
Sore ini Ayaneru mengajak kedua buah hatinya untuk berbelanja beberapa barang serta pakaian baru yang akan mereka bawa untuk pergi ke Paris besok.
Kedua anak kembar itu terlihat begitu manis, dengan Leona yang berada di dalam troli bersama barang belanjaan Ayaneru. Sementara Leon yang mendorong troli belanjaan itu.
Bahkan Leon malah memaksa sang mama agar tidak melakukannya, dan biarkan dirinya yang sebagai seorang pria yang mendorong troli belanjaan itu.
"Sayang, biarkan mama yang mendorongnya. Ini akan berat, Sayang." ucap Ayaneru berusaha untuk mengambil alih troli belanjaannya.
Namun rupanya Leon masih saja bersikeras dan tidak mau menyerahkan troli itu untuk kepada Neru.
"Tidak, Ma! Biarkan aku saja yang mendorongnya!" ucap Leon masih saja kekeh.
"Huft ... baiklah!" ucap Ayaneru mulai mengalah.
Mereka bertiga kembali melanjutkan untuk berbelanja beberapa barang lagi, bahkan hingga troli itu hampir terisi penuh dengan barang belanjaan yang didominasi oleh cemilan kedua anak kembar itu.
Namun tiba-tiba saja Ayaneru mulai mematung saat pandangannya mulai menangkap sosok wanita paruh baya dengan penampilan yang cukup elegan dan berkelas. Dan tentunya sangat dia kenali oleh Ayaneru. Wanita paruh baya itu berada di seberang sedang memilih beberapa barang belanjaan.
Setelah beberapa saat akhirnya pandangan mereka berdua saling bertemu. Dan keduanya sama-sama berdiri mematung karena merasa sedikit terkejut. Ada rasa haru dan bahagia karena bisa bertemu, namun juga ada rasa sedih yang masih bersemayam di hati kedua wanita berbeda generasi itu.
"Neru ..." ucap wanita paruh baya itu yang rupanya sudah mendekati Ayaneru. "Apa kabar, Sayang? Ibu rindu sekali padamu." imbuh wanita paruh baya itu sudah dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.
"Ibu ... kabarku baik. Ibu apa kabar?" jawab Ayaneru yang sebenarnya juga sangat merindukan sang ibu.
"Ibu juga baik, Sayang." ucap sang ibu dengan senyuman hangatnya mengusap lembut sisi samping wajah Ayaneru.
Namun tiba-tiba sang ibu mulai beralih menatap Leona yang masih terduduk di dalam troli belanjaan dan juga menatap Leon yang berdiri di samping Ayaneru.
Kedua anak kembar itu masih saja mendongak menatap sang nenek dengan tatapan aneh, karena mereka sama sekali belum pernah sebelumnya.
Bahkan saat Ayaneru, Leon dan Leona datang ke rumah besar Ryusei beberapa waktu silam, mereka juga belum pernah bertemu karena Ayaneru langsung mengajak kedua anak kembarnya untuk meninggalka rumah besar Ryusei disaat sang ayah mengusirnya.
"Neru sayang, apakah mereka ..." ucap sang ibu terpotong.
"Iya, Ibu. Mereka adalah anak-anakku. Leon dan Leona, kenalkan ... ini adalah nenek." ucap Ayaneru memperkenalkan Leon dan Leona kepada ibunya.
"Salam kenal, Nenek. Aku Leona! Dan ini adalah kakakku, kak Leon!!" ucap Leona seketika menjadi berbinar dan sangat antusias karena akhirnya bertemu dengan sang nenek.
"Wah ... lucu dan manis sekali kalian berdua." ucap ibu Ayaneru sangat berbinar saat memandang kedua cucunya yang sangat menggemaskan dan lucu.
"Ibu, apakah keadaan ayah sudah mulai membaik?" tanya Ayaneru yang sebenarnya juga sangat merindukan dan mencemaskan sang ayah.
"Sudah lebih baik, Sayang. Sayang datanglah ke rumah! Percayalah kepada ibu, jika sebenarnya ayahmu juga sangat merindukan kalian semua." ucap, Nami ibu Ayaneru mengusulkan.
Mendengarkan ucapan dari sang ibu, sebenarnya sangat membuat Ayaneru terkejut. Jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya Ayaneru memang sangay merindukan kedua orang tuanya. Dan tentu saja Ayaneru sangat ingin bertemu dengan mereka. Namun dirinya juga pernah diusir oleh sang ayah dari rumah besar Ryusei.
"Ayahmu bicara dan gayanya memang selalu saja seperti itu, Sayang. Kamu pasti sudah sangat hafal dan tau bukan? Ayo kita ke rumah!"
Ayaneru hanya bisa tersenyum hangat menatap sang ibu. Belum sempat Ayaneru menjawabnya, tiba-tiba saja sang ibu mulai menggiringnya untuk segera pergi ke kasir dan berniat akan mengajak putri dan kedua cucunya untuk ke rumah besar Ryusei.
Tak bisa menolaknya, akhirnya Ayaneru dan kedua buah hatinya menuruti Nami begitu saja untuk pergi berkunjung bersama ke kediaman keluarga Ryusei.
Nami terlihat begitu menyukai dan menyayangi Leon dan Leona. Bahkan dalam sekejap saja Leona langsung bisa akrab dan dekat dengan sang nenek. Sedangkan Leon masih saja bersikap seperti biasanya, dingin dan datar karena masih mencurigainya.
"Apa yang sedang kamu lakukan di rumah ini, Neru?!" sebuah sambutan yang sama sekali tak ada kehangatan diberikan oleh sang ayah ketika mereka baru saja menginjakkan kaki di rumah besar Ryusei bergaya Eropa modern itu.
Namun sang ayah segera menghentikan ucapannya karena melihat kedua anak kecil yang lucu dan menggemaskan datang bersama dengan mereka.
Sepasang matanya mulai bergetar menatap Leon dan Leona yang saat ini sedang menatap dirinya. Sementara Ayaneru terlihat sedikit murung karena menyadari jika sang ayah rupanya masih saja marah dan kesal kepada dirinya.
"Sayang, aku yang mengajak mereka datang kemari!" jawab Nami dengan cepat dan segera menggandeng Leon dan Leona untuk meninggalkan ruangan itu. "Hari ini nenek akan memasak sesuatu untuk kalian! Ayo, Sayang!" imbuh Nami masih besemangat dan mulai menjauh dari ruangan tengah.
Kini tinggallah Ayaneru dan ayahnya di ruangan itu. Suasana masih begitu canggung, dingin, dan sangat mencekam. Bahkan lidah Ayaneru seakan menjadi kelu dan berat untuk berkata-kata, seolah semua untaian kata-katanya kembali tertelan dan tak berhasil dia ucapkan satu patah katapun.
Sebenarnya masih ada rasa rindu yang begitu besar jauh di dalam hati sang ayah. Namun karena amarahnya yang tak bisa dia kontrol membuatnya masih begitu murka kepada putri semata wayangnya.
"Ayah ... apa kabar? Apa ayah sudah lebih baik?" tutur kata Ayaneru begitu lirih setelah beberapa saat mereka hanya terdiam dan hanya bertemu pandang dengan suasana mencekam.
"Apa pedulimu kepadaku!! Kau saja tak pernah bisa mentaati perintah ayahmu sendiri!" tandas sang ayah masih dengan nada kasar dan sangat dingin.
Ayaneru hanya bisa berusaha untukmenguatkan hatinya sendiri saat ini. Dan dia berharap, suatu saat sang ayah akan memaafkannya dan menerimanya kembali. Bukan karena Ayaneru merasa hidup berat saat keluar dari keluarga besarnya, namun dia tak bisa terlalu lama berada jauh dari mereka dengan kebencian sang ayah.
"Apa ayah sama sekali tidak bisa memaafkanku? Aku ... memang salah dan sangat ceroboh saat itu. Namun aku tak pernah menginginkan semua kejadian itu menimpaku, Ayah." ucap Ayaneru terdengar sedikit bergetar dan sepasang manik-manik indah itu terlihat sudah berkaca-kaca.