
Seorang pria dengan setelan jas super rapi mulai memasuki sebuah ruangan kerja presdir F Group untuk memenuhi panggilan dari sang tuan.
"Ini, Tuan. Seluruh orang yang terlibat dalam kejadian malam itu sudah berhasil ditangkap dan diamankan!" Gavin menyodorkan sebuah tablet kepada tuannya.
Reo mulai melihat video itu dengan wajah dinginnya. Bukannya merasa tidak puas akan pekerjaan dari Gavin, namun Reo masih saja merasa murka dan dendam jika mengingat tangisan Ayaneru malam itu.
Ditambah lagi saat Reo mengingat ketika Aaroon dan Jay Yeol yang menyentuh Ayaneru saat itu. Seakan membuat darahnya mendidih begitu saja.
"Hhm! Biarkan mereka menerima hukuman yang berat! Dan aku tidak mau berdamai!! Tidak boleh ada yang berani menjamin mereka!! Sekalipun owner dari Blink Fashion!! Kedua putra tuan Rion sudah sangat melewati batasannya!!" geram Reo.
"Baik, Tuan. Akan aku pastikan mereka akan mendapatkan hukuman tanpa ada keringanan sedikitpun!" jawab Gavin dengan patuh.
"Hhm! Bagaimana dengan semua persiapan pernikahanku?"
"Semua sudah dipersiapkan, Tuan. Dan saat ini sudah 70% persiapan diselesaikan."
"Good to know!! Jika sampai semua lancar hingga pesta pernikahanku selesai dengan baik! Maka aku akan memberikan bonus yang besar untukmu! Agar ... paling tidak bisa untuk modalmu melamar kekasihmu! Apa kau sama sekali tak ingin menikah, Gavin?"
"Ten-tentu saja aku juga ingin menikah, Tuan. Hanya saja ... calon mertuaku meminta sebuah apartemen untuk syarat menikahi putri mereka. Dan aku belum memiliki cukup uang untuk membeli apartemen untuk mereka." jawab Gavin dengan jujur.
"Baiklah! Jika sampai kau bisa mengurus semua prosesi pesta pernikahanku dengan baik tanpa ada perusuh dan gangguan, maka aku akan membelikan apartemen untuk mereka. Dan kamu segeralah menikah juga. Usiamu sudah 30 tahun bukan?"
"Hehe i-iya, Tuan. Tahun depan usiaku memasuki 30 tahun. Tapi ... apakah ucapan tuan adalah serius? Apa tuan Reo akan membelikan apartemen untukku melamar kekasihku?" tanya Gavin masih kurang mempercayai apa yang baru saja dia dengarkan.
Karena harga sebuah apartemen bukanlah seperti harga sebuah kacang goreng saja. Namun dengan mudahnya Reo mengatakan ingin membelinya untuk Gavin.
"Kapan aku pernah bermain-main dengan ucapanku, Gavin?!" tandas Reo menatap datar Gavin.
"Tid-tidak pernah, Tuan."
"Kalau begitu bekerja keraslah untuk meraih hadiah itu!"
"Baik, Tuan. Terima kasih sebelumnya, Tuan. Kalau begitu permisi, Tuan. Aku akan memantau hotel, katering, dan semua persiapan untuk pesta pernikahan tuan Reo." ucap Gavin dengan bersemangat.
"Hhm. Aku juga sudah mau pulang!"
Gavin segera meninggalkan ruang kerja Reo. Sementara Reo mulai mengemasi barang-barang serta mematikan laptopnya.
TRING ...
Sayang, mama sedang pergi bersama ke Tokyo Disneyland bersama Leon dan Leona. Tolong jemput kami ya. Karena kedua cucu mama ingin dijemput papanya saat ini.
Sebuah pesan yang dikirimkan oleh Nami sempat membuat Reo mengkerutkan keningnya. Karena sebelumnya tak ada informasi apapun dari Yora ataupun pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Leon dan Leona.
"Mama? Huft ... mengapa bisa betah sekali bermain seharian hingga senja? Nanti awas saja kalau sampai ngeluh encoknya kambuh." gumam Reo menghembuskan nafas kasarnya ke udara.
Reo segera bangkit dari tempat duduknya dan menyamber pakaian hangatnya. Sebuah tas pipih berwarna hitam pekat juga mulai ditentengnya meninggalkan ruangan kerjanya.
Reo juga mengajak Ayaneru untuk ikut bersama dengannya. Karena akhir-akhir ini mereka berdua sering berangkat dan pulang kerja bersama. Dan semua itu telah dilakukan secara terang-terangan di depan semua orang.
