
"Ada apa, Pa?" tanya Reo ketika dia sudah duduk di sofa di dalam sebuah ruangan bersama dengan sang papa.
"Begini, Reo. Sebaiknya kamu segera kembali dan tinggal di Osaka. Karena perusahaan pusat lebih membutuhkanmu saat ini. Serahkan saja kantor cabang di Yokohama untuk Jion atau anak buahmu yang lain." ucap papa Reo dengan mimik wajah serius.
"Mengenai hal ini, aku akan membicarakannya dengan Neru dulu, Pa. Dan aku akan berusaha untuk segera kembali ke Osaka, namun mungkin belum dalam untuk waktu dekat ini." ucap Reo seadanya.
"Hhm. Papa sudah cukup tua. Dan akan segera pensiun. Papa hanya ingin segera beristirahat saja dan menimang cucu. Tapi Leon dan Leona sudah cukup besar untuk ditimang." ucap Nara menggoda putranya.
Reo memijit keningnya seakan bingung harus menjawab apa.
"Mengenai hal itu papa tenang saja. Aku dan Neru juga menginginkannya ..."
"Papa hanya sedang menggodamu, Reo." ucap Nara dengan kekehannya. "Memiliki cucu yang lucu dan cerdas seperti Leon dan Leona sudah sangat membuat papa bahagia. Terlebih Leon tipikal genius dan berpikir rasional. Meskipun masih sangat kecil, namun kemampuannya begitu luar biasa dan mampu mengalahkan orang dewasa. Dia akan menjadi penerus keluarga Fukushi kelak." ucap Nara terlihat begitu bahagia.
"Melihat Leon membuat papa seakan melihat kamu di masa kecil, Reo. Kalian berdua sangat mirip. Bahkan pribadi kalian berdua juga sangat mirip." imbuh Nara lagi.
"Mama juga mengatakan hal yang sama, Pa." jawab Reo seadanya, namun tiba-tiba saja Reo kembali teringat dengan pertemuan pertamanya dengan Leon saat di bandara Narita.
Bahkan di saat itu Reo juga begitu terkesima oleh Leon, karena melihat Leon seperti melihat dirinya sendiri di masa kecil.
Perbincangan kedua pria dengan aura tegas dan dingin itu terus saja berlanjut selama beberapa saat, karena mungkin papa dan anak itu juga saling merindukan satu sama lain setelah cukup lama tidak bertemu.
Hingga keduanya malah melupakan sesuatu, jika di luar sana masih ada banyak tamu yang sedang menantikan mereka berdua. Bahkan kedua pria itu kembali teringat saat Nami menghubungi suaminya. Mereka segera kembali untuk menjamu para tamu undangan.
Reo yang sudah kembali mulai mencari Ayaneru, namun dia sudah tidak menemukannya di tempat dimana Reo meninggalkannya beberapa saat yang lalu. Bahkan Reo hanya melihat mamanya yang sudah bersama dan berbincang dengan beberapa tamu undangannya.
"Kamu dimana, Neru? Tidak mungkin kamu diculik seseorang lagi bukan?" gumam Reo masih menebarkan pandangannya di segala penjuru mansion ini.
Beberapa tempat mulai disisirinya untuk mencari Ayaneru.
Sementara itu di taman samping dekat ruangan utama dari mansion utama keluarga Fukushi, selama beberapa saat, Ayaneru masih asyik berbincang dengan Lin Chen.
Pertemuan yang tak terduga ini sungguh sangat mengejutkan, namun juga membuat mereka berdua merasa nyaman karena kini mereka memiliki teman berbincang. Sesekali mereka juga terlihat tertawa bersama karena perbincangan yang menggelitik perut.
"Itu sungguh lucu sekali, Lin Chen. Aku tidak menyangka kamu bisa sekonyol itu. Ahaha ..." Ayaneru tertawa lepas setelah dia mendengarkan sebuah kisah lucu yang pernah dialami Lin Chen ketika dia kuliah.
Sementara Lin Chen juga ikut tertawa kecil. Ada rasa bahagia karena saat ini, karena dia masih bisa bertemu dan melihat tawa bahagia Ayaneru lagi.
