
Usai membersihkan dirinya, Reo mulai membuatkan puding sesuai dengan pemintaan dari gadis kecilnya.
Rasa lelah dan kurang sehat itu diabaikan oleh Reo demi untuk memenuhi permintaan dari gadis kecilnya yang tentunya sangat disayanginya. Dan Reo juga tak ingin membuat gadis kecilnya kecewa.
Namun pendinginan puding rupanya tidak cukup instant dan memerlukan waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya Leona malah tertidur sebelum menikmati puding buatan dari Reo. Bahkan Leon juga sudah tertidur begitu saja saat mereka sedang menonton TV bersama.
"Aku akan memindahkan mereka ke dalam." ucap Reo mulai memindahkan Leon dan Leona ke dalam kamarnya.
Sementara Ayaneru mulai menyimpan sebagian puding itu ke dalam lemari pendingin. Dan menyisakan sebagian untuk Reo.
Setelah beberapa saat Reo mulai kembali ke ruangan tengah dan kembali bersama Ayaneru yang masih menonton sebuah drama romance.
"Kamu belum mengantuk, Neru?" tanya Reo mulai meraih sekotak puding buatannya.
"Belum kok. Tadi sebelum pulang aku malah minum kopi. Ughhh ... aku salah memilih minuman." ucap Ayaneru menggerutu.
Reo mengulum senyum dan mulai mengambil sepotong puding berwarna kekuningan itu. Dan tiba-tiba saja Reo malah berusaha untuk menyuapi Ayaneru.
"Ayo, Sayang ... buka mulutmu ..." ucap Reo sambil menyodorkan sepotong puding itu untuk Ayaneru.
"Uhm ... aku bisa sendiri kok." tolak Ayaneru kikuk dan berusaha untuk mengambil alih sekotak puding itu dari Reo.
Namun rupanya Reo malah sengaja menjauhkannya dari Ayaneru dan masih kekeh ingin menyuapi Ayaneru. Entah sedang kesambet apa hingga tiba-tiba saja Reo ingin bersikap manis dan romantis kepada Ayaneru.
"Aku akan menyuapimu ... bersikaplah sedikit lebih manis saja di hadapanku, Neru ..." ucap Reo menatap Ayaneru memohon.
Akhirnya mau tak mau Ayaneru mulai membuka mulutnya untuk menerima sesuap puding itu dari Reo.
"Sejak kapan kamu suka memasak dan membuat puding? Semua masakanmu juga sangat lezat!" ucap Ayaneru dengan jujur.
Reo tersenyum tipis dan masih terus menyuapi Ayaneru, "Sejak aku berusia 5 tahun. Namun aku sangat jarang memasak lagi semenjak aku mulai remaja. Dan aku hanya akan melakukannya jika aku sedang merindukan seseorang."
"Seseorang?" ucap Ayaneru dengan kening berkerut menatap Reo.
"Hhm. Seseorang yang pernah aku jumpai di masa lalu. Lebih tepatnya saat aku masih kecil." jawab Reo tersenyum hangat menatap puding itu, seolah sedang membayangkan seseorang yang dia anggap spesial itu.
"Maria?" ucap Ayaneru berusaha untuk menebak.
"Apa? Tentu saja bukan, Neru. Aku bahkan baru mengenal Maria saat aku duduk di bangku kuliah." jawab Reo menyangkal tegas.
"Lalu?"
"Seorang gadis kecil yang pernah aku temui di masa lalu ..."
Oh, ternyata dia pernah menyukai gadis lain sebelum dia berpacaran dengan Maria ya? Hhm ... itu sangat wajar sih. Apalagi dia sangat sempurna. Tampan dan kaya. Pastinya bukan hanya ada satu atau dua orang wanita saja yang pernah dekat dengannya.
Batin Ayaneru tak sadar mulai terlihat murung setelah mendengar sedikit pengakuan dari Reo.
Belum sempat terjadi perbincangan diantara mereka lagi, kini tiba-tiba saja sekotak puding itu terjatuh dari tangan Reo dan Reo mulai menyandarkan kepalanya pada bahu Ayaneru.
PRAANGG ...
Ayaneru seketika merasa begitu terkejut dan juga bingung akan sikap dari Reo. Namun Ayaneru hanya diam saja dan masih menunggu apa yang sebenarnya ingin dilakuka oleh Reo kepadanya.