...🍁🍁🍁...
"Papa!!" Leona berjingkrak dan berlari ke arah Reo setelah mengetahui kedatangan Reo.
"Seru sekali, Papa!! Pa!! Boleh nggak malam ini papa menginap di rumah kami? Aku ingin sekali dibuatkan puding sama papa lagi!" ucap Leona penuh harap.
"Leona!" ucap Ayaneru dengan nada menekan, agar putri kecilnya tak berbuat sesuka hatinya sendiri.
"Tidak masalah, Neru. Puding ya? Hmm. Baiklah. Setelah mengantar nenek kalian pulang, papa akan mengantar kalian pulang." jawab Reo tanpa pikir panjang lagi.
Padahal saat ini tubuhnya merasa sedikit kurang sehat dan sedikit merasa lelah. Karena akhir-akhir ini Reo juga lebih sering bekerja lembur hingga larut malam.
"Assiikk ..." seru Leona bersemangat.
"Ma, dimana papa? Apa papa tidak ikut bersama dengan kalian hari ini?" tanya Reo beralih menatap Nami.
"Papamu sudah kembali ke Osaka karena ada sebuah pekerjaan yang tak bisa ditunda. Dia akan datang lagi saat pesta pernikahanmu nanti." jawab Nami mendekati Reo sambil menggandeng Leon.
"Oh begitu ya."
"Hhm. Iya, Sayang." ucap Nami tersenyum hangat menatap Reo dan Ayaneru bergantian.
"Ya sudah. Aku akan mengantarkan mama ke hotel mama. Atau mama ingin menginap di apartemenku saja?" ucap Reo menawarkan.
"Ke hotel saja, Sayang. Ada beberapa barang mama yang masih ada di hotel. Dan sebaiknya kamu antarkan Neru, Leon dan Leona saja. Mama bisa pergi dengan pengawal saja kok." ucap Nami.
"Baiklah kalau begitu, Ma. Mama hati-hati ya ..."
"Iya. Hati-hagi juga saat menjaga calon menantu dan kedua cucuku yang meggemaskan itu ya!" ucap Nami dengan tawa kecil.
"Hhm. Kami pergi dulu, Ma ..." sahut Reo yang sudah menggendong Leona.
Ayaneru tersenyum dan membungkukkan badannya sebelum akhirnya dia dan Leon juga mulai menyusul Reo dan Leona.
Akhirnya Reo segera mengantarkan Ayaneru, Leon dan Leona untuk segera pulang. Dan sebenarnya mereka masih selalu diawasi dan dijaga oleh beberapa pengawal yang sudah ditugaskan oleh Reo.
Karena setelah kejadian saat itu yang melibatkan Jay Yeol dan Aaroon, Reo semakin memperketat semuanya. Karena khawatir akan ada orang yang masih ingin berusaha untuk mencelakai orang-orang terdekatnya lagi.
Seperti tak pernah mengenal rasa lelah, kedua anak kembar itu masih saja berkicau ria saat berada di dalam mobil. Sebenarnya hanya Leona saja yang aktif, sedangkan Leon hanya sekali-kali menyautinya saja.
"Papa akan membuat puding untuk kalian setelah papa mandi. Kalian mandi juga mandi dan tunggu saja dulu ya sambil menonton TV." ucap Reo berusaha untuk menepati janjinya.
"Oke, Pa!" sahut Leona.
"Ya sudah. Ayo mandi bareng mama dulu sayang." ajak Ayaneru menatap gadis kecilnya
"Asikkk!! Ayo, Ma!!" sahut Leona bersemangat dan segera menarik Ayaneru untuk pergi ke kamar mandi di kamarnya.
Sementara Reo dan Leon mulai bertatapan aneh, dan kedua pria dingin berbeda generasi itu kini sedang membayangkan jika mereka juga akan mandi bersama juga. Hal itu cukup membuat Leon dan Reo merasa geli sendiri.
Karena selama ini Leon selalu madi sendiri. Bahkan hal itu sudah dilakukannya semenjak Leon berusia 3 tahun.
"Ehem ... aku akan mandi di kamar mandi mama saja. Papa mandi saja di kamar mandi luar." Leon berdehem dan mulai meninggalkan Reo yang masih berdiri keheranan menatap kepergian Leon.
"Memang benar-benar putraku ..." gumam Reo pelan dan tersenyum tipis menatap punggung Leon yang semakin menghilang dari pelupuk matanya karena sudah memasuki kamar Ayaneru.