
Ayaneru masih terlihat begitu syok dan mematung menatap pemandangan indah di hadapannya. Bahkan rasanya kini dia telah lupa cara untuk bernafas.
Reo yang saat ini masih mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan sebuah handuk kecil, kini mulai mengulum senyum karena merasa gemas melihat ekspresi Ayaneru.
"Neru, apa yang sedang kau pikirkan?" Ucap Reo malah menggoda Ayaneru.
Seketika angan Ayaneru mulai buyar. Dan seketika Ayaneru menjadi salah tingkah. Dengan cepat Ayaneru mulai memalingkan pandangannya dan berpura-pura untuk menonton sebuah acara memasak di TV. Dia duduk di sofa tunggal dan membelakangi Reo.
"Aku tidak memikirkan apa-apa kok!" ucap Ayaneru dengan cepat.
Ayaneru berusaha untuk mengganti saluran TV lainnya, namun tak sengaja dia malah menggantinya menjadi sebuah drama romance, dan kebetulan sekali drama itu sedang berada dalam adegan kissing.
Kegugupan dan kekikukan Ayaneru seketika mulai bertambah dan seakan mau meledak begitu saja. Dengan cepat Ayaneru segera mengganti saluran lainnya lagi.
Sedangkan Reo malah semakin menahan tawanya, agar tidak pecah begitu saja saat melihat semua itu.
"Manisnya ..." gumam Reo begitu lirih hingga Ayaneru tak bisa mendengarnya. "Apa kamu menginginkannya?" imbuhnya mulai menyandarkan kedua tangannya pada sandaran sofa yang diduduki oleh Ayaneru.
Sementara Reo sengaja mengatakan tepat di telinga Ayaneru, membuat Ayaneru sedikit mengangkat bahu kirinya karena nafas Reo yang menyapu lehernya.
"Jika menginginkannya katakan saja padaku. Aku akan dengan senang hati memberikannya untukmu, Sayang ..." imbuh Reo sengaja memelankan suaranya untuk menggoda Ayaneru.
Lagi-lagi Ayaneru hanya mengangkat kedua bahunya saja, membuat tulang selangkanya terlihat semakin tegas, ataukah karena Ayaneru yang kurus? Entahlah ...
"Tid-tidak ... Reo ... pakai pakaianmu dulu ... aku tidak nyaman berbincang seperti ini ... uhm ... ini terlalu ..."
"Siapa yang sedang ingin berbincang denganmu? Aku ingin ingin melakukan hal lain denganmu!" ucap Reo tertawa kecil dan mulai memundurkan badannya namun sebenarnya Reo mulai mengenakan T-shirt-nya dan celana santainya tanpa sepengetahuan Ayaneru.
Sedangkan bagaimana dengan Ayaneru? Mendengar ucapan dari Reo yang menurutnya begitu ambigu, malah membuatnya semakin gugup luar biasa. Karena Ayaneru mengira jika Reo akan melakukan sesuatu lagi malam ini. Jantungnya berdegup semakin keras seperti sebuah dentuman drum.
"Sayang, kemarilah ..." ucap Reo setelah beberapa saat. "Aku membutuhkanmu saat ini .."
Apa? Bagaimana ini? Apa dia sedang mengajakku untuk melakukannya lagi? Mengapa dia tidak punya inisiatif sesikit saja dan malah memintaku untuk mendatanginya? Ugghh ... malu sekali rasanya ... apa yang harus aku lakukan sekarang?
Batin Ayaneru semakin gugup dan menggigit bibir bawahnya.
"Sayang, jangan membuatku menunggu terlalu lama ... kemarilah ..." ucap Reo lagi.
Akhirnya Ayaneru mulai bangkit dari tempat duduknya. Dengan jantung yang masih berdegup kencang, Ayaneru mulai berbalik. Namun betapa terkejutnya Ayaneru ketika melihat Reo yang sudah terduduk di atas karpet dan malah sedang berkutat di depan laptopnya dengan pakaian yang sudah lengkap.
"Ehh ????" Ayaneru melongo dan mulai merona karena merasa malu telah berfikiran yang tidak-tidak sebelumnya.
"Hhm? Kemarilah, Neru ... lihatlah ini ..." ucap Reo kembali tanpa menatap Ayaneru sama sekali. Pandangannya masih saja tak terlepas dari layar berukuran 14 inchi itu.
Ayaneru mendekati Reo dan berusaha untuk tetap bersikap biasa-biasa saja. Lalu wanita cantik itu mulai duduk di sebelah Reo dan menatap layar itu.
"Bagaimana menurutmu? Apa tempat ini cantik?" tanya Reo memperlihatkan sebuah resort dan beberapa tempat wisata dengan laptopnya.
