
Di sebuah apartemen, dua anak kecil sedang asyik menonton TV bersama. Mereka adalah Leon dan Leona. Dan mereka sama sekali tidak mengetahui jika beberapa saat yang lalu papanya telah mengalami sebuah kecelakaan.
Karena para orang dewasa itu sudah sepakat untuk tidak mengatakan hal itu kepada Leon dan Leona. Mereka mengatakan jika papa dan mamanya sedang berlibur ke luar negeri untuk berjalan-jalan dan refresing.
Karena biar bagaimanapun kedua anak itu sangat cerdas dan begitu menyayangi Reo. Jika kedua anak kembar itu mengetahui kondisi Reo saat ini, pasti mereka akan merengek untuk ikut bersama tinggal di rumah sakit. Dan itu sangat tidak dianjurkan untuk anak kecil.
"Kak Leon. Kapan papa dan mama pulang ya? Aku kangen sekali dengan mereka!" celutuk Leona mengerucutkan bibir mungilnya beberapa senti ke depan dengan wajah cemberutnya, membuatnya terlihat semakin lucu dan menggemaskan.
"Mungkin dalam waktu dekat ini mereka akan segera kembali kok. Karena baru saja mama mengirimkan pesan untukku." sahut Leon yang sebenarnya tak menonton acara TV itu, melainkan memainkan sebuah game online dengan ponselnya.
"Mengapa mama tidak mengirimkan pesan untukku ya? Dan mama malah mengirimkan pesan hanya untuk kakak saja! Ihh menyebalkan! Apa mama tidak sayang padaku? Apa mama tidak merindukanku? Ugghh ..." ucap Leona semakin cemberut.
"Memang apa bedanya jika mama mengirimkan pesan untukmu atau untuk kakak? Toh kita juga selalu bersama. Siapapun yang dikirimi pesan oleh mama, tetap saja kita berdua akan mengetahuinya bukan?" sahut Leon dengan santai.
"Ya beda donk, Kak! Mana bisa diartikan seperti itu?! Pokoknya aku kesal dan marah dengan mama! Menyebalkan!" sungut Leona menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan memasang ekspresi kesal.
DRRTT ...
Tiba-tiba saja ponsel Leona bergetar, nama papanya memenuhi lauar ponsel itu hingga membuatnya berjingkrak kegirangan. Gadis kecil itu menjulurkan lidahnya menggoda Leon, lalu segera mengangkat panggilannya.
Sementara Leon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali melihat tingkah sang adik.
"Hallo, Papa!" sapa Leona dengan begitu bersemangat.
"Hallo, Leona sayang. Apa kabar? Dan sedang apa?" tanya Reo dari seberang.
"Kabarku baik, Pa. Dan aku sedang menonton Tv. Papa apa kabar dan sedang apa di Korea?" tanya Leona bersemangat.
Yeap, Leon dan Leona mengira jika papa dan mamanya saat ini sedang berlibur bersama di Korea.
"Kabar papa sangat baik. Papa dan mama sedang berada di pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa oleh-oleh. Kamu dan kak Leon mau dibelikan apa, Sayang?" tanya Reo dengan nada hangat dan ceria seperti biasanya.
Padahal saat ini dia masih berada di dalam kamar rawatnya dan ditemani oleh Ayaneru.
"Aku akan menerima apapun dari papa kok. Asal papa dan mama segera kembali saja, aku sudah sangat senang. Aku kangen sekali dengan papa dan mama! Dan tentunya aku juga kangen dengan adek kecil!" ucap Leona gemas.
"Ya, Leona sayang. Lusa kami akan segera pulang kok. Salamkan untuk kak Leon. Papa harus membayar semua barang ini dulu. Sepertinya mama kalian sudah selesai berbelanja."
"Okay deh, Pa! Sampai jumpa, Papa!"
"Sampai jumpa, Sayang ..."
Leona mematikan panggilan itu dan mulai meraih sebuah kue mochie di hadapannya yang masih hangat dan memakannya. Suasana hatinya seketika membaik setelah berbicara dengan papanya, ditambah lagi mereka juga akan segera kembali ke rumah dan berkumpul bersama.
"Hhm. Bukankah kakak sudah mengatakannya padamu tadi? Jika mereka akan segera pulang."
"Hehe ... iya sih, Kak!" Leona nyengir lebar dan mulai mengganti saluran Tv-nya menjadi konser seorang idol Jepang yang sedang naik daun saat ini.
"Wah ... kakak-kakak itu keren sekali! Jika aku sudah dewasa nanti, aku juga mau memiliki suami seperti mereka ah ..." celutuk Leona dengan asal setelah melihat dua orang penyanyi pria yang sedang melangsungkan di atas venue megah. "Suaranya merdu dan kakak-kakak itu juga sangat berkilauan!!"
Leon mulai mendongak untuk melihat apa yang sedang disaksikan oleh sang adik.
"Apa hebatnya mereka, Leona?! Hanya modal tampan dan suara merdu saja kamu tak akan membuatmu kenyang!"
"Suka-suka aku donk, Kak! Hehe ... XJZ, mulai sekarang kalian adalah idolaku!!" ucap Leona penuh dengan keyakinan, menatap serius layar TV itu dan mengepalkan kedua tangannya.
...🍁🍁🍁...
Seorang pria berwajah datar dengan setelan jas rapi terlihat sedang mendorong sebuah kursi roda, dimana seorang pria dengan aura dingin sedang terduduk di atasnya dengan penampilannya yang juga super rapi.
Mereka memasuki sebuah gedung tua yang juga sudah dijaga ketat oleh orang-orangnya. Sementara di tengah ruangan yang luas dan pengap ini terlihat seorang pria dengan kondisi terikat di atas kursi. Mulutnya juga dibungkam dengan lakban. Di masing-masing sisinya sudah dijaga ketat olah beberapa pengawal dengan pakaian rapi.
SSRRTT ...
Salah satu pengawal itu menarik paksa lakban penutup mulir pria itu dibuka dengan paksa dan sangat kasar.
"Pria ini adalah pelaku tabrak lari itu, Tuan." ucap pria yang berdiri di belakang tuannya yang sedang duduk di atas kursi rodanya. Dia adalah Gavin.
"Hhm." sahut Reo singkat dan mulai mengisyaratkan dengan tangannya untuk anak buahnya agar melakukan sesuatu.
Gavin yang paham segera maju menghampiri pria yang masih duduk terikat di atas kursi itu dengan gemetaran karena mendapatkan tatapan tajam dari sang tuan maupun Gavin.
"Katakan semuanya pada kami, katakan siapa yang menyuruhmu untuk melakukan semua ini, atau aku akan menjadi malaikat maut untukmu sekarang juga!" tandas Gavin masih dengan tangan kosong.
"Ti-tidak ada, Tuan ... ak-aku tak sengaja lewat di depan gedung F Group, dan aku juga tid-tidak sengaja menabrak tu-tuan. Ak-ku sangat ketakutan saat itu, ma-maka dari itu aku segera meninggalkan tempat itu, Tuan. Ma-maafkan aku, Tuan ... ak-aku memang salah ..." ucap pria itu gemetaran dan menunduk karena tak sanggup untuk menatap mata membunuh Gavin maupun Reo.
"Tidak segaja?" Gavin tertawa mengejek mengulang ucapan itu sambil menghentakkan kuat kaki kanannya hingga lututnya menghantam keras wajah pria itu hingga hidungnya berdarah.
DUAKKK ...
"Sorry, aku juga tidak sengaja!" ucap Gavin tersenyum miring dan mulai menjambak rambut pria itu. "Sepertinya tanganku selalu tidak sengaja melakukan segala hal! Aahhh ... lihatlah ... lihatlah ... dia mulai mengambil pisau pembunuh ..."
Ucap Gavin berkata dan bersikap seperti layaknya seorang psiko, dengan tangan kiri menjambak rambut pria itu kuat dan tangan kanannya mulai mengeluarkan sebuah pisau lipat dan memain-mainkannya berputar berlawanan arah jarum jam. Seolah semua itu bergerak di luar kendalinya.