"Ehm ... Reo!! Kamu kenapa? Apa yang terjadi padamu? Mengapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Ayaneru akhirnya.
Hening. Tak ada jawaban sama sekali. Hingga akhirnya Ayaneru memberanikan diri untuk sedikit menepuk bahu Reo. Namun tetap saja Reo tidak menjawab ataupun bergerak.
Tanpa sengaja Ayaneru malah menyentuh sisi samping wajah Reo dan juga leher dan telinga Reo. Betapa terkejutnya Ayaneru ketika menyadari jika saat ini Reo sedang demam. Tubuhnya sudah panas sekali saai ini.
"Re-Reo ..." pekik Ayaneru seketika menjadi panik.
Ayaneru segera membaringkan tubuh Reo di atas sofa dan mulai mengambilkan sebuah selimut tipis untuknya. Ayaneru juga segera menyiapkan air hangat untuk mengompres Reo.
Dengan begitu telaten Ayaneru melakukan semua itu. Namun Reo masih saja belum terbangun. Tubuhnya menggigil dan keningnya berkerut, seolah sedang mengalami sebuah mimpi buruk.
Pria dingin dan keras seperti Reo rupanya juga bisa sakit ya? Sungguh aku sangat tidak menyangka. Padahal dia sedang merasa kurang sehat, namun dia malah masak untuk kami. Huft ... mengapa tidak mengatakannya dengan jujur saja jika memang merasa kurang sehat? Pasti aku akan membantunya tadi. Jika seperti ini malah membuatku seperti wanita yang tidak punya hati saja.
Batin Ayaneru terlihat murung dan mulai mencelupkan sebuah handuk kecil ke dalam sebuah baskom yang sudah berisi dengan air hangat. Lalu Ayaneru mulai memerasnya dan meletakkan kembali pada kening Reo.
Berulangkali Ayaneru melakukan hal yang sama ketika handuk itu sudah tidak terasa hangat lagi. Hingga akhirnya Ayaneru malah tertidur dalam posisi terduduk dan menyandarkan kepalanya di atas dimana Reo berbaring saat ini.
.
.
.
.
.
Saat pukul 2 AM, perlahan Reo mulai membuka sepasang matanya, hingga sepasang pupil kebiruan itu mulai terlihat kembali.
"Apa yang sudah terjadi?" gumam Reo berusaha untuk mengingat sesuatu dan mengamati sekitarnya.
Saat Reo mulai duduk, handuk kecil yang pada awalnya masih berada di keningnya kini terjutuh di atas pangkuannya. Reo juga mulai mendapati Ayaneru yang masih tertidur dengan posisi terduduk saat kelelahan menjaga Reo.
"Neru ... kamu sudah merawatku hingga tertidur seperti itu ..." gumam Reo lirih dan menatap Ayaneru dengan rasa bersalah.
Kini Reo yang sudah sedikit pulih mulai bangkit dan menggendong depan Ayaneru lalu memindahkannya di dalam kamarnya. Reo mulai menyelimuti Ayaneru setelah membaringkannyanya di atas pembaringan berukuran medium itu.
"Kamu selalu saja berbuat baik dan mempedulikan orang lain. Hingga kamu tak pernah memikirkan dirimu sendiri. Kamu tak pernah memikirkan kebahagiaanmu sendiri. Kamu rela meninggalkan Jepang dan menanggung semuanya seorang diri hanya karena tak ingin mengecewakanku. Kamu bahkan mau menikah denganku hanya karena sebatas ingin membahagiakan Leon dan Leona saja. Aku berjanji padamu, Neru ... aku akan berusaha untuk selalu membuatmu bahagia."
Ucap Reo lirih sambil menatap dalam Ayaneru, dan kembali membenarkan selimut Ayaneru.
"Tidurlah dengan nyenyak dan mimpi indah ..." imbuh Reo lirih dan mengecup lembut kening Ayaneru.
Disaat Reo mulai mundur kembali, rupanya Ayaneru malah menarik tangan Reo di luar kesadarannya. Hingga akhirnya Reo mulai tidur di samping Ayaneru.
Cukup lama Reo menatap wajah ayu itu dengan posisi tidur miring, hingga akhirnya Reo mulai tertidur kembali karena badannya masih sedikit merasa kurang sehat.
...🍁🍁🍁...