"Hhm. Cantik kok."
"Selama beberapa hari ini aku kebingungan saat memilih tempat untuk kita berbulan madu. Ataukah ... kamu menginginkan untuk mengunjungi suatu tempat, Neru?"
"Hhm. Sebenarnya ada suatu tempat yang ingin aku kunjungi, Reo." ucap Ayaneru terlihat ragu-ragu untuk mrngatakannya.
"Oh ya? Dimana itu? Katakan saja padaku? Kita akan mengunjunginya!" sahut Reo antusias.
Tak menunggu lama, kini beberapa gambar mulai terlihat. Sebuah tempat dengan destinasi yang sangat cantik mulai terlihat pada layar laptop itu. Reo tersenyum takjub, namun tiba-tiba saja senyumannya mulai membeku karena mengingat sesuatu.
"Kamu ... masih mengingatnya, Neru?" tanya Reo sedikit terharu.
Ayaneru mengangguk pelan dan tersenyum tipis.
"Dulu kamu pernah mengatakannya bukan? Jika kamu ingin datang ke tempat itu bersama denganku? Dan mungkin ... saat ini adalah waktu yang tepat untuk kita datang bersama-sama. Dan juga bersama Leon dan Leona." ucap Ayaneru dengan hangat, seketika kegugupannya beberapa saat yang lalu seakan sirna begitu saja.
"Hhm. Baiklah! Kita akan pergi kesana ..." ucap Reo memutuskan dan segera melakukan reservasi untuk tempat yang sudah mereka putuskan bersama untuk tempat bulan madu.
Reo dan Ayaneru masih sibuk untuk melihat-lihat tempat itu kembali. Mereka berdua terlihat begitu antusias saat melihat tempat itu. Dan sesekali potonga cerita di masa lalu kembali mereka perbincangkan bersama.
Saking asyiknya, Ayaneru hingga sampai ketiduran begitu saja dengen menyandarkan kepalanya di atas meja. Reo segera memindahkannya di tempat tidurnya dan ikut tidur bersama Ayaneru.
.
.
.
.
.
Seorang anak laki-laki yang sedang terduduk di bawah sebuah pohon di atas bukit dekat taman kota, terlihat sedang mencorat-coret buku sketsa miliknya.
Kali ini dia tidak menggambar desain pakaian seperti biasanya. Namun, kali ini anak laki-laki itu menggambarkan sebuah pemandangan yang sangat indah.
Sementara seorang gadis kecil yang baru saja datang, kini mulai menghampirinya lalu duduk di sebelah anak laki-laki itu untuk melihat gambar dari anak laki-laki itu.
"Kakak sedang menggambar apa kali ini? Tidak seperti biasanya ..." ucap sang gadis kecil itu masih mengamati gambar anak laki-laki itu.
"Ini adalah pantai Waikiki." jawab Reo kecil yang masih berusaha untuk menyelesaiakan gambarnya.
"Cantik sekali, Kak!!" seru gadis kecil itu sangat bersemangat.
"Apa kamu ingin pergi kesana, Putri tidur?" tanya Reo kecil mulai beralih menatap gadis kecil yang kali ini ramputnya diikat 2, sambil memeluk sebuah boneka panda kecil yang merupakan pemberian dari Reo kecil saat itu.
Sebenarnya Reo kecil mendapatkan boneka panda itu dari bermain di game centre bersama teman-temannya saat itu.
"Tentu saja aku ingin, Kak! Tempat ini pasti sangat indah!! Aku juga ingin melihatnya!!" sahut gadis kecil itu bersemangat.
"Kalau begitu ... saat sudah dewasa nanti, jika kakak sudah boleh bepergian di luar negeri sendirian maka kakak akan mengajakmu untuk pergi melihatnya." ucap Reo kecil saat itu.
"Pergi bersama apakah itu artinya juga menikah juga, Kak? Aku juga ingin sekali menikah dengan kakak!!" ucap gadis kecil itu bersemangat.
Reo kecil mematung selama beberapa saat, dan wajahnya seketika mulai bersemu merah. Reo yang saat itu berusia 8 tahun cukup mengerti arti dari pernikahan. Tidak seperti sang putri tidurnya yang masih berusia 5 tahun saat itu.
Bagi Ayaneru kecil, menikah adalah mengenakan sebuah gaun indah layaknya para princess di dalam negeri dongeng. Dan biasanya para putri itu selalu bersama teman laki-lakinya yang juga mengenakan pakaian rapi.
Namun Reo kecil mengangguk pelan tanpa ragu, "Kelak saat kita sudah dewasa, maka aku akan menikahimu ..."