
Leona dan Leona mulai mendekati Ayaneru dan Reo yang masih asyik bermain air di tepian pantai.
"Ma, Pa ..." ucap Leona mulai memasang ekpresi lelah dan mengantuk.
"Ya, Sayang. Ada apa?" Ayaneru mulai menghentikan serangan airnya untuk Reo dan beralih menatap Leona.
"Sepertinya aku sudah lelah dan mengantuk sekali. Bolehkah aku dan kak Leon kembali ke resort saja, Ma? Kami akan tidur siang dulu ... hoam ..." ucap Leona sambil menguap.
"Oh. Baiklah. Mama akan mengantar dan menemani kalian. Ayo, Sayang!" Ayaneru segera mendekati Leon dan Leona.
"Oh tidak perlu, Mama!" ucap Leon dengan cepat.
Namun Leon yang tidak sepandai Leona saat berakting, tentunya malah membuat Ayaneru merasa curiga dan merasa aneh.
"Kenapa, Leon sayang? Mengapa malah melarang mama untuk mengantar dan menemani kalian?" tanya Ayaneru tidak mengerti.
"Uhm ... maksud kak Leon bukan seperti itu, Ma. Tapi ... kami akan kembali bersama baby sitter dan pengawal saja. Mama bersama papa disini saja melanjutkan bulan ... uhm ... maksudku adalah mama temani papa saja. Hehe ... ya sudah kami kembali dulu ya, Ma. Dahh, Mama ... dah, Papa ..." Leona segera menarik tangan Leon untuk meninggalkan pantai Waikiki.
Reo segera memberikan titahnya untuk para pengawalnya dengan jemarinya untuk mengikuti kedua anak kembarnya dan untuk menjaga mereka.
Ayaneru masih saja menatap kepergian Leon dan Leona dengan wajah yang sedikit murung karena penolakan dari kedua buah hatinya.
Namun Reo segera membuyarkan angan Ayaneru dengan serangan airnya yang kali ini membuat rambut dan pakaian sisi samping Ayaneru menjadi basah.
"Ahhh ..." Ayaneru reflek memekik dan mulai melindungin dirinya dengan tangannya agar serangan dari Reo tidak mengenai wajahnya.
"Jika kamu terus saja melamun dan tidak fokus, maka kamu akan kalah dalam pertempuran air ini!" seru Reo sambil menyerang kembali dengan air pantai yang begitu jernih itu.
"Aku tidak akan kalah darimu ..." kali ini Ayaneru mulai membalas Reo dengan mencipratkan air laut itu ke arah Reo, sehingga terjadilah perang air itu antara kedua orang dewasa yang sedang dimabuk cinta itu.
.
.
.
.
.
"Putri tidur, tolong jangan menciprati kakak seperti itu dengan air hujan. Air hujan ini akan membasahi buku sketsa milik kakak, dan gambar pantai Waikiki ini akan rusak nanti." ucap Reo kecil yang saat ini masih berteduh di dalam sebuah tempat telpon umum.
Karena saat itu sedang turun hujan yang cukup lebat, dan mereka berdua sedang berteduh bersama. Namun Ayaneru kecil malah membuka pintu ruangan telpon umum itu dan sesekali menengadahkan tangannya keluar untuk bermain dengan air hujan. Lalu dengan keisengannya Ayaneru malah mencipratkannya ke arah Reo.
"Jika gambarnya rusak, maka kakak bisa menggambarnya lagi, saat kita datang bersama saat melihat pantai Waikiki nanti. Hehe ..."
Ayaneru tertawa kecil dan kali ini malah dengan sengaja menarik tangan Reo hingga kini mereka malah bermandikan dengan air hujan bersama-sama. Dan sebenarnya Ayaneru kecil saat itu memang sengaja melakukannya untuk menghibur Reo.
Reo kecil yang pada awalnya merasa tak terbiasa akan hal itu, kini mulai menikmatinya. Bermain air disaat hujan turun rupanya tidak terlalu buruk. Malah sangat menyenangkan dan membuat hatinya merasa lebih tenang dan lega.
Bahkan bermandikan di bawah air hujan bisa menutupi kesedihannya saat itu, yang sedang begitu kalut dan gelisah. Bahkan bermain di bawah hujan bisa menyamarkan lukanya, ketika air matanya turun membasahi pipinya saat itu.
