembali.


"Ya? Ada apa, Neru?"


"Uhm ... itu ... soal penawaran dari kamu ..." ucap Ayaneru terlihat ragu untuk mengatakannya.


"Ya? Katakan saja ... aku harap kamu sudah memikirkannya baik-baik." sahut Reo mulai melupakan masalah sang penguntit.


"Uhm ... i-iya ... aku sudah memikirkannya, Reo. Dan aku ... menerima tawaran darimu. Aku ... menerima lamaran darimu." ucap Ayaneru dengan sangat berhati-hati dan sedikit malu.


Wanita cantik itu bahkan tak kuasa untuk berkata dan menatap wajah Reo, sehingga dia hanya menunduk saja saat mengatakannya.


Seketika wajah Reo terlihat begitu berbinar saat mendengarkan jawaban dari Ayaneru. Apa yang Reo inginkan kini akan terwujud, yaitu menebus kesalahannya di masa 5 tahun silam. Dan kini dia akan mendapatkan Ayaneru dan kedua anak kembarnya sekaligus.


"Hhm. Terima kasih, Neru. Aku akan segera mempersiapkan untuk semua persiapan pernikahan kita. Karena kedua orang tuaku juga menginginkan aku untuk segera menikah dalam waktu dekat ini. Terima kasih sudah memberikan kesempatan untukku." ucap Reo begitu berbinar.


Ayaneru hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan mengiyakan ucapan Reo.


"Gavin!!" Reo mulai memanggil sang asisten pribadi yang masih berdiri tak jauh dari mereka berdua.


"Ya, Tuan Reo." Gavin menyauti dengan nada rendah setelah mendekat.


"Persiapkan semuanya untuk pernikahanku bersama Neru! Berikan yang terbaik untuk pesta ini! Dan ingat sebelum bulan ini berakhir, semua harus sudah siap! Karena kami akan segera menikah di akhir bulan ini!" Reo mulai memberika titahnya untuk Gavin.


Gavin melongo cukup lama, namun akhirnya pria yang sudah bekerja dan mengabdi cukup lama kepada Reo itu mulai menjawab perintah dari tuannya.


"Ba-baik, Tuan. Akan segera aku urus semuanya ..." ucap Gavin.


Semoga aku tak salah mengambil mengambil keputusan. Dan semiga ini adalah keputusan yang terbaik dan tepat. Aku hanya ingin melihat Leon dan Leona bahagia ... bagiku melihat senyuman kedua anakku dan melihat mereka bahagia, itu sudah lebih dari cukup.


Batin Ayaneru menatap Reo yang kini sudah menyusul Lein dan Leona di dalam game centre itu, dan mulai menemani kedua anak kembar itu dengan wajah yang masih sangat berbinar.


Yeap, mereka bertiga terlihat begitu bahagia. Kebersamaan itu terlihat begitu hangat dan manis. Sebuah senyuman tipis kini mulai terukir menghiasi wajah ayu Ayaneru saat melihat pemandangan yang begitu hangat itu.


...🍁🍁🍁...