Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Serangan Balik



BIP ...


BIPP ...


Rupanya Leon belum mematikan mini computer miliknya dengan sempurna. Karena masih terjaga, Leon yang mendengarkan sebuah notifikasi melalui mini computer itu kini segera bangun kembali untuk memeriksa sesuatu.


Sedangkan Leona malah sudah tertidur begitu pulas, atau mungkin sekarang malah sudah bermimpi.


CTAKK ...


Leon kembali membuka mini computer itu dan segera memeriksa sesuatu. Sepasang mata besarnya kini mulai membulat sempurna karena telah menyadari sesuatu yang cukup membahayakan keberadaannya di dalam dunia digital telah terjadi.


"Arghhh ... sial!! Pergerakanku rupanya telah diketahui mereka!!" pekiknya mulai melakukan sesuatu dengan cepat.


Jemari mungilnya menari dengan sangat lincah di atas keyboard itu. Beberapa coding mulai dimasukan untuk menyerang balik anak buah sang papa yang sedang berusaha untuk menyerangnya dengan mengirimkan virus mematikan, bahkan untuk mengetahui alamat IP di dalam ruang digital tersebut.


"Sedikit lagi!! Aku mohon ... jangan sampai aku tertangkap oleh mereka!!" gumam Leon masih fokus menatap layar kecil itu.


Sementara pergerakan jemarinya semakin dia percepat agar Leon bisa mengalahkan mereka semua. Peluh terlihat mulai mengucur melalui pelipisnya. Hingga akhirnya setelah beberapa saat ...


TUUKK ...


Leon mulai menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan mulai merasa lega. Karena perang di dalam dunia digital kali ini dia-lah yang berhasil memenangkannya.


Leon berhasil mengalahkan anak buah Reo yang juga seorang hacker professional. Namun mereka masih bisa dikalahkan oleh Leon yang bahkan masih berusia 4 tahun.


"Hehe ... sampai kapanpun kalian tak akan pernah bisa menemukanku. Aku sudah berhasil mengirimkan serangan balik untuk kalian. Rasakan virus perusak software itu. Hehe ..." gumam Leon sambil mematikan dan menutup kembali mini computer itu.


"Maaf, Papa. Tapi aku harus melakukan semua ini. Aku tidak mau mama dan papa mengetahui jika orang itu adalah aku. Aku bahkan melakukan semua ini hanya untuk Leona yang begitu mengkhawatirkan kalian. Aku harap papa dan mama benar-benar bisa bersatu mulai dari sekarang." sambung Leon mulai melihat sang adik yang sudah tertidur begitu pulas.


Leon menatap Leona dengan senyum hangatnya dan mulai membenarkan kembali selimut sang adik.


...🍁🍁🍁...


Jika di Yokohama sedang mengalami musim semi saat ini, maka berbeda dengan di Honolulu, Hawaii. Saat ini di Honolulu, Hawai sedang mengalami musin dingin, dengan langit yang berawan.


Di Honolulu, saat musim panas biasanya panas akan terasa begitu menyengat dan kering. Sedangkan disaat musim dingin biasanya akan terasa lebih menyenangkan dan lembab. Dan pada umumnya berangin dan cukup cerah sepanjang tahun.


Sepanjang tahun, suhu di tempat ini biasanya bervariasi dari 20°C hingga 31°C dan jarang di bawah 17°C atau di atas 32°C.


Pagi ini di sebuah kamar di Wailea Beach Resort - Marriott, Maui, Hawaii, sebuah resort yang berada di tepian pantai Waikiki, terlihat dua sejoli yang masih saja tertidur sangat pulas dengan saling memeluk satu sama lain di bawah sebuah selimut putih yang lembut itu.


Sementara di lantai masih berserakan pakaian mereka berdua dan juga kelopak bunga mawar yang ikut terjatuh di atas lantai.


Mungkin keduanya masih merasakan letih karena semalaman sudah melakukan olahraga malam yang cukup menguras energi hingga menyatukan peluh, saliva bahkan keduanya sudah bercampur.


Kebahagiaan dan kebersamaan yang selama ini menjadi impian mereka berdua kini sudah terwujud dan menjadi kenyataan.


"Ohayoo ..." Reo mulai menyapa hangat, disaat Ayaneru mulai membuka sepasang matanya.


Ayaneru yang masih saja menggunakan lengan Reo untuk bantalan kepalanya, kini mulai mengerjapkan matanya beberapa kali. Pemandangan pertama pagi hari ini yang dia lihat adalah wajah tampan seorang pria yang kini telah menjadi suaminya secara resmi.