Kedua anak kecil itu begitu menikmati kebahagiaan yang begitu sederhana itu. Dan Reo tak pernah melupakan saat-saat itu. Gadis kecil yang mampu menghiburnya disaat dia sedang bersedih.
Kedua anak kecil yang begitu manis yang pernah bermain bersama di bawah air hujan saat itu, kini sedang bermain air di pantai Waikiki. Hingga membuat semua pakaian dan tubuh mereka menjadi basah.
Tawa bahagia menyelimuti dan membersamai mereka. Bahkan sesekali Reo juga menggendong depan Ayaneru di dalam genangan air pantai kebiruan itu.
Setelah merasa puas bermain air, mereka berganti pakaian dan duduk di tepian pantai. Seperangkat alat lukis sudah berada di hadapan Reo. Dan kali ini Reo mulai melukiskan keindahan cakrawala yang terbentang di hadapannya.
Pasir putih, air laut kebiruan yang begitu bening, langit cerah yang begitu indah ... semua itu Reo tuangkan dalam kanvas putih itu, seperti apa yang pernah diucapkan Ayaneru kecil belasan tahun yang lalu.
"Sayang, aku sudah memenuhi keinginanmu di masa lalu. Aku sudah melukis kembali pantai Waikiki saat kita mendatanginya bersama." ucap Reo yang sudah menyelesaiakan lukisannya hanya dalam hitungan menit saja.
Reo juga memiringkan wajahnya untuk menatap wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya itu. Rasanya tak pernah bosan untuk menatap wanitanya. Bahkan Reo tak pernah ingin berpisah dengannya meskipun hanya satu detik saja.
"Hhm. Ini cantik sekali!" ucap Ayaneru merasa takjub akan lukisan Reo. "Kemampuanmu sangat meningkat, bahkan lukisan ini terlihat begitu hidup." imbuh Ayaneru memuji dengan tulus.
"Apa kamu ingin aku lukis juga, Sayang?" ucap Reo tiba-tiba memiliki ide untuk melukis istrinya.
"Eh? Tidak perlu ... melukis pasti sangat membutuhkan konsentrasi penuh. Dan tempat ini sebenarnya terlalu ramai. Pasti itu tidak akan mudah untuk dilakukan." tolak Ayaneru karena merasa tidak enak dan malah akan merepotkan Reo.
"Jadi kamu ingin aku melukismu di tempat yang sepi? Hhm ... bagaimana jika aku melukismu saat di kamar kita saja?" ucap Reo malah menggoda Ayaneru.
"Tid-tidak ..." dengan gugup Ayaneru reflek berdiri dan mengibaskan kedua tangannya dengan wajah yang sudah bersemu merah. "Maksudku bukan seperti itu ..."
Reo malah tertawa kecil dan menarik jemari Ayaneru hingga membuat Ayaneru terduduk di pangkuannya menghadap kanvas itu.
"Bagaimana jika aku mengajarimu melukis saja, Sayang?" ucap Reo mengusulkan dan semakin mempererat tangan kirinya yang masih melingkar pada perut Ayaneru.
"Emm ... ba-baiklah ..." sahut Ayaneru merasa gugup.
Reo mulai menjentikkan jemarinya untuk memberikan perintah untuk anak buahnya. Salah satu pengawalnya kini mulai mendekat dan segera menggantikan dengan kanvas kosong agar tuannya bisa melukis kembali.
"Pegang kuasnya, Sayang ..." perintah Reo dengan hangat.
Ayaneru menurut dan mengambil sebuah kuas kecil yamg berada di hadapannya. Lalu Reo juga mulai memegang tangan Ayaneru dan menggerakkannya untuk mulai melukiskan sesuatu.
"Selalu dasari kanvas sebelum dilukis dengan menggunakan cat dasar yang selaras dengan lukisan yang akan dilukis." ucap Reo sambil menggerakkan tangan Ayaneru untuk melakukan sesuai apa yang telah dikatakan olehnya.
"Melukis di kanvas tidak sama dengan menggambar di atas kertas. Jadi pastikan teknik yang dilakukan adalah dengan menyapukan kuas, dan bukan dengan menggosoknya." imbuh Reo yang masih menyetir tangan Ayaneru menari-nari di atas kanvas itu.