Meskipun ada rasa sedih jika mengingat sebuah kenyataan, jika kini Ayaneru sudah memiliki seorang suami secara sah. Bahkan pria itu adalah ayah biologis dari kedua anak kembarnya.
Padahal saat dia bertemu kembali dengan Ayaneru, Lin Chen sudah memutuskan untuk segera melamar dan menerima Ayaneru dan kedua anak kembarnya. Namun rupanya takdir tetap saja tak berpihak kepadanya.
Ditengah asyiknya perbincangan antara Ayaneru dan Lin Chen, kini tiba-tiba mulai terdengar suara maskulin seorang pria yang begitu berat namun jernih, hingga membuat Ayaneru dan Lin Chen beralih menatap ke arah sang pemilik suara.
Senyuman Ayaneru mulai merekah ketika menyadari jika yang datang adalah Reo. Tidak seperti Reo yang malah kebingungan saat menatap Ayaneru dan Lin Chen.
"Mengapa kamu ada disini?" tanya Reo menatap Lin Chen kebingungan dan sedikit curiga.
Karena setahu Reo, Lin Chen adalah teman Ayaneru di masa lalu dan tinggal di prefektur Yokohama. Namun kini tiba-tiba saja malam ini dia malah datang ke rumah besar keluarga Fukushi yang berada di Osaka.
Tentu saja Reo merasa bingung dan curiga. Bahkan Reo malah sempat mengira jika Lin Chen sengaja mengikuti Ayaneru hingga ke tempat ini.
"Apa kamu menguntit kami?!" ucap Reo kembali penuh curiga.
Mendmegar ucapan dari Reo membuat Ayaneru segera melenggang untuk menghampiri Reo dan memeluk lengan Reo.
"Apa yang sedang kamu katakan, Reo? Lin Chen tidak mungkin melakukan hal semacam itu." ucap Ayaneru berusaha untuk menjelaskannya. "Dia hanya datang sebagai partner bisnis dari Fukushi Group."
"Apa?! Tapi aku tidak pernah bekerja sama dengan dia di cabang manapun." sahut Reo semakin curiga.
"Benar, Tuan Reo. Aku baru saja melakukan kerjasama ini beberapa pekan yang lalu dengan Fukushi Group pusat, tepatnya ketika tuan Reo sedang berada di F Group. Dan aku melakukan kontrak bisnis bersama tuan Nara." ucap Lin Chen menjelaskan dengan ramah seperti biasanya.
Mendadak sekali? Apakah hanya kebetukan? Mengapa aku merasa jika semua ini sangat disengaja? Apakah dia masih ingin mengejar Neru? Apa karena aku yang berlebihan?
Batin Reo memicingkan sepasang matanya menatap Lin Chen.
Sementara itu rupanya dari kejauhan Leon dan Leona sedang menyaksikan drama orang dewasa itu dari balik sebuah tanaman hias pohon Matzu.
"Kak Leon! Lihatlah! Papa sedang cemburu dengan paman Lin Chen!" bisik Leona menyikut Leon.
"Hhm. Iya . Sangat terlihat dengan jelas! Papaku yang sangat keren dalam hal apapun rupanya sangat payah jika sudah menyangkut hati dan perasaan. Rupanya cinta membuat seseorang menjadi terlihat payah." Leon menggerutu pelan dan terlihat sedikit kecewa.
"Itu artinya bagus dong, Kak! Itu artinya papa benar-benar sudah mencintai mama. Dan usaha kita selama ini membuahkan hasil dong!"
Sahut Leona berbinar dan membanggakan dirinya dengan memejamkan sepadang mata, dada membusung ke depan dan berkacak pinggang. Lucu sekali!
"Ya! Papa dan mama sudah saling mencintai! Lalu bagaimana kita membantu masalah mereka kali ini? Paman Lin Chen sepertinya masih menyukai mama." ucap Leon menyimpulkan.
"Kita tak boleh membiarkan papa dan mama salah paham dan terpisah kembali, Kak! Paman Lin Chen sepertinya memang baik, namun aku tak rela jika papa menjadi cemburu seperti ini."
Ucap Leona lalu mulai memikirkan sesuatu, hingga akhirnya gadis kecil itu mulai tersenyum lebar karena mendapatkan sebuah ide brilian.