Sebuah senyuman hangat mulai terukir pada wajah Ayaneru saat menatap Reo. Seolah seluruh beban hidupnya saat ini kini telah lenyap seketika. Hari-harinya yang sebelumnya berat, redup dan gelap kini mulai terang dan berwarna setelah bersatunya kembali mereka berdua.


"Ohayoo ..." balas Ayaneru lirih dan sesekali memejamkan sepasang matanya sambil menarik sudut-sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman manis.


"Sepertinya kamu tertidur dengan begitu nyenyak." ucap Reo semakin mendekap Ayaneru hingga membuat dagu indah dengan struktur tulang rahang yang begitu tegas itu menggesek kepala Ayaneru.


"Apa kamu masih ingin tidur, Sayang? Jika masih merasa lelah dan mengantuk, kita ke pantai esok saja. Hari ini kita beristirahat saja di resort." ucap Reo sesekali menghirup wangi rambut Ayaneru.


"Lalu bagaimana dengan Leon dan Leona? Pasti mereka akan merasa sangat bosan jika hanya ada di resort saja."


"Baby sitter dan pengawal akan menemaninya jalan-jalan di sekitar tempat ini kok. Tenang saja. Saat ini kamu hanya boleh fokus padaku saja. Dan ... aku mau kamu memberiku anak lagi, agar rumah kita menjadi semakin ramai. Pasti Leon dan Leona juga akan senang jika memiliki adik." ucap Reo tertawa kecil dan sesekali mengecup kening istrinya.


"Hhm. Semoga aku bisa memberikannya lagi ..."


"Mau mencobanya lagi?"


"Eh?"


"Bukankah kita juga harus berusaha untuk membuatnya hadir, Sayang?" ucap Reo mulai melepaskan Ayaneru dan menatapnya lekat.


"I-iya ..." sahut Ayaneru dengan wajah yang mulai bersemu merah kembali.


Namun Reo malah tertawa kecil melihat saat ekpresi Ayaneru yang menurutnya begitu lucu dan menggemaskan.


"Aku hanya sedang menggodamu saja kok. Sebaiknya kita segera mandi dan bersiap untuk sarapan dulu. Biar bagaimanapun kita harus mengisi perut kita." ucap Reo mengecup singkat kening Ayaneru dan mulai duduk.


"Ayo kita mandi bersama ..." ajak Reo.


"Apa? Mandi bersama?" tanya Ayaneru masih saja syok mendengarkan ajakan itu.


Reo haya tersenyum dan segera menggendong depan Ayaneru tanpa menjawabnya lagi. Membuat wajah Ayaneru kembali bersemu merah karena sangat malu dia tak mengenakan sehelai benangpun saat Reo membawanya ke kamar mandi.


...🍁🍁🍁...


Setelah membersihkan diri dan bersiap, kini Reo mulai mengajak Ayaneru untuk sarapan bersama di salah satu restoran di dalam resort ini. Dan rupanya Leon dan Leona juga sudah berada di dalam restoran itu dikawal bersama baby sitter dan juga pengawal.


"Selamat pagi, Sayang ..." sapa Reo untuk kedua anak kembarnya.


"Pagi, Papa!! Pagi, Mama!" balas Leona dengan wajah penuh binar.


Sedangkan Leon masih fokus menikmati sarapannya.


"Bagaimana tidur kalian? Apakah nyenyak?" tanya Ayaneru kepada kedua anak kembarnya.


"Hhm. Iya, Ma! Kasurnya empul sekali. Dari dalam kamar kita juga bisa melihat pemandangan yang sangat indah!" sahut Leona lagi bersemangat.


"Syukurlah jika kalian memang menyukainya." ucap Ayaneru merasa lega.


Kebersamaan mereka di pagi ini terasa begitu hangat. Sebuah keluarga yang penuh cinta, kasih dan sayang. Namun tiba-tiba saja Gavin datang dan melaporkan sesuatu.


"Tuan ..." ucap Gavin terlihat sedikit ragu untuk mengatakannya.


"Katakan saja!" titah Reo seakan bisa membaca kegundahan Gavin.


"Tuan ... maaf tapi kami tidak bisa menemukan peretas itu. Kami semua kehilangan jejaknya dalam dunia digital. Bahkan serangan kita mampu dia hadapi. Dan malah dia mengirimkan serangn balik yang begitu mematikan hingga merusak beberapa software kita. Padahal saat itu kami sudah hampir berhasil menukan alamat IP dia." Gavin melaporkan kepada Reo dengan begitu ketar-ketir.


"Apa? Kalian benar-benar tidak berguna!" geram Reo terlihat begitu kesal. "Menemukan dan menghadapi sampah dalam dunia digital saja tidak bisa!!" sambungnya kesal.


Leon yang kebetulan sedang meneguk jusnya, tiba-tiba malah tersedak saat mendengarkan dan melihat kekesalan sang papa.