Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Pemandangan Indah ??



Setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua mulai tiba di apartement dimana Reo tinggal selama dia berada di Yokohama.


Sebenarnya Ayaneru merasa cukup tidak nyaman karena Reo malah membawanya ke tempat ini. Memang benar mereka akan segera menikah hanya tinggal menghitung hari saja, namun rasanya masih cukup canggung untuk berduaan seperti ini.


"Re-Reo ... aku akan pulang saja. Leon dan Leona pasti akan sulit tidur jika aku tidak pulang. Kasihan Yora jika harus menjaga mereka hingga larut malam." Ayaneru berusaha untuk mencari alasan agar bisa segera pulang.


"Mereka berdua bahkan sudah tidur." jawab Reo dengan santai.


"Hhm? Apa?" tanya Ayaneru tak percaya.


"Hhm. Lihatlah ..." kini Reo mulai memperlihatkan sesuatu di ponselnya.


Seperti mendapatkan serangan skak mat, kini Ayaneru mulai kehabisan kata saat Reo memperlihatkan sebuah foto yang baru saja dikirim oleh Yora yang memperlihatkan jika Leon dam Leona sudah tertidur cukup pulas di kamar Yora.


"Hehe ... tumben sekali ..." Ayaneru nyengir.


"Sudahlah, Neru. Apa salahnya kita menghabiskan malam bersama? Anggap saja kita temu kangen. Aku akan membuatkan puding untukmu deh ..." ucap Reo yang kini mulai memasukkan beberapa angka pasword pada sebuah kotak berwarna lebiruan di samping pintu kamar apartemennya.


BIIPP ...


Reo mulai memasuki apartemennya, namun Ayaneru masih saja berdiri mematung di luar karena masih merasa ragu-ragu.


"Mau sampai kapan kamu mau berdiri disitu, Sayang?" ucap Reo dari dalam ruangan sedikit mengeraskan suaranya.


Angan Ayaneru mulai buyar, lalu dia mulai menghela nafas panjang dan segera menyusul Reo.


Ayaneru mengamati apartemen ini dan terlihat begitu takjub. Terlihat begitu rapi, bersih, dan harum. Sangat mencerminkan diri Reo yang yang begitu metroseksual.


Rapi dan harum sekali. Sangat berbeda dengan rumahku. Haha ... meskipun rumahku rapi, tapi masih jauh kalah rapi dengan apartemen Reo. Malu sekali ... aku kalah dari seorang pria yang masih hidup sendiri.


Batin Ayaneru masih mengamati beberapa tempat di ruangan ini. Dan kali ini dia mulai mengambil sebuah figura kecil yang ada di atas meja. Terlihat seorang pemuda yang masih mengenakan jas almamater dari sebuah universitas menatap dingin ke arah kamera dengam senyum smirk-nya.


"Gunakan saja apartemen ini sesukamu. Jika mau mandi, mandi saja. Ada pakaian ganti wanita kok. Aku akan memasak sesuatu dulu." ucap Reo yang kini mulai melepaskan coatnya dan menggantungnya di penggantungan.


Memasak? Artinya ... dia akan memasak makanan enak seperti saat itu. Wahh ... membayangkannya saja sudah membuatku merasa lapar.


Batin Ayaneru mulai tersenyum tipisembayangkan masakan Reo yang menurutnya sangat lezat itu.


Eh tapi ... Reo tadi mengatakan ada pakaian ganti wanita? Milik siapa? Bukankah selama ini dia tinggal sendirian? Jangan-jangan ... itu adalah milik Maria? Atau ...


Batin Ayaneru lagi malah berpikir kemana-mana.


"Apa yang sedang kamu pikirkan saat ini, Sayang? Jangan terlalu sering berpikiran yang tidak-tidak. Ungkapkan saja semua yang mengganjal di hatimu. Tidak baik memendamnya sendiri seperti itu." kali ini Reo sudah mulai melepas dasi dan mulai membuka kemejanya, hingga tubuhnya yang begitu atletis mulai terlihat oleh Ayaneru.


"Aku ... aku akan mandi dulu." ucap Ayaneru menjadi salah tingkah dengan wajah yang sudah bersemu merah karena melihat pemandangan menakjubkan itu.


Mungkin saja menurut Ayaneru, pemandangan itu adalah pemandangan terindah melebihi pemandangan apapun yang ada di dunia ini. Pemandangan yang selalu saja menggetarkan hatinya.


Di bawah gemericik air shower yang hangat itu Ayaneru bergumam dan malah terbayang-bayang Reo dan tubuh atletisnya.


"NERU!! STOP IT!!" Neru memekik karena kesal dengan dirinya sendiri.


"Kau baik-baik saja? Ada apa? Apa yang terjadi di dalam?" tak lama mulai terdengar suara Reo yang berada di luar kamar mandi.


"Ahh ... i-iya ... aku baik-baik saja! Dan sebentar lagi aku akan selesai kok!" balas Ayaneru dengan cepat.


Tak ada jawaban lagi dari Reo. Sementara Ayaneru segera melanjutkan kembali ritual mandinya.


Sebuah T-shirt berwarna putih dan celana santai pendek berwarna putih mulai dikenakan oleh Ayaneru. Reo terlihat sedang menyiapkan makan malam di ruang makan.


"Whoaa ... cepat sekali kamu memasak. Padahal baru aku tinggal mandi, namun kamu sudah memasak beberapa makanan ini. Jangan-jangan kamu memesan di sebuah restoran ya?" selidik Ayaneru memicingkan sepasang matanya mencurigai Reo.


"Aku memasaknya. Dan apa kamu tidak sadar berapa lama kamu mandi di dalam, Neru? Dua jam. Kamu sudah menghabiskan waktu 2 jam di dalam kamar mandi!" ucap Reo yang mulai melepaskan celemeknya dan mendekati Ayaneru.


"Hehe ... aku bahkan tidak menyadarinya berapa lama aku mandi." sahut Ayaneru terdengar begitu konyol. Padahal sebenarnya dia terlalu asyik dengan angan konyolnya saat mandi.


"Baiklah. Kamu makanlah dulu. Aku akan mandi sebentar ..."


"Kita makan saja bersama!"


"Sebenarnya sebelum pulang, aku sudah makan di kantor. Jadi ini semua untukmu."


"Apa? Sebanyak ini?"


"Makan yang kamu sukai saja." Reo mengusap lembut kepala Ayaneru dengan senyum hangatnya lalu segera meninggalkan Ayaneru.


Aroma masakan Reo begitu menggoda saliva, apalagi Reo menyajikannya dengan penuh seni. Benar-benar seperti sajian makanan sebuah restoran.


Dengan sangat bersemangat, Ayaneru mulai duduk di salah satu kursi empuk itu dan mulai menikmati makan malamnya.


Baru menikmati sesuap beef teriyaki-nya saja sudah membuat Ayaneru membelalakkan sepasang matanya, saking enaknya. Hingga akhirnya Ayaneru mulai menikmati masakan lainnya lagi. Bahkan tak sadar Ayaneru sudah hampir menghabiskan semuanya.


"Ahhh kenyang sekali! Masakan Reo memang sangat enak. Apa jangan-jangan dia adalah seorang koki ya. Masakanku bahkan akan kalah jika ditandingkan dengan masakannya." gumam Ayaneru bersandar di kursinya sambil memegangi perutnya.


"Wah kamu sangat menyukai masakanku rupanya ya?" tiba-tibsa saja suara maskulin yang selalu menggetarkan hati setiap wanita yang mendengarnya, kini mulai terdengar tepat beberapa meter di belakang Ayaneru.


"Hehe iya. Aku mengakui jika masakanmu memang sangat enak! Terima kasih ya, Reo." ucap Ayaneru tulus dan begitu berbinar.


Ayaneru mulai berbalik untuk menatap Reo, namun betapa terkejutnya ketika dia malah melihat sebuah pemandangan yang menggoyahkan hatinya. Bahkan hanya untuk menelan salivanya sendiri saja seakan begitu sulit.


Terlihat Reo sudah berdiri dengan gagahnya dan hanya menggunakan sebuah handuk yang melilit menutupi tubuh bagian bawahnya saja. Sekatan-sekatan nyata 6 petakan itu terlihat begitu indah hingga membuat Ayaneru membeku